BAB [12]

2424 Kata
"Hitung mundur dari sekarang bahwa detik demi detik ini akan berharga nantinya, yakinlah padaku." - Rekayla - *****      KEADAAN di ruang keluarga terasa begitu hening dan mencekam, aura disana terasa sesak bercampur gejolak amarah dan kecewa setiap individu yang ada. Sudah hampir 15 menit keheningan ini berlangsung, terhitung sejak Kayla datang dengan wajah bingung melihat keluarga besarnya berada disana semua dengan satu keluarga yang terlihat asing dimatanya. "Jadi?" Kayla akhirnya bersuara terlebih dahulu, gadis itu tidak suka dengan keheningan. Jangan lupa jika Kayla gadis yang pecicilan dan tidak suka terlalu lama dalam diam. "Ada yang bisa jelasin kenapa bunda sampai nangis? A'a? Papah?" Kayla menatap Kenrick dan Aideen satu persatu. Kayla sebenarnya bingung apa yang terjadi disini, kenapa semuanya berkumpul tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Biasanya kedua orang tuanya atau Aideen akan memberitahunya jika keluarga besar akan datang ke rumah, tapi ini untuk pertama kalinya Kayla merasa terkejut akan kehadiran banyak orang disekitarnya. "Kayla," Suara lembut dari Maya, ibu dari Liana membuat Kayla menoleh. "Ini kenapa nek? Mereka siapa?" tunjuk Kayla secara spontan kearah perempuan dihadapannya. Bisa Kayla perkirakan perempuan itu lebih tua darinya dan sepertinya seusia bundanya atau mungkin lebih muda. "Biar papah kamu jelasin semuanya," sahut Liana membuat Kayla makin bingung, otaknya berusaha berpikir keras dengan apa yang terjadi. Kenrick menghela nafasnya, jujur saja ini diluar apa yang dis pikirkan. Dia tidak tau akan sejauh ini melakukan kesalahan, bahkan melihat istrinya menangis pun membuat Kenrick merasakan sesak. Ini terlalu menyakitkan baginya, dia tidak akan kuat jika pada akhirnya harus melepaskan keluarganya begitu saja. "Maaf, maafkan saya atas kesalahan saya bersama Catherine. Kayla, ini Catherine Sekretaris papah---" "Dan calon istrinya juga, mamah tiri kamu," Sahutan dari Catherine tentu saja membuat Kayla membeku, matanya melebar tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Perempuan asing itu sungguh benar-benar memancing amarah Kayla. "Maksud anda apa? Bunda saya masih disini dan dia masih istri sah papah saya. Oh saya baru ingat, anda bukannya Sekretaris baru papah saya yang bekerja beberapa bulan terakhir kan?" ejek Kayla dengan wajahnya. "Kamu tidak tau yang sebenarnya karena kamu baru datang disini," ucap Catherine dengan tenang membuat Kayla terdiam. "Kayla," ucap Kenrick dengan lembut, matanya menatap anaknya itu yang beradu  p andang dengan miliknya. "Maafin papah, papah harus tanggung jawab dan nikahin dia-----karena kesalahan papah," ada jeda saat Kenrick mengatakan kalimat di akhir. Sungguh rasanya sangat sesak melihat wajah putrinya yang menatapnya dengan tanpa ekspresi, bahkan Kenrick tau bahwa semua yang ada disini sungguh kecewa dengan dirinya selain keluarga dari Catherine. "Apa yang papah lakuin?" suara Kayla terdengar bergetar, gadis itu tak mampu menahan sesak di dadanya. "Saya hamil," Bukan Kenrick yang menjawab melainkan Catherine, jawaban itu membuat seluruh tubuh Kayla melemas bahksn rasanya dia tidak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Rasanya terasa sakit. Mata Kayla sempat menatap bundanya yang berusaha kuat saat mendengaf jawaban Catherine. Semua ini terlalu gila. "Kenapa pah?" Kayla menatap Kenrick yang menatapnya dengan rasa bersalah. "Apa kurangnya bunda? Apa karena Kayla sering buat ulah jadi papah kesel? Atau karena Kayla sama A'a ga bisa banggain papah? Apa keluarga kecil kita ini gak berarti apa-apa buat papah?" Pertanyaan demi pertanyaan Kayla mampu membuat semua orang disana terdiam dan merasakan sesak saat suara gadis itu terdengar bergetar hebat dan sesekali tercekat karena menahan isak tangis yang ingin keluar. "Maafin papah, maaf," ucap Kenrick menunduk, air matanya juga ikut mengalir. Ini kesalahan paling bodoh dan tergila yang pernah dia lakukan, dia merusak rumah tangganya sendiri. Harusnya dia tidak pernah melakukan itu, harusnya dia mengerti keluarga kecilnya ini sangat berharga untuknya. Tapi kenapa? Kenpa Kenrick harus menghancurkan semuanya. Dia benar-benar membuat seluruh orang terluka, bahkan Kenrick yakin ayahnya yang sudah pergi lebih dahulu pasti merasa kecewa dengan dirinya. "Bunda, apa yang salah? Kenapa jadi gini bunda?" tangis Kayla akhirnya pecah. Tangisan yang mampu menggetarkan hati semuanya, tangisan pilu Kayla membuat Aideen yang berusaha mati-matian menahan air matanya dengan mengepal kuat tangannya menjadi runtuh. Laki-laki itu ikut menangis. Bahkan Aideen langsung memeluk adiknya dengan erat, dadanya terasa sesak saat Kayla terus memukul dadanya. Tidak terlalu kuat tapi Aideen tau serapuh apa Kayla sekarang. "Jadi bagaimana keputusannya?" suara ayah dari Liana membuat semuanya berfokus ke arah Rendra. Rendra tidak ingin membuat semuanya terlalu rumit, jika anak dan cucunya sudah hancur seperti ini tidak ada lagi yang bisa di pertahankan bukan? "Surat perceraian bisa Kenrick urus mulai besok agar sidang bisa segera dilaksanakan, keputusan tetap final bahwa Liana memilih untuk berpisah," ucap Rendra lagi. Kenrick menoleh kearah Liana yang memeluk kedua anaknya, bahkan wanita itu berusaha menenangkan Kayla yang hancur karena kesalahannya ini. Hati Kenrick benar-benar hancur, tidak ada kesempatan lagi untuk mempertahankan semuanya. "Hati Kayla sakit bunda, hati Kayla sakit," rintih Kayla menatap Liana dengan wajah sembapnya, "Kenapa keluarga kita jadi hancur kayak gini?" "Bunda tau, maafin bunda sayang. Maafin bunda," isak tangis Liana juga terdengar disana, wanita itu tidak kuat melihat putrinya yang menatap dengan penuh kecewa semuanya. Jika ini semua hukuman bagi Kayla karena sering membuat ulah, maka Kayla berjanji tidak akan pernah berulah lagi dan menjadi sosok yang bisa diatur demi keluarganya. Kayla tidak ingin adanya perceraian di keluarganya, Kayla membenci itu. Kayla pasti akan merasa kehilangan nantinya, Kayla tidak akan pernah bisa lagi merasa keluarganya akan lengkap. Kayla menyayangi keluarganya tapi jika berakhir begini, apa yang harus Kayla lakukan? *****       Rey menatap pantulan wajahnya di cermin kamar miliknya, laki-laki itu baru saja selesai mandi. Rencananya dia akan pergi ke rumah Kayla setelah ini. Laki-laki itu segera turun untuk sarapan bersama mamahnya, kegiatan rutin di pagi hari. "Tuh pah, baru turun anaknya," Rey menoleh ke arah meja makan, disana mamahnya tidak seorang diri. Arlan, sang papah sudah duduk dengan santainya di meja makan membuat Rey hanya menatap sesaat. "Pagi Rey," sapa hangat Arlan pada putra semata wayangnya, anak tunggalnya sendiri. Rey memang tidak memiliki saudara, dia hanya anak tunggal di keluarga Maheswara. "Pagi pah, mah," sapa Rey dengan wajah yang tetap datar tanpa ekspresi sama sekali, seperti biasanya seorang Rey dimata banyak orang. "Ini buat kamu," Bella menaruh sarapan pagi Rey lalu duduk sebelah suaminya. "Makasih mah," ucap Rey menatap lembut Bella yang dibalas senyuman oleh Bella. Acara sarapan pagi itu terlihat tenang, sesekali Arlan bertanya tentang sekolah Rey yang sebentar lagi akan memasuki Ujian Nasional. Ya, Rey akan segera lulus tinggal menghitung bulan. "Gimana persiapan ujian kamu?" tanya Arlan menatap sang anak, "Udah semua," jawab Rey seadanya. "Kapan ujian?" tanya Arlan kembali, "bulan depan," jawab Rey, laki-laki itu menghabiskan sarapannya dengan cepat walaupun sang papah mengajaknya berbicara. Arlan kembali mengangguk, "Papah mau ngasih tau sesuatu ke kamu," ucapnya membuat Rey menatap Arlan dengan pandangan bertanya. Pikiran Rey hanya satu, pasti tidak jauh dari bisnis yang akan dibicarakan. Rey sudah tau tabiat papahnya itu, papahnya sangat gencar meminta Rey mengambil perkuliahan dengan jurusan bisnis nantinya. Sebagai anak satu-satunya, mau tidak mau Rey harus melanjutkan perusahaan Arlan walaupun laki-laki itu tidak tertarik sama sekali dengan bidang bisnis. Laki-laki itu lebih suka seni fotografi dan juga sesuatu yang berbau kedokteran. Rey ingin mengambil jurusan kedokteran nantinya, karena laki-laki itu memang tertarik di bidang tersebut dibandingkan bisnis. "Bisnis lagi?" tanya Rey namun dibalas gelengan oleh Arlan, "Ini masalah janji papah dengan teman papah dulu, papah mau jodohin kamu sama anak perempuannya," Perkataan Arlan sontak saja membuat Rey dan Bella terkejut, Bella sendiri tidak tahu menahu soal ini. Suaminya tidak pernah bercerita tentang janji dengan temannta itu padanya. "Pah, janji apa? Kok mamah gak tau?" Bella menatap suaminya dengan pandangan bingung. "Janji lama mah, papah punya teman namanya Fathan. Kami pernah berjanji ingin menikahkan anak kami besar nanti jika papah punya anak laki-laki atau perempuan dan sebaliknya," ucap Arlan menjelaskan. "Gak," penolakan Rey tentu saja membuat Arlan menatapnya tanpa ekspresi, "Apa maksud kamu? Kamu mau nolak permintaan papah lagi?" tanya Arlan dengan nada tegasnya. "Pah, ngomongnya pelan aja ah. Rey, udah punya pacar, pacarnya baik banget. Itu kenapa alasan Rey nolak, mamah juga udah liat pacarnya Rey," ucap Bella berusaha menenangkan suaminya itu. Arlan berdecih sinis, "Sejak kapan papah merestui kamu berpacaran dengan gadis itu?" Rey yang mendengarnya tentu saja tidak terima, "Maksud papah apa? Papah belum kenal sama dia," bantah Rey menatap tajam Arlan. "Menurut kamu papah gak tau kamu berpacaran dengan anak dari keluarga Radmilo itu? Anak dari pesaing bisnis papah sendiri," ucap Arlan membuat Bella kembali menatap suaminya. "Jangan kamu pikir papah berada jauh di negeri orang tapi tidak memantau kamu, papah selalu memantau pergerakan kamu. Jadi, putuskan dia sekarang," ucap Arlan. "Atas dasar apa papah minta aku putusin dia? Hanya karena orang tuanya musuh papah dalam dunia bisnis jadi papah gak merestui? Jangan terlalu picik pah," ucap Rey dengan wajah datarnys, ekspresinya dingin. "Terserah kamu, tapi kamu tetap akan papah jodohkan dengan anak teman papah itu. Selesai ujian kalian akan segera menikah!" Ucapan mutlak dari Arlan membuat Rey mengepalkan tangannya dengan kuat, Bella yang mendengar juga tak kalah terkejut. Kenapa suaminya tiba-tiba mengambil keputusan secepat ini? "Gak! Sekali aku bilang gak tetap gak! Kayla lebih baik daripada anak teman papah itu. Maaf, Rey menolak permintaan papah," ucap Rey dengan tegasnya. "Rey!" "Kalo papah mau aku terjun ke dunia bisnis kuliah nanti, aku lakuin asal bukan nikah sama orang yang gak aku kenal sama sekali," ucap Rey final. Arlan tidak akan semudah itu mendapat persetujuan anaknya, Arlan sudah percaya itu. Jauh-jauh hari dia sudah menyiapkan semuanya dengan matang, pria itu tidak akan sudi anaknya bersanding dengan anak dari musuh pembisnisnya. Keluarga Radmilo adalah keluarga yang masuk daftar blacklist dari Arlan karena permasalahannya dulu, siapa yang tau juga bahwa Kenrick juga teman Arlan dulunya. "Terima gak terima, semua itu akan tetap berjalan, Rey. Mereka akan datang lusa, jadi persiapkan diri dengan baik," Arlan segera berdiri dari kursinya dan pergi darisana, cukup sekali Rey menolak permintaannya tapi untuk kali ini Arlan tidak menerima penolakan sama sekali. "Udah ya Rey, papah kamu cuma asal ngomong aja. Nanti mamah bicarain baik-baik lagi ya sayang," ucap Bella menenangkan anaknya dengan mengusap pelan kepalan tangan milik Rey. "Bilang sama papah, Rey gak akan semudah itu akhirin hubungan Rey sama Kayla. Rey hanya untuk Kayla dan sebaliknya pun sama, Rey cuma mau nikah sama Kayla bukan siapapun," Ucapan dingin Rey membuat Bella terdiam, kepergian Rey pun hanya mampu dipandang Bella saja tanpa mau mencegah. Rey segera membawa mobilnya pergi jauh dari rumahnya, rasanya Arlan datang ke rumah selalu membawa info yang tidak mengenakkan baginya. Papahnya itu selelau memikirkan dirinya sendiri dengan menumbalkan anaknya. Walaupun terpisah jauh, Rey paham akan karakter Arlan. Pria itu terlalu ambisius dengan apapun berbau bisnis dan juga sangat kompeten dalam bekerja. Rey melirik layar ponselnya, berharap ada satu notifikasi pesan atau telepon dari Kayla karena sejak kemaren malam gadis itu tidak dapat dihubungi sama sekali. Awalnya Rey hanya ingin mengabari gadis itu jika dia sudah pulang ke rumah, namun tidak ada tanggapan sama sekali. Tadi pagi saat bangun juga Rey sempat mengecek ponselnya namun tetap tidak ada tanda-tanda pesannya dibalas bahkan dibaca pun tidak. Sebenarnya ada apa dengan kekasihnya itu? Apa ponselnya mati dan di charger semalaman atau karena gadis itu sakit? Sehingga tidak memegang ponsel. Memikirkan Kayla yang bisa saja sakit membuat Rey segera menekan pedal gas, mempercepat mobilnya agar segera sampai di rumah Kayla. Mobil Rey sudah berhenti tepat di depan rumah milik Kayla, keadaan rumah gadis itu cukup sepi, padahal tadi malam terlihat sangat penuh. Mata Rey menangkap siluet Aster dan Letta yang berdiri di depan kolam ikan, dua gadis itu seperti sibuk memberi makan ikan dengan Aster yang terlihat mencak-mencak tidak jelas. "Ini kedikitan anjir, gimana mau pads gede ikannya," gerutu Aster ingin sekali menjambak rambut Letta karena frustasi. "Kita harus sesuai takaran Aster, gak boleh banyak-banyak entar ikannya mabuk parah terus mati gimana? Entar kita disalahin ama Kayla," ucap Letta menjelaskan. Letta menuruti sesuai takaran di kemasan makanan ikan tersebut, Letta takut saja jika overdosis pemberian bisa menyebabkan ikan milik keluarga Kayla ini mati. "Ya tapi kaga sedikit gini juga anjir! Lo liat aja ini mah apaan kaga kenyang ikannya," seru Aster memperlihatkan makanan ikan diatas tangannya. "Udah Aster mah kebanyakan ngoceh mulu, kasian ikannya yang denger jadi takut terus stress gimana?!" pekik Letta mulai kesal. Rey yang berjalan mendekati keduanya, mendengar jelas perdebatan konyol mereka. Rey pun hanya mampu menghela nafas, Kayla dan dua anteknya ini memang tidak ada yang warasnya sama sekali. Selalu saja ada tingkah yang mereka lakukan, yang berhasil membuat orang yang melihatnya hanya bisa geleng kepala. "Astaghfirullah!" pekik Letta saat melihat Rey yang menatap dirinya dan Aster dengan tatapan datar. "Sejak kapan Rey datang? Kok udah berdiri disitu aja," celetuk Letta, "Daritadi," balas Rey seadanya. "Ngapa lo bahrudin pagi-pagi udah ngapel aja, masih pagi nih. Sono balik!" usir Aster dengan entengnya, "Ngaca lo!" balas Rey mengejek lalu masuk ke dalam rumah. Meninggalkan dua gadis tersebut, "Dasar sialan tuh cowok, belum tau aja kalo gue doain mereka kaga langgeng," dumel Aster kesal. "Ih Aster mah doanya, gak baik tau," ucap Letta memukul pelan bahu Aster. Rey sendiri sudah berada di dalam rumah Kayla, rumah gadis itu memang benar-benar sunyi padahal mobil dan motor berjejer rapi di garasi. "Eh ada siapa ini yang datang?" Suara seseorang membuat Rey menoleh, wanita berumur dengan kerutan di sudut matanya membuat Rey tersenyum sangat tipis. Dia masih menghargai orang yang jauh lebih tua darinya. "Pagi, saya Rey pacar Kayla," ucap Rey memperkenalkan diri dan bersalaman dengan Maya. "Ah pacar cucu saya, saya Maya nenek dari Kayla. Kamu bisa panggil saya Kayla," ucap Maya tersenyum lembut membuat Rey mengangguk. "Cari Kayla ya?" tanya Maya memastikan, "Iya nek, daritadi malam pesan saya gak dibalas terus saya telepon juga gak diangkat. Saya khawatir sama dia," ucap Rey menjelaskan. Maya yang mendengarnya hanya tersenyum, Maya dapat sekali menilai bahwa Rey adalah laki-laki yang sangat mencintai cucuknya. Terlihat dari sirat mata penuh kekhawatiran yang menatapnya. "Kayla baik-baik saja, dia baru saja bangun dan mungkin lagi mandi. Tunggu sebentar ya, oh iya udah sarapan?" tanya Maya membuat Rey mengangguk. "Udah nek," jawab Rey. Maya pun mengerti dan mempersilahkan Rey untuk duduk di ruang tamu sembari menunggu Kayla turun dari kamar miliknya. "Nenek," Panggilan dari Aideen membuat keduanya menoleh, Aideen yang keluar dari area belakang sedikit terkejut dengan kehadiran Rey di rumahnya "Nyari adek gue? Lagi mandi dia," ucap Aideen memberitau, "Iya," balas Rey singkat. Aideen menatap Maya, dia tadi ingin memberitahukan bahwa dia sudah memasangkan selang air untuk menyiram tanaman bunga di belakang. Maya tadi yang memintanya, karena wanita berumur itu ingin sekali menyiram tanaman di belakang rumah anaknya ini. "Bunda sama papah mana?" tanya Rey menatap Aideen meminta jawaban, "Lagi jalan keluar," alibi Aideen. Padahal nyatanya kedua orang tuanya itu sudah sibuk di pagi hari mengurus surat percerain mereka di Pengadilan Agama. "Kean!" Pekikan riang Kayla membuat Rey tersenyum lembut, laki-laki itu melihat Kayla yang baru saja turun dengan seidkit berlari lalu segers memeluk Rey dengan erat. Tidak memperdulikan kehadiran nenek dan A'anya sendiri. "Pagi sayang," sapa Rey lembut dan mencium kening gadis itu pelan, "Pagi," sahut Kayla lalu melepaskan pelukannya. "Dasar gak tau tempat," celetuk Aideen malas lalu pergi darisana disusul Maya yang ingin pergi ke belakang rumah. "Tumven pagi-pagi gini udah dateng, kenapa?" tanya Kayla duduk diikuti Rey, "Aku khawatir kamu gak balas pesan sama angkat telepon aku," jawab Rey. Kayla yang mendengarnya tersenyum lembut. Dia tidak ingin menceritakan semuanya dulu, Kayla butuh waktu untuk menceritakan semuanya kepada Rey. Kayla hanya tidak mau Rey menatapnya dengan kasihan lalu berusaha ikut membantu gadis itu, Kayla bisa bangkit sendiri. Dia hanya butuh waktu untuk menerima. Itu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN