BHUMI DAN LANGID

1423 Kata
Setelah kurang lebih 10 menit akhirnya Pak Darsono, supir pribadi Bhumi pun tiba. Bhumi dan Langid duduk berdua di kursi belakang mobil. "Kita ke tempat Bunda dulu yah Mas Bhumi, Bunda pasti seneng kalau ketemu Mas Bhumi" ucap Langid dengan senyum lebar. Langid sama sekali tidak mengetahui bahwa Bhumi telah bertemu dengan Lintang. Langid berfikir bahwa Bhumi dan Arga hanya memesan makanan di Restoran Indonesian Food dan tanpa bertemu dengan Lintang. "Oh ya ??" tanya Bhumi pura-pura tidak tau. Sedangkan Langid hanya tersenyum mengangguk. "Waktu Mas Bhumi pergi, kamu nangisnya gimana ? Jangan-jangan sampai nggak mau makan ya ??" tanya Bhumi meledek Langid. "Ih.. siapa yang nangis ?? nggak yah.. apalagi sampai nggak mau makan.. ihh.. nggak banget" jawab Langid yang tiba-tiba mengalihkan perhatian menatap lampu-lampu jalan di ibu kota dari kaca jendela mobil. "Oh.. jadi nggak nangis" ucap Bhumi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu mengacak-acak rambut Langid. "Mas Bhumi apaan sih.. Rambut Langid nanti rusak" ucap Langid dengan nada tinggi sambil menghalangi tangan Bhumi yang lagi-lagi ingin mengacak rambutnya. Mereka pun saling mengganggu kemudian tertawa penuh bahagia, membuat Pak Darsono juga ikut tersenyum karena baru kali ini ia melihat bosnya sebahagia ini. Hingga tak terasa, mereka tiba di Restoran Indonesian Food. Bhumi dan Langid pun keluar dari mobil dan melangkah masuk ke Restoran. Sedangkan Pak Darsono, dengan terpaksa pulang menggunakan taxi online karena tidak ingin mengganggu Bhumi dan Langid. Tampak beberapa pelayan yang mengenali Langid, membungkukkan badannya seraya menyapa Langid. Dan Langid pun memberikan senyum hangat pada mereka. "Bunda dimana ?" tanya Langid pada salah satu pelayan yang menghampiri jalannya. "Ada kok mba di dalem" jawab pelayan tersebut. "Bisa minta tolong panggilin nggak mba ?" tanya Langid kembali, dan pelayan tersebut menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju ruangan pelayan. "Ayo Mas Bhumi, duduk disini" ucap Langid seraya menarik tangan Bhumi dan duduk di salah satu meja restoran bagian pojok. "Wah.. wah.. jadi udah pada ketemu ?" ucap Lintang yang tiba-tiba muncul, dan kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Bhumi dan Langid. "Emangnya Bunda tau dia siapa ? Kan Langid belum ngasih tau bunda ?" tanya Langid dengan wajah heran. Lintang dan Bhumi pun sontak tertawa melihat wajah Langid yang terheran-heran. "Tau dong sayang. Bhumi kan tadi kesini buat makan siang" jawab Lintang tertawa kekeh. Langid pun melirik Bhumi yang ada di sampingnya dengan tatapan sinis. "Oh.. Jadi Mas Bhumi ngerjain aku ?" Bhumi hanya tersenyum melihat tingkah Langid lalu kembali mengacak-acak rambut Langid. "Adiknya Mas Bhumi emang gak berubah yah" ucap Bhumi tertawa. Lintang melihat Bhumi dan Langid begitu bahagia hingga tak terasa tetesan air mata keluar dari pelupuk matanya. Ia begitu terharu melihat Langid yang tampak begitu bahagia bertemu kembali dengan Bhumi. "Bunda kok nangis" tanya Langid terkejut. "Nggak papa sayang.. Bunda bahagia karena kedatangan Bhumi" ucap Lintang tersenyum dan menghapus air matanya. Bhumi kemudian memegang punggung tangan Lintang sambil tersenyum. "Bunda, Bhumi janji nggak akan pergi lagi. Bhumi akan selalu jagain adiknya Bhumi yang manja ini" ucap Bhumi melirik ke arah Langid. Lintang pun mengangguk sambil tersenyum lirih. Sedangkan Langid membalas lirikan Bhumi dengan mencebikkan bibirnya. "Jadi waktu Bhumi pindah ke Jerman, cuma Bunda aja nih yang sedih.. nggak ada lagi yah Bunda ?? hmm.. kirain ada yang nangis sampai nggak mau makan" ucap Bhumi memandang Lintang di hadapannya. "Emang nggak ada kok.. siapa juga yang mau nangis" timpal Langid dengan bibir mengkerucut. "Oww.." jawab Bhumi sambil menganggukkan kepalanya pura-pura tidak tau sedangkan Lintang tertawa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bhumi dan Langid. "Bunda, Bhumi mau ngajak Langid jalan-jalan boleh nggak ?" ucap Bhumi melirik Langid "Boleh, tapi jangan lama-lama yah !" jawab Lintang. Dan Bhumi mengangguk mengiyakan. *** Bhumi dan Langid pun berpamitan dengan Lintang kemudian berjalan menuju mobil Sport hitam yang terparkir di depan restoran. Bhumi pun membukakan pintu sisi penumpang untuk Langid. Lalu setelah melihat Langid duduk dengan nyaman, Bhumi kembali menutup pintu dan setengah berlari memutari mobil lalu masuk dan duduk dibalik kemudi. "Kita mau kemana sih Mas Bhumi ?" tanya Langid sambil memasang sabuk pengamannya. Bhumi menoleh sesaat lalu menekan tombol merah untuk menyalakan mesin mobilnya. "Jalan-jalan aja.." jawab Bhumi. "Iya.. jalan-jalannya kemana ? sambung Langid. Bhumi tersenyum sambil melirik Langid lalu kembali mengendarai mobil. "Ternyata masih tetep bawel yah" ucap Bhumi mengacak-acak rambut Langid sambil terus mengemudi. "Mas Bhumi..." teriak Langid kesal pada Bhumi yang sejak tadi selalu mengacak-acak rambutnya. Lalu setelah beberapa menit, Akhirnya mereka tiba di sebuah taman bunga dengan ribuan lampion warna-warni yang sangat estetik. Sembari menyusuri dari lampu satu ke lampu lainnya yang jenisnya sangat banyak dan beragam, alunan musik yang diputar dan pengeras suara disudut-sudut menambah syahdu suasana. Langid pun takjub melihat sekelilingnya, dengan mata membelalak dan mulut yang terbuka lebar tanpa suara. Bhumi tersenyum melihat Langid lalu menariknya ke sudut bagian selatan taman untuk duduk di sebuah gazebo yang terbuat dari bambu, dan atapnya di tutup dengan kain terbuka warna putih di pasang dengan tali yang di kaitkan di kerangka bambu lalu di bagian atasnya diberi lampu hias dengan pancaran kuning redup dari lampu-lampu tersebut yang memberi kesan romantis. Langid sontak menelan ludahnya, masih dengan mata membelalak ketika Bhumi memegang kedua bahunya dan mendudukkannya di gazebo tersebut. "Mas Bhumi, ini di mana ? Kok aku baru lihat tempat ini ?" "Mungkin karena kamu terlalu sibuk kerja.. atau sibuk mikirin aku ?" ucap Bhumi dengan tertawa mengejek. "Apaan sih" lirik Langid, kemudian kembali memandang sekelilingnya yang begitu memukau sambil tersenyum. "Hope you like it" ucap Bhumi Langid mengangguk kegirangan "Suka banget" Bhumi menopang dagunya tersenyum sembari terus memandang Langid dan membuat Langid merasa risih dengan sikap Bhumi. "Apa sih Mas Bhumi ? Langid nggak suka diliatin kayak gitu" ucap Langid mencebikkan bibirnya. Namun Bhumi hanya menjawabnya dengan santai. "Kamu cantik" Langid tersenyum menundukkan pandangannya karena malu. Dan karena mereka berdua saling diam, akhirnya Langid memulai pembicaraannya. "Mas Bhumi sekarang kerja dimana ?" "Cuma karyawan kantoran biasa kok" jawab Bhumi tersenyum santai dan masih menopang dagunya menatap Langid. "Trus Mas Bhumi ke Jakarta buat menetap atau bakalan balik lagi ?" tanya Langid perlahan-lahan. "Mas Bhumi bakalan balik lagi ke Jerman" jawab Bhumi masih dengan tersenyum santai, yang seketika membuat Langid menatap Bhumi dengan cepat. "Kenapa ?" sambung Bhumi "Nggak papa" ucap Langid dengan menundukkan wajahnya, namun terlihat kesedihan dan kekesalan dari raut wajahnya. "Mas Bhumi bakalan balik ke Jerman kalau kamu udah siap" sambung Bhumi tersenyum. "Maksud Mas Bhumi ?" ucap Langid heran, namun Bhumi hanya menaikkan kedua bahunya kemudian kembali tersenyum. Mereka berdua tampak menikmati malam itu dengan penuh kebahagiaan dan saling melepas rindu satu sama lain. Hingga akhirnya, waktu menunjukkan pukul 10 p.m dan Langid pun mengajak Bhumi untuk pulang. Bhumi pun mengantar Langid sampai tiba di rumahnya. Namun sebelum melangkah turun dari mobil, Langid mengeluarkan ponselnya dan di sodorkan kepada Bhumi. "Kamu ngasih ponsel buat Mas Bhumi ?" tanya Bhumi sambil mengerutkan keningnya menatap Langid. Langid menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba Mas Bhumi pergi lagi tanpa ngabarin Langid" Bhumi menunduk dan tertawa pelan, kemudian mengambil ponsel milik Langid. "Oke, Mas Bhumi bakal catat nomor hp, akun sosial media, alamat email, mm.. trus apa lagi yah ?" "udah" Langid tertawa "aku nggak seposesif itu." Bhumi tersenyum tipis dan mengusap kepala Langid, lalu kemudian memberi kode ke Langid agar segera masuk ke rumah. Langid pun tersenyum dan mengangguk. "Mas Bhumi hati-hati yah" ucap Langid seraya turun dari mobil kemudian melambaikan tangannya. Bhumi pun mengangguk tersenyum dan membalas lambaian tangan Langid lalu beranjak pergi dengan mobilnya. *** Langid yang baru saja masuk ke kamar tiba-tiba di kejutkan Embun yang keluar dari arah kamar mandi "Cie.. ciee.. dianter siapa tuh" ucap Embun mendekati Langid. "Ih.. kebiasaan deh.. ngagetin aja" jawab Langid mencibir." "Iya.. iya.. maaf.." timpal Embun sambil menyodorkan Langid sebuah handuk. "Pokoknya gue nggak mau tau, sekarang Lo bersihin badan trus lo jelasin ke gue yang tadi itu siapa, karena gue nggak sempat lihat." timpal Embun yang kemudian berbisik di telinga Langid "Trus satu lagi, gue juga mau cerita sesuatu sama lo" Langid mengerutkan keningnya kemudian menghela nafas dan melangkah ke kamar mandi. Sementara menunggu Langid, Embun duduk di tempat tidur menyandarkan tubuhnya di headboard. Embun masih memikirkan kejadian pagi tadi yang sama sekali di luar nalarnya. Sesekaki ia menggigit bibirnya sambil berfikir. hmm.. apa gue sms aja kali yah. Kita kan udah pacaran. Batin Embun. Ia kemudian meraih ponselnya dari dalam tas lalu mengirim sebuah pesan kepada Bhumi "Malam pak, bapak udah tidur belum" Namun sayangnya, setelah menunggu beberapa menit dan Langid telah keluar dari kamar mandi, Embun tidak mendapat balasan dari pesan yang ia kirim ke Bhumi. Ya udahlah.. mungkin udah tidur. batinnya sambil menghela nafas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN