"Wah.. udah cantik aja anak Bunda" Sapa Lintang yang sedang mempersiapkan sarapan di meja makan. "Biasa aja Bunda" ucap Langid sambil mengeluarkan kursi dari balik meja makan.
Hari ini adalah hari pertama Langid menginjakkan kaki di SMP Bina Bangsa. Hari pertama menggunakan seragam Putih Biru setelah enam tahun fokus dengan seragam Putih Merah. Langid tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Matanya yang indah dan kulit putih serta rambut yang terurai panjang membuatnya banyak disukai oleh siswa kaum adam di sekolahnya. Apalagi dengan senyumnya manisnya setiap berjalan, membuat para siswa lelaki terpaku melihatnya. Setiap guru pun begitu senang dengan Langid karena kepandaiannya dan kesopanannya dengan orang yang lebih tua darinya.
Hari-hari Langid disibukkan dengan berbagai kegiatan padat. Mulai dari extra kulikuler, berbagai organisasi sekolah, les privat untuk menunjang akademiknya. Untung saja Lintang bundanya, kini mampu membuka rumah makan kecil di pojok jalan raya dari uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan, sehingga Langid bisa bersekolah dengan baik. Dan Langid selalu menjalaninya dengan penuh semangat.
"tidak akan kubiarkan masa mudaku berlalu begitu saja. Semua yang mampu ku kerjakan akan ku kerjakan. Semua hal yang mampu terisi di otakku akan ku persilahkan masuk selama itu hal yang baik. Terimakasih, Sahabat. Banyak hal yang telah ku lalui. Dan kamu selalu bersamaku, lekat di hatiku."
Tulis Langid di sebuah buku kecil miliknya yang di dalamya terdapat beberapa sajak dan hanya dirinya yang mengetahui arti dari setiap sajak yang ditulisnya.
"Dooorrrr" seru Embun, sambil memegang kedua bahu Langid dari belakang. Langid terkejut menengok Embun lalu kembali menulis di buku kecilnya.
Embun adalah sahabat Langid. Orang yang paling dekat dengannya. mereka sering menghabiskan waktu berdua. Bahkan setiap pulang sekolah, Langid yang selalu ke kedai Bundanya untuk membantunya, akan selalu di temani oleh Embun, sosok gadis manis berkulit sawo matang dan bulu mata yang lentik.
Awalnya, Embun sangat tidak menyukai Langid karena mereka selalu bersaing dalam pelajaran, namun sayangnya Embun selalu kalah dari Langid. Namun karena Langid tidak pernah menyombongkan dirinya, akhirnya Langid sering mengajak Embun untuk sekedar belajar kelompok, membuat Embun tersadar bahwa Langid adalah anak yang sangat baik. Mulai sejak itu, Embun selalu bersama Langid dan menjadi sahabat Langid.
Mereka berdua selalu berjalan bersama. Mengikuti setiap kegiatan sekolah bersama. Tak jarang siswa di sekolah mereka mengatakan bahwa Langid dan Embun adalah bidadari yang di utus ke Bumi.
"Lagi nulis apa sih ?" tanya Embun yang menghampiri Langid di Perpustakaan Sekolah sambil melirik buku kecil milik Langid.
Langid hanya tersenyum melirik Embun.
"Ohh.. catatan tentang sahabat lagi yaa..?? ucap Embun. "Lo kayaknya bahagia banget yah bisa sahabatan sama gue" tambahnya sambil berbisik ke telinga Langid. "Dih... geer lo" ucap Langid sambil menjauhkan telinganya dari Embun. "Yaa.. trus siapa lagi dong kalo bukan gue ? sahabat lo kan cuma gue" jawab Embun dengan bibir mengerucut. Sontak Langid dan Embun terkejut dengan gertakan salah seorang siswa yang merasa terganggu "Woy.. berisik banget sih.. ini Perpus, kalo mau gosip sana diluar aja !"
"Ma.. maaf.. maaf.." ucap Langid yang berdiri dari dudukannya seraya menundukkan badannya, di ikuti Embun yang mengikuti tingkah Langid.
Mereka berdua pun menunduk, mengakui kesalahan yang terlalu berisik dan bukan pada tempatnya. Namun pada saat itu juga, Langid dan Embun saling melirik sambil tersenyum karena berfikir kelakuan mereka sangat konyol.
Langid dan Embun memang selalu ceria. Tiada hari tanpa tawa diantara mereka. Segala yang menyedihkan, mereka jadikan hal yang lucu. Bahkan orang akan bertanya bila melihat Langid atau Embun berjalan sendiri karena bisa dibilang dimana ada Langid disitu ada Embun. Tak dapat di pisahkan. Sampai akhirnya mereka pun lulus di bangku SMP dan SMA.
Setelah lulus, Langid melanjutkan Kuliah di salah satu Universitas ternama di Jakarta.
Sayangnya Orangtua Embun yang tiba-tiba harus pindah ke Jogja untuk urusan pekerjaan mengajak Embun untuk pindah ke Jogja. Awalnya Embun juga ingin ikut dengan orangtuanya, namun karena Langid yang sangat sedih dan merasa kehilangan membuat Embun tidak kuasa untuk meninggalkan Langid. Dan Akhirnya, Embun memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Kampus yang Langid tempati, dan tinggal di rumah Langid untuk sementara waktu.
Orangtua Embun sangat berterimakasih kepada Lintang yang mau menerima Embun untuk tinggal di rumah mereka karena Orangtua Embun memang tidak membiarkan Embun untuk tinggal sendiri.
Mereka pun tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan mempesona. Tak ada sahabat lain untuk Langid selain Embun karena Langid memang bukan sosok orang yang mudah bergaul dengan orang yang notabenenya baru ia kenal. Bagi Langid, Embun sosok sahabat yang selalu bisa diajak bertingkah aneh meski di hadapan umum. Sedangkan bagi Embun, Langid sosok sahabat yang sangat tulus, yang bisa diajak tertawa berulang-ulang pada satu lelucon yang sama, dan menangis berulang-ulang pada satu masalah yang sama. Mereka tidak pernah memperdulikan cibiran orang-orang sekitar yang disertai pandangan-pandangan mata yang sinis. Apalagi bangku kuliah sangat jauh berbeda dari bangku sekolah yang berseragam dan lebih tertib. Namun tawa, canda, suka, duka, air mata, senyuman selalu mewarnai hari-hari mereka.
Tinggal bersama, satu rumah bahkan satu kamar bedua dengan sahabatnya membuat Langid begitu bahagia.
"Di rumah bareng Embun, Di Kampus bareng Embun, Mau tidur bareng Embun, hangout juga bareng Embun" ucap Langid tersenyum dan melirik Embun yang sedang duduk di sofa kamar Langid sambil menonton drama Korea kesukaan mereka.
Kurang lebih empat tahun yang begitu indah. Hingga pada akhirnya tujuan awal kuliah mereka pun sudah di depan mata. Hari yang mereka nantikan di mana semua keringat terbayarkan. Ospek, pelatihan, praktikum, penelitian, galau, berantem satu sama lain, sidang, yudisium hingga hari ini di wisuda bersama dan satu per satu nama mereka dipanggil dengan tambahan gelar di belakangnya. Senang, bangga, haru, sedih semua bercampur rasanya. Langid dan Embun terlihat sangat bahagia karena dapat menyelesaikan kewajiban mereka dengan hasil yang sangat memuaskan. Terlebih Lintang yang selama ini banting tulang mulai dari mendirikan kedai kecil-kecilan hingga akhirnya dapat membangun sebuah Rumah Makan Indonesian Food karena masakannya yang banyak diminati, dan konsumen yang datang ke warungnya semakin bertambah. Saat Langid semakin beranjak dewasa, ketekunan Lintang dalam mengelola bisnis Indonesian Food miliknya semakin berhasil dengan berubahnya sebuah kedai, menjadi satu unit gedung besar dengan kapasitas 100 orang pelanggan. Beruntungnya lagi karena Lintang sudah dapat memiliki sebuah rumah mewah untuk ia tinggali bersama Langid sehingga Lintang memutuskan untuk pindah dari rumah sederhana yang selama ini mereka tinggali. Namun sayangnya, Lintang hanya sesekali untuk tinggal di rumah itu karena ia terlalu disibukkan dengan pekerjaannya di restoran. Untungnya Langid di temani oleh Embun sehingga dirinya pun tidak merasa kesepian jika Lintang sedang tidak di rumah.
***
Langid yang baru saja bangun, disambut dengan gelak tawa dari Embun.
"Kenapa sih ?" tanya Langid heran.
"Gini yah hari pertama jadi pengangguran ? Bangun kesiangan, males-malesan" ucap Embun tertawa geli. Langid hanya tersenyum sambil melempar sebuah bantal ke arah Embun.
"ada-ada aja deh" ucap Langid serak karena baru bangun.
Embun pun melangkah ke sebuah nakas untuk mengambil tasnya dan mengeluarkan ponselnya sambil tersenyum dan mendekati Langid.
"taraaaa... surprise..." ucap Embun sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Langid, membuat Langid begitu terkejut.
"waaaoww... it's really ?" tanya Langid.
Embun hanya mengangguk sambil tersenyum kegirangan.. "tau nggak sih, gue bahagia banget keterima kerja di BSA Corp sebagai Sekretaris.. itu cita-cita gue banget" ucap Embun dengan wajah berbinar-binar sambil memegang kedua bahu Langid.
Langid mengangguk sambil menggenggam tangan Embun seraya memperlihatkan bahwa dirinya ikut bahagia. "Selamat yah Embun, lo hebat.. sekarang, lo udah masuk di dunia yang sesungguhnya. Lo harus semangat. Kesuksesan udah di depan mata." ucap Langid tersenyum bahagia.
Embun memang Mahasiswa yang cukup pandai di Universitasnya. Lulus dengan nilai cumlaude dan menjadi salah satu Mahasiswa lulusan terbaik, membuat Embun dengan mudah mendapat pekerjaan. Cukup sekali ia memasukkan berkas di BSA Corp, salah satu Perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang Properti. BSA Corp memang belum terlalu lama berdiri namun nama perusahaannya tiba-tiba saja melambung jauh dari perusahaan properti lainnya.
"eh.. Lo gimana ?? ada berkas yang lolos nggak ?" tanya Embun, namun Langid hanya tunduk terdiam.
Embun yang melihat kesedihan di wajah sahabatnya pun menghela nafas seraya menepuk-nepuk punggungnya. "Udah yang sabar.. dinikmatin aja.. enjoy"
Tiba-tiba Langid menatap wajah Embun sambil tersenyum. Embun menyipitkan matanya menatap Langid dengan tatapan penasaran. Namun lagi-lagi, Langid hanya tersenyum.
"tau nggak ?? gue di terima kerja di Bimantara Group" bisik Langid ke wajah Embun
"yang bener lo?" tanya Embun terkejut dengan mata membelalak. Langid hanya mengangguk namun terlihat jelas matanya berbinar binar bahagia.
"nggak mau peluk?" ucap Langid sambil merentangkan kedua tangannya, dan dalam hitungang sepersekian detik Embun memeluk tubuh Langid dengan erat
"Selamat yah untuk kita berdua" ucap Embun dan tanpa sadar, Langid mengeluarkan air matanya. Air mata haru dan bahagia bisa menyelesaikan pendidikannya bertahun-tahun dan masih bersama sahabatnya. "Ya udah, kita ke Tante Lintang yuk" ucap Embun sambil menarik tangan Langid lalu bergegas ke Restoran milik Lintang.
Mereka pun bergegas menuju Restoran Indonesian Food dan di sambut meriah oleh Lintang juga semua karyawannya.
Lintang yang sudah tau tentang kejadian ini karena lima menit sebelumnya di telepon oleh Embun, merasa sangat bahagia dan bersyukur karena Langid dan juga Embun akhirnya bisa belajar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
"Selamat yah sayang" ucap Lintang mengusap kepala Langid. Embun pun tidak mau kalah. Ia dengan sergap memeluk tubuh Lintang dengan erat.
"Semoga kalian betah yah dengan pekerjaan kalian" ucap Lintang yang langsung di aamiinkan oleh Langid dan Embun.
Mereka bertiga pun berpelukan dengan penuh haru.