Tok tok tok
"Bos, Flora di sini."
"Biarkan dia masuk."
Flora masuk ke ruang kerja Dominic saat ponselnya kebetulan berbunyi menandakan ada pesan baru yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Sambil berjalan, Flora langsung membuka pesan tersebut. Jasper mengiriminya foto mayat, beserta penjelasan bahwa dia telah menyelesaikan segalanya dan bersiap untuk pulang saat ini.
[Kerja bagus, Jasper.]
Flora dengan cepat membalas pesan itu lalu menyimpan ponselnya kembali ke kantung pakaiannya. Barulah setelah itu, pandangan Flora kembali fokus pada Dominic dengan Alexa yang entah bagaimana masih terjaga dan tengah duduk di sebelah pria itu.
"Bos....."
"Dia berhak tahu. Aku sudah memberi tahunya juga, kamu tidak perlu khawatir."
Flora langsung terdiam saat Dominic memberi tahunya bahwa Alexa tahu anaknya Vano tengah dicari oleh mafia yang berbahaya pada saat ini. Flora sebenarnya berpikir bahwa Alexa mungkin akan panik dan menganggu rencana bosnya jika wanita itu tahu kebenaran ini. Tapi tanpa diduga, Alexa bisa sangat tenang juga ketika dia mengangguk santai menanggapi ucapan dari suaminya itu.
Melihat gayanya yang tenang dan terlihat serius, Flora tiba-tiba diingatkan lagi pada fakta bahwa Alexa sebenarnya terbiasa dengan bahaya di masa lalu. Sifatnya yang benar-benar keibuan semenjak memiliki Vano tampaknya telah membuat Flora lupa bahwa Alexa memiliki pengalaman berada dalam bahaya lebih banyak dari siapa pun selama ini. Saat ini dia mungkin menyayangi anak dan suaminya lebih dari apa pun dan kadang berlebihan khawatir dalam berbagai hal. Tapi jika Alexa memang harus tenang ketika anaknya berada dalam bahaya, Alexa bisa melakukannya agar tidak menghancurkan rencana yang suaminya buat dengan susah payah belakangan ini.
"Jadi?"
Perhatian Flora teralih lagi saat Dominic menegurnya pelan. Flora mengangguk, sebelum memberikan laporan lengkapnya pada pasangan itu.
"Seperti dugaanmu Bos, beberapa orang Dimitri memang berjaga di sekitar lingkungan Freya untuk menangkap orang-orang yang mencurigakan di daerah tersebut. Tapi aku sudah berhasil mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu. Mengadu dombanya dengan kelompok Giovanni pasti akan mengalihkan perhatiannya untuk sementara waktu."
Karena Alexa ada di sini, Flora tidak ingin membuatnya terlalu jelas bahwa dia baru saja membunuh beberapa orang hanya demi rencana Dominic ini. Tapi dari kata-katanya saja, Flora tahu bahwa Dominic mengerti jelas apa yang dia maksud dengan itu. Dominic juga mengangguk setelah mendengar laporannya. "Jasper sudah melapor juga tentang hal itu," ujarnya untuk memberi tahu Flora.
"Lalu, aku pikir Freya tidak terlibat dalam insiden perampokan Vano, Bos. Saat aku memberi tahunya bahwa kita mengetahui segalanya tentang dia, gadis itu terkejut tapi bukan jenis keterkejutan yang membawa rasa takut di dalamnya. Freya juga tampaknya menjadi orang yang membawa Vano ke rumah sakit saat itu. Hidupnya saat ini sulit, tapi dia masih berusaha menolong Vano bahkan dalam kesulitannya itu."
Flora melanjutkan laporannya dan tidak ragu memuji Freya ketika dia memang harus memujinya. Semua orang sudah tahu bahwa baik Flora maupun Jasper sebenarnya sangat sayang pada Vano. Sekarang ketika dia tahu Freya memang menyelamatkan remaja itu sekalipun hidupnya sendiri susah, pandangan Flora terhadap Freya sebenarnya sudah naik beberapa tingkat.
Alexa juga tidak kalah senang begitu dia mendengar laporan itu. "Apa kubilang Dom. Freya itu anak yang baik," ujarnya dengan nada yang terdengar bangga. Dominic juga tampaknya sudah melepaskan kecurigaannya pada gadis itu. Flora tidak mungkin berbohong padanya hanya karena Alexa ikut mendengar laporannya saat ini. Freya benar-benar tidak berbahaya, dan tidak apa-apa bagi Vano untuk dekat dengan gadis itu.
"Freya itu, kamu bilang hidupnya sulit selama ini. Setelah melihatnya langsung, bagaimana sebenarnya dia hidup selama ini, Flora?"
Alexa bertanya karena dia sangat khawatir pada gadis manis itu. Karena Alexa harus membantu sang suami dalam pekerjaannya ketika Flora sibuk menjaga Vano, Alexa tidak memiliki waktu untuk ikut bersama Vano untuk menemui teman masa kecil anaknya tersebut.
Lagipula, Alexa tahu bahwa Dominic mengirim Flora untuk menemani Vano karena sekarang, Flora tampaknya lebih dapat diandalkan daripada dia yang sudah mulai berumur. Dominic butuh seseorang untuk melindungi anaknya, jika Vano berkunjung ke tempat se berbahaya itu.
Dominic memang sudah memberi tahunya bahwa Freya bekerja sebagai rentenir untuk membayar hutang ibunya selama ini. Tapi Alexa tetap tidak tahu, jenis kehidupan macam apa yang terus gadis itu jalani selama ini.
"Dia....... Hidup dalam lingkungan yang buruk saat ini. Rumahnya sempit, tidak memiliki banyak barang, dan tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Dia juga sepertinya belum makan selama beberapa waktu sebelum kami datang saat itu. Pakaiannya sudah sedikit sempit untuk anak seumurannya. Secara gadis besar, dia hidup dalam lingkungan yang buruk selama ini, Alexa."
Flora berhenti bicara, saat dia menambahkan ucapannya dengan suara tulus.
"Tapi bahkan jika sekelilingnya bukan tempat yang baik untuk tumbuh, Freya tampaknya berhasil mempertahankan kebiasaan baiknya hingga rumahnya sendiri selalu bersih dan tertata rapi sekalipun dia tinggal di apartemen yang bisa runtuh bahkan hanya karena goncangan gempa yang kecil. Dia gadis pekerja keras. Aku bisa tahu itu hanya dari usahanya yang bekerja sampai larut malam tanpa mengeluh sedikit pun."
Alexa terlihat terkejut mendengar bahwa kehidupan Freya ternyata separah itu selama ini. Dia selalu tahu bahwa kehidupan gadis itu sudah sangat menyedihkan di masa kecilnya. Alexa tidak mengerti kenapa setelah beranjak dewasa, hidup malah semakin keras menempa mental dan fisik gadis malang itu.
"Dom......."
Dominic tahu Alexa sangat khawatir pada keadaan dari gadis itu. Dominic mengusap kepala Alexa dengan lembut, jari-jarinya berusaha menghibur Alexa sekaligus menenangkan wanita itu saat dia ikut bicara untuk menenangkan istrinya itu.
"Kita tidak bisa membiarkannya kabur begitu saja dari tempat itu Sayang. Bahkan jika aku membayar hutang-hutangnya, aku tidak yakin bosnya itu mau melepaskan Freya begitu saja. Baginya, memeras Freya selamanya dengan bunga hutang yang semakin besar akan lebih bermanfaat daripada membiarkan seseorang membayar semua hutang-hutang gadis itu. Freya juga pasti sadar akan hal itu. Jadi aku sendiri sudah mencari jalan keluar lain untuk masalahnya Alexa."
Dominic menatap Flora, sehingga Flora langsung melanjutkan laporannya yang sempat tertunda.
"Aku yakin cepat atau lambat Freya akan setuju mencuri kontrak hutang yang dibuat oleh ibunya dengan bosnya setelah aku memberinya celah saat ini, Bos. Tidak ada untungnya bagi gadis itu untuk selamanya bekerja paksa hanya untuk membayar hutang-hutangnya yang tidak pernah habis. Apalagi Vano juga akan bertindak sebagai pendukung terbesarnya saat ini. Jika Freya memang anak yang baik, dia pasti akan setuju dengan rencana kita."
"Dengan hilangnya kontrak itu, bos Freya saat ini tidak akan bisa menahan Freya lebih lama lagi. Kita memang tidak bisa mengambil resiko dengan menyerang mereka secara langsung. Kita bukan penegak hukum, atau orang-orang seperti mereka. Kita hanya bisa membantu Freya untuk memulai hidup baru. Membuatnya menganggap bahwa kontrak itu tidak pernah ada sejak awal, dan membantu gadis itu bebas melakukan apa pun yang dia mau setelah itu."
Sambil tersenyum, Dominic ikut bersuara untuk menjelaskan maksud dari laporan Flora sebelumnya. Sudah mengerti dengan rencana suaminya, Alexa menghela nafas lega dan akhirnya bisa sedikit tenang kembali. Alexa memang tidak menyangka Dominic akan bertindak selicik ini. Tapi untuk melawan orang licik, sepertinya meraka memang harus berpikir lebih licik dan mengalahkan setiap skema yang dibuat oleh orang-orang itu.
"Dan Vano?" tanya Dominic lagi. Flora mengacungkan jempolnya. "Dia tidak tahu apa pun," jawabnya dengan lugas.
Mendengar jawaban Flora, Alexa sebenarnya merasa tidak enak harus menyimpan anaknya sendirian dalam kegelapan. Tapi mereka melakukannya demi kebaikan Vano sendiri. Vano mungkin cerdas, tapi lawannya kali ini adalah kelompok mafia yang tidak bisa dianggap santai. Baik Alexa maupun Dominic tidak ingin Vano sampai bertindak nekat, apalagi sampai membahayakan nyawanya sendiri selama prosesnya.
Alexa hanya bisa berharap Vano tidak akan menyadari apa pun, sampai mereka setidaknya bisa menyelesaikan masalah Freya dalam waktu dekat.
*****
"Vano!"
Vano yang semula tengah berjalan cepat langsung menoleh saat Ayden memanggil namanya dari kejauhan. Sebenarnya hari ini Vano berencana pulang cepat lagi agar dia bisa segera menuntaskan tugas-tugasnya dan mengunjungi Freya seperti biasanya. Tapi karena teman dekatnya yang memanggil, Vano mau tidak mau harus berhenti berjalan untuk menunggu Ayden menghampirinya dengan langkah cepat.
"Apa yang kamu lakukan beberapa hari ini? Aku hanya bisa melihat siluetmu terburu-buru masuk mobil beberapa hari ini," gerutu Ayden pelan.
Vano tersenyum saat dia ingat dia lupa memberi tahu Ayden bahwa dia telah menemukan Freya sejak seminggu yang lalu. Mereka bahkan sudah mulai akrab lagi sekarang. Walaupun Freya tetap menjadi Freya seperti sepuluh tahun yang lalu, dingin dan terkadang sulit untuk mengekspresikan dirinya sendiri.
"Aku telah menemukan Freya, Ayden."
Mata Ayden membola saat dia mendengar pengakuan bahagia dari Vano. Pria itu meraih lengan Vano, sebelum berbisik dengan nada bahagia pada pria itu.
"Kamu menemukan Freya?! Maksudku, Freya yang sama seperti Freya yang bermain dengan kita sepuluh tahun yang lalu?!"
Vano mengangguk untuk membalas pertanyaan bersemangat yang diajukan oleh Ayden. Karena pikirannya hanya tertuju pada Freya belakangan ini, Vano memang lupa memberi tahu Ayden mengenai berita ini. Mereka sudah bersama sejak ketiganya masih kecil, tentu Ayden juga akan senang mendengar berita bahagia ini.
"Apa Freya sudah tumbuh menjadi gadis cantik sekarang? Ah, tentu saja dia begitu. Di mana dia tinggal saat ini Vano? Aku ingin mengujunginya, yang lain juga pasti tidak sabar ingin menjunginya dan bertukar kabar setelah lama tidak bertemu."
Wajah Vano langsung berubah menyesal saat dia ingat Freya berkali-kali mengingatkannya untuk tidak pernah memberi tahu alamat rumahnya pada siapa pun. Hal itu dia lakukan bukan karena Freya malu dengan keadaan rumahnya. Tapi Vano sendiri sudah sadar, bahwa lingkungan tempat tinggal Freya terlalu berbahaya untuk teman-temannya yang tidak tahu apa pun.
Dia saja bisa datang hanya karena Flora menemaninya setiap saat dan memintanya melakukan penyamaran tiap kali mereka datang berkunjung. Dia sudah pernah dirampok di lingkungan itu sekali, Vano tidak ingin teman-temannya merasakan hal yang sama dengan apa yang dia alami.
"Freya selalu sibuk bekerja, Ayden. Aku saja hanya bisa datang ke rumahnya pada malam hari. Tapi, aku tetap akan menyampaikan bahwa kamu juga merindukannya. Di pertemuan anak-anak daycare bulan depan, aku mungkin bisa mengajaknya untuk datang dan mengambil libur untuk sehari saja."
Tatapan Ayden langsung berubah menggoda saat dia mendengar penjelasan Vano. "Menyimpan kekasihmu untuk dirimu sendiri huh?" ucapnya dengan nada bercanda. Tapi Vano tampaknya berpikiran lain ketika dia mendengar candaan itu. Wajahnya tiba-tiba memerah, saat dia langsung menyangkal ucapan Ayden dengan nada sedikit panik.
"Bu, bukan itu maksudku! Aku hanya-"
"Semua orang tahu bahwa Freya sejak dulu menempatkanmu di tempat yang spesial dibandingkan yang lain, dan kamu juga tampaknya melakukan hal yang sama. Tidak perlu malu, sekarang kita semua sudah dewasa dan memiliki kekasih yang dulunya teman baik bukan hal yang aneh lagi Vano."
"Kenapa wajahmu memerah, Vano?"
Vano langsung terlonjak saat Flora tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya dan menatap keduanya dengan wajah heran. Sebagai teman Vano, Ayden juga sudah terbiasa melihat Flora yang kadang muncul tiba-tiba seperti itu. Dia tersenyum, sebelum menyapa Flora dengan nada riang.
"Selamat siang, Bibi Flora!" ucapnya yang dibalas anggukan oleh wanita itu. "Selamat siang juga Ayden," balas Flora dengan nada sopan. Ayden sudah tahu bahwa Flora datang untuk menjemput Vano. Remaja itu tidak ingin menahan Vano lebih lama lagi saat dia segera ijin pergi pada keduanya. Ayden tidak lupa mengingatkan Vano untuk mengajak Freya datang di pertemuan anak-anak daycare berikutnya. Vano membalasnya dengan anggukan, sebelum perhatiannya fokus pada Flora yang masih menataphta dengan aneh.
"Aku baik-baik saja!"
Dari tatapan Flora, Vano sudah tahu apa yang ada di pikiran bibinya itu sebenarnya. Flora membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya, sebelum menuju mobil jemputan yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Jadi haruskah kita pulang cepat agar kamu bisa segera bertemu dengan Freya?" ujar Flora sambil berbalik untuk memasuki mobil. Wajah Vano semakin memerah ketika dia digoda oleh Flora. Remaja itu bergumam kecil, sebelum ikut masuk ke bagian belakang kursi penumpang mobil jemputannya.
To be continued