9. Hide and Seek

2324 Kata
Vano menatap tidak percaya deretan bangunan yang ada di depannya. Vano memang sudah masuk ke lingkungan ini dua minggu yang lalu. Tapi menatapnya dari dekat sekarang, Vano benar-benar terkejut melihat betapa kumuh lingkungan tempat tinggal Freya saat ini. Dulu lingkungan Vano sebelum bertemu dengan ayahnya memang bukan lingkungan orang-orang yang berada seperti rumahnya saat ini. Tapi semiskin apa pun Vano, dia tidak pernah tinggal di tempat yang terlihat seperti akan rubuh jika terkena angin seperti rumah-rumah yang berdiri di lingkungan itu saat ini. Beberapa rumah bahkan tidak memiliki pencahayaan yang cukup di malam yang gelap ini. Suasananya terlalu menyedihkan. Vano tidak pernah tahu, bahwa ada orang yang hidup sesusah ini di negaranya yang sudah maju. "Tuan Muda, ayo masuk." Flora membantu mengingatkan Vano saat remaja itu hanya terdiam di tengah jalan sambil menatap sekitar dengan wajah yang rumit. Dengan saran Vano, mereka memang berjalan untuk datang ke alamat Freya karena Vano tidak ingin kejadian perampokan yang dialaminya sampai terulang kembali. Vano dan Flora bahkan datang menggunakan masker dan pakaian sederhana, agar dia tidak terlalu mencolok di lingkungan berbahaya ini. Vano berpikir Flora hanya menurut pada sarannya dan mau menyamar begitu saja. Tapi sedikit yang remaja itu tahu, Flora melakukannya hanya karena dia mendapat laporan bahwa Dimitri tengah menargetkan siapa pun yang tampil mencurigakan di teretorinya akhir-akhir ini. Tapi walaupun mereka sudah berusaha berpenampilan sesederhana mungkin, Flora menyadari bahwa beberapa orang masih menatap mereka dengan tatapan menyelidik begitu keduanya berjalan di lingkungan kumuh itu. Mungkin karena suasana di sekitar sedang tegang, Flora ingin Vano bisa masuk ke dalam ruangan sesegera mungkin sebelum seseorang akan membuat mereka susah di jalan yang berbahaya ini. "Uh..... Aku...." Vano berhenti bicara saat matanya menangkap sosok Freya yang baru saja kembali dengan wajah lesu. Dengan uang seadanya, dan pekerjaan yang terlalu banyak beberapa hari ini, Freya sudah tidak ada bedanya dengan mayat hidup ketika gadis itu pulang bekerja malam ini. Dominic memang sudah memberitahu Vano bahwa temannya itu bekerja untuk membiayai hidupnya sendiri selama ini. Walaupun Dominic tidak menjelaskan pekerjaan macam apa yang dilakukan Freya, Vano cukup tahu bahwa dia tidak bisa menganggu Freya saat bekerja jika dia ingin berbicara lama dengan gadis itu. Itu juga yang menjadi alasan Vano sengaja datang di malam hari, agar dia tidak menganggu Freya di waktu kerjanya. Tapi bahkan setelah Vano datang malam-malam begini, Vano yang berpikir Freya seharusnya sudah ada di rumahnya sendiri dan beristirahat ternyata baru saja pulang bekerja pada saat ini. Dengan khawatir Vano segera menghampiri Freya, menangkap tangannya sebelum Freya bisa melarikan diri lagi. "Ja, jangan pergi lagi...... Kamu terlihat pucat, biarkan aku mengobatimu Freya." Freya mencoba melepaskan pegangan tangan Vano dengan seluruh tenaganya. Tapi entah dia lemah karena kurang makan sejak kemarin atau karena dia bekerja terlalu keras, Freya sama sekali tidak bisa melepaskan pegangan tangan Vano pada tangannya sendiri saat ini. Freya berhenti meronta saat dia merasa semuanya sia-sia saja. Tatapan matanya berubah dingin, saat dia menatap sinis Vano yang terus menatapnya dengan ekspresi khawatir yang terlihat dengan jelas. "Kamu salah orang. Aku bukan Freya," ujar gadis itu berusaha mengelak. Vano dengan keras kepala menggelengkan kepalanya. "Jika kamu bukan Freya, mengapa kamu berlari saat bertemu denganku lagi? Kamu itu Freya, aku masih ingat wajahmu dengan jelas Freya!" Freya masih berusaha menggeleng saat matanya dengan liar mulai mengamati situasi di sekitarnya. Vano bisa berada dalam bahaya jika remaja itu keras kepala mencoba bicara padanya di tempat terbuka ini. Freya memang bisa melihat bahwa Vano datang dengan seorang wanita yang tampak kuat kali ini. Tapi dengan penampilan halus wanita itu, Freya tidak yakin wanita itu bisa menghadapi orang-orang jahat di daerahnya hanya dengan seorang diri. "Aku lari karena kamu terlihat menakutkan! Lagipula siapa kamu sebenarnya hah?! Jangan dekati aku, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap penjahat sepertimu!" "Freya!" Flora akhirnya ikut campur saat keduanya mulai adu bicara di tengah jalan. Freya dengan lembut melepaskan tangan Freya dari pegangan Vano. Bibirnya menunjukan sedikit senyum, saat dia berbisik pada Freya dengan wajah ramah. "Tolong maafkan ketidak sopanan yang ditunjukan oleh tuan mudaku, Nona. Tapi Nona Freya, Nona sebaiknya tidak berbohong karena tuan mudaku saat ini sudah tahu siapa Nona itu sebenarnya. Tuan Muda tidak tahu bahaya apa yang mengintainya saat ini jadi kemungkinan besar Tuan Muda akan tetap menetap di sini sampai Nona mau mengijinkannya bicara. Sekarang, Saya pikir ada baiknya jika kita tidak berdebat di tengah jalan seperti ini jika Nona memang menghargai keselamatan Tuan Muda." Freya berhenti meronta saat dia melihat wanita itu tidak tengah berbohong padanya saat ini. Freya tidak tahu kekuatan macam apa yang telah Vano kerahkan sampai bisa menemukannya dengan cara seperti ini. Tapi jika Vano memang sudah benar-benar mengetahui indetitas aslinya, Freya rasa dia hanya akan terlihat konyol dengan tetap berpura-pura tidak tahu Vano pada saat ini. Jangan berbicara dengan rencana untuk berpura-pura kehilangan ingatannya sekarang. Dari wajah Flora saja, Freya seperti tahu bahwa mereka tidak hanya mengecek alamat rumahnya saja sebelum ini. "Ikuti aku." Wajah Vano langsung berubah cerah ketika Freya akhirnya berhenti meronta dan berjalan cepat untuk membimbing mereka masuk ke salah satu apartemen kecil yang terlihat begitu reyot menurut Vano. Vano bahkan khawatir lantainya akan rubuh jika dia menginjaknya terlalu kencang. Dengan hati-hati Vano terus mengikuti Freya untuk masuk ke satu-satunya ruangan kecil yang ada di balik pintu apartemen tersebut. Wanita itu memintanya duduk di kasur tipis, sementara gadis itu duduk di lantai tidak jauh dari tempat Vano duduk bersama dengan Flora. "Untuk apa kamu mencariku?" Vano langsung merasa malu saat Freya bertanya langsung padanya dengan nada dingin begitu. Tidak seperti Flora yang langsung menyatukan alisnya karena ucapan kasar Freya, Vano malah menunduk karena baginya saja, rasanya memang tidak sopan jika dia sampai harus menyelidiki latar belakang gadis itu hanya agar mereka dapat bertemu lagi. Vano mencoba memikirkan kata-katanya dengan serius, agar dia tidak menyinggung Freya lebih jah dari ini. "Aku khawatir pada keadaanmu sejak terakhir kali kita bertemu, Freya. Kamu tampak pucat, dan lingkungan hidupmu bahkan seburuk ini. Freya, jika kamu mau-" "Maaf saja jika aku membuatmu merasa tidak nyaman karena harus mengajakmu ke rumah reyot ini. Tapi aku baik-baik saja tinggal di sini, selama kamu tidak lagi menganggu hidupku seperti yang kamu lakukan saat ini." Freya sebenarnya menyesali kata-kata kasarnya karena Vano langsung terlihat sedih setelah pria itu mendengar ucapannya. Tidak seperti Flora yang tampaknya tahu konsekuensi dari mendekati Freya, Vano tampaknya sama sekali tidak tahu jenis pekerjaan atau hidup semacam apa yang Freya jalani selama ini. Freya hanya ingin melindungi Vano dengan terus mengusir remaja itu. Tapi Vano, malah mengartikan tindakan Freya sebagai bentuk kebencian karena insiden yang terjadi di antara mereka sebelum Freya menghilang bersama ibunya sepuluh tahun yang lalu. "Maafkan aku........." Dengan wajah murung, Vano mulai meminta maaf secara tiba-tiba. Suasana sempat hening karena masing-masing dari mereka tidak tahu harus bicara apa lagi setelah itu. Freya kehabisan kata-katanya, sampai perut gadis itu tiba-tiba berbunyi keras tanpa peduli pada suasana canggung yang ada di sekitar mereka. Tidak seperti Freya yang langsung memerah karena malu, wajah Vano yang sebelumnya sangat sedih mulai terlihat lebih baik. Sementara Flora, dengan senyum sopan segera berdiri dan menarik perhatian dua remaja yang semula tidak tahu harus bicara apa pada satu sama lain. "Kalau begitu ijinkan Saya keluar untuk mencari restoran di sekitar tempat ini. Nona Freya, apa Nona memiliki alergi untuk beberapa jenis makanan?" "Tidak perlu bagimu untuk-" "Freya alergi s**u. Pastikan saja makanan yang kamu beli tidak mengandung s**u sapi, Bibi Flora." Flora langsung beralih menatap Vano saat remaja itu memotong ucapan penolakan Freya dengan sangat cepat. "Aku mengerti. Tolong jangan pergi ke mana pun sampai aku kembali, Vano," ujar Flora sebelum melangkah keluar dari apartemen kecil itu. Freya dari awal sampai akhir hanya dianggap sebagai udara, sehingga gadis itu mulai marah lagi dengan menegur langsung pada Vano yang sebenarnya sudah sadar tentang kesalahannya karena mengabaikan Freya begitu saja. "Sudah kubilang aku tidak ingin kalian berlama-lama di rumahku. Apa kalian tidak mengerti? Aku bisa mengatasi urusanku sendiri Vano!" "Tapi kamu lapar bukan?" Pipi Freya bersemu merah saat Vano mulai bertanya padanya dengan suara jujur. Freya mulai mengutuk suara perutnya yang tidak kenal tempat sebelumnya, lalu duduk kembali saat dia melihat Vano mulai terlihat gugup ketika mereka hanya berduaan saat ini. Vano yang dia kenal biasanya ceria dan selalu yakin dengan tindakannya di masa lalu. Tapi sepuluh tahun tidak bertemu, remaja yang biasanya selalu tampak percaya diri di depannya ternyata bisa bertinkah gugup juga saat berhadapan dengannya saat ini. Mata Vano tidak lagi berani menatap Freya, saat dia berucap pelan pada gadis itu. "Maaf......" Semua kemarahan Freya langsung padam saat Vano meminta maaf padanya lagi setelah mereka berdua hanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Freya menghela nafas panjang. Bahkan wanita yang dipanggil Bibi Flora oleh Vano juga sepertinya tahu bahwa Vano sebenarnya tidak salah apa-apa pada Freya selama ini. Freya yang sebenarnya merasa tidak enak karena harus menempatkan Vano dan ibunya dalam posisi sulit sepuluh tahun yang lalu. Freya merasa dia sudah terlalu banyak merepotkan pasangan ibu dan anak tersebut. Freya tidak ingin merepotkan Vano atau ibunya lagi. Dia ingin melindungi Vano, tapi Vano tampaknya memiliki pemikiran yang lain tentang hal itu. Melihat Vano yang biasanya ceria kini hanya bisa terdiam dalam posisi lesu, Freya akhirnya menghela nafas panjang sebelum membuka mulutnya untuk memecah keheningan yang tercipta selama ini. "Lukamu, kamu baik-baik saja?" Awalnya wajah Vano terlihat bingung karena dia tidak mengerti luka apa yang dimaksudkan oleh Freya saat ini. Tapi ketika dia ingat seseorang dengan wajah buram berusaha menyelamatkannya di tengah hujan yang deras, semuanya langsung terasa masuk akal saat Vano menjawab pertanyaan Freya dengan nada gembira. "Aku baik-baik saja. Kamu yang menyelamatkanku waktu itu bukan? Terima kasih Freya. Aku benar-benar senang kamu yang menyelamatkanku pada waktu itu." Freya sedikit malu saat Vano lagi-lagi berterima kasih padanya dengan nada tulus begitu. Dengan gerakan ragu Freya akhirnya mengangguk, sebelum dia mencoba menakut-nakuti Vano agar pria itu tidak mau lagi berhubungan dengannya setelah pertemuan ini. Jika Vano tahu dia seorang rentenir yang jahat sekarang, Freya ingin Vano marah padanya dan meninggalkannya setelah itu. Keberadaan Vano sudah dicurigai oleh bosnya saat ini. Jika mereka memang kembali dekat di masa depan, Freya takut indetitas Vano akan terbongkar dan remaja itu akan berada dalam bahaya karena tindakan sembrononya. Freya tidak ingin hal itu terjadi. Freya merasa dia memiliki kewajiban untuk menolong Vano sebagai teman, dan orang yang telah menyelamatkan nyawa ibunya sepuluh tahun yang lalu. "Vano, aku sebenarnya-" Clek "Saya kembali! Nona Freya, di mana Saya harus menyimpan makanan ini?" Ucapan Freya terputus saat Flora tiba-tiba saja datang dan menimbulkan keributan dalam apartemen yang semula sepi. Dengan linglung Freya menatap Flora. Di wajah Flora, tersemat ekspresi yang meminta Freya untuk bekerja sama dengannya untuk saat ini. Wajahnya mungkin tersenyum dan ramah, tapi sorot matanya mengancam Freya agar gadis itu tidak membuka mulutnya lagi untuk saat ini. Dengan gerakan kaku Freya berdiri, sebelum dia bergerak ke arah dapur kecil yang ada di apartemen minimalisnya itu. "Biar aku membantumu....... Menyiapkannya," tawar Freya dengan suara kaku. Melihat Freya ingin membantu, Vano juga baru saja ingin ikut berdiri saat Flora segera menahan gerakan pria itu dengan sangat cepat. "Kamu bisa diam dan menunggu kekasihmu menyiapkan makanan untukmu saja, Tuan Muda." "Eh.... Tapi aku......." Vano kehilangan kata-katanya saat Flora malah memberinya senyuman jahil. Vano sibuk bergumam tidak jelas dengan wajah memerah setelah itu, sementara Flora yang berbalik membelakangi Vano mulai merubah wajahnya ke mode serius lagi tanpa pengetahuan dari remaja itu. "Nona Freya...." "Panggil aku Freya saja," potong Freya dengan suara pelan. Flora dengan murah hati mengangguk. "Kalau begitu aku tidak akan begitu sopan. Flora, kamu seharusnya tidak mengungkapkan indetitasmu dengan mudah pada Vano seperti niatmu sebelum ini," ujar Flora memperingati dengan suara lembut. Tangan wanita itu dengan telaten membantu Freya menyiapkan beberapa makanan yang baru saja dia beli. Gerakan Flora terlihat sangat natural, saat dia menjelaskan maksud ucapannya pada Freya tanpa bisa Vano sadari sedikit pun. "Vano....... Tuan Muda itu merupakan pria yang sangat polos walaupun dia mungkin tidak terlihat demikian. Sangat polos dan baik hati, setidaknya dalam perspektifku dan orang tuanya. Jika kamu mengatakan padanya sekarang bahwa kamu bekerja sebagai rentenir yang bekerja di bawah perintah seorang mafia demi membayar hutang-hutangmu, Vano pasti tidak akan ragu untuk menyelamatkanmu dan menggunakan seluruh kemampuannya untuk membayar seluruh hutang-hutangmu saat ini juga. Dia mungkin tidak akan berkonsultasi pada ayahnya untuk masalah ini, dan akhirnya menyeret kalian dalam masalah yang lebih besar lagi. Baik aku mau pun ayahnya tidak ingin hal itu sampai terjadi. Jadi untuk sementara waktu, aku ingin kamu menyembunyikan pekerjaanmu dari Tuan Muda, Freya." Selesai dengan tugasnya untuk menyiapkan makanan, Flora beralih mengambil gelas yang ada untuk menyiapkan minuman bagi mereka bertiga. "Tapi itu bukan berarti kami hanya akan tutup mata tentang kesulitanmu untuk selamanya. Kami bisa saja membayar lunas hutangmu saat ini juga agar kamu bisa bebas dari pekerjaanmu saat ini. Tapi semuanya tidak akan berjalan semudah itu Freya. Kamu pasti tahu cara main pekerjaanmu sendiri. Satu jari tidak akan cukup untuk membayar kebebasanmu bahkan jika kamu membayar lunas semua hutangmu. Dan Vano, dia pasti akan sedih jika orang yang dia sayang sampai harus kehilangan jarinya sebelum dia bisa memasangkan cincin di jari manismu itu." "Itu-" Flora tidak memiliki waktu banyak hanya untuk sekedar mendengar penyangkalan yang sama seperti yang Vano berikan sebelumnya. Dia hampir selesai menyiapkan semuanya, saat dia berucap serius pada gadis itu. "Jika kamu bisa, aku ingin kamu mencuri kontrak perjanjian yang mengikatmu dengan mereka dan memberikannya padaku jika kamu telah mendapatkannya Freya. Bosku akan mulai bergerak jika kamu sudah tidak terikat lagi dalam organisasi itu." "Kalian belum selesai?" Freya menoleh dengan terkejut saat Vano tiba-tiba saja sudah berisik di belakang mereka berdua. Namun tidak seperti dia yang terkejut, Flora terlihat biasa saja saat dia tersenyum dan mengangkat piring-piring yang dia siapkan sedari tadi. "Obrolan wanita. Kenapa Tuan Muda begitu tidak sabar?" goda Flora dengan nada santai. Wanita itu berlalu saat Vano mulai salah tingkah lagi. Tatapannya diam-diam jatuh pada Freya lagi, yang kebetulan juga tengah menatapnya secara tidak sengaja saat ini. "Tolong ingat ucapanku hari ini Freya," ucap Flora untuk terakhir kalinya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN