BUNDA LINTANG

1301 Kata
tepat pukul dua siang, Arga yang sedang mengendarai mobil ditemani Bhumi di sampingnya yang entah ingin kemana, membuat Arga lagi-lagi kesal dengan tingkah Bhumi. "Mau kemana sih ? udah setengah jam kita muter-muter gini. Lo pikir gue supir lo ? Gini-gini, gue juga Direktur yah" ucap Arga kesal. Bhumi yang sejak tadi melihat kiri kanan mencari warung makan yang sesuai seleranya, kini pasrah melihat Arga yang sedari tadi mengomel. "Ya udah terserah lo aja mau makan dimana, tapi jangan yang western food yah, bosen gue" ucap Bhumi. "Jadi lo dari tadi ngajak gue muter-muter buat nyari makan ? kenapa lo nggak ngomong. Gue kan tau restoran yang recomended bro" ujar Arga melirik Bhumi "Gue lagi males ngomong sama lo" ucap Bhumi sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Arga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bhumi. Ia mengerti bagaiaman kekacauan yang sedang Bhumi pikirkan. Setelah 15 menit, mereka pun tiba di Restoran Indonesian Food yang tidak lain adalah Restoran milik Lintang. Mereka pun melangkah masuk ke dalam Restoran yang di desain dengan gaya minimalis tradisional dengan suasana pedesaan yang adem dan damai, yang dapat membuat pengunjung betah berlama-lama. Alunan musik Akustik membuat suasana restoran tersebut semakin menyenangkan. Belum lagi area makannya yang juga sangat menarik. Ada beberapa seating area yang berada di atas kolam dengan tanaman rambat membuat suasana semakin sejuk. "Gimana? bagus kan ?" ucap Arga " wow.. it's real recomended" jawab Bhumi dengan menepuk kedua tangannya. Setelah kurang lebih 10 menit, makanan mereka pun datang. Arga memesan nasi goreng sedangkan Bhumi memesan mie ayam yang sudah sejak lama ia idamkan. Arga pun melahap habis nasi goreng itu karena kelaparan sedangkan Bhumi menikmati mie ayamnya sembari memikirkan masa kecilnya yang dulu sering di buatkan mie ayam oleh Lintang. "Lo serius banget makannya" ucap Arga. "gimana ?? enak kan ?" sambungnya menatap Bhumi. Bhumi mengangguk tersenyum. "Mie ayam yang rasanya nggak ada bedanya sama yang sering dibuat Bunda Lintang" jawab Bhumi dengan tenang. "Mulai lagi deh bapernya" ledek Arga, namun Bhumi tidak merespon apapun karena sedang menikmati mie ayam tersebut. "Mba.." panggil Arga kepada salah satu pelayan seraya melambaikan tangannya. Pelayan itu pun berjalan menuju meja Arga dan Bhumi. "iya mas ?" tanya pelayan dengan sopan. "tolong bungkus 1 nasi goreng lagi yah, saya mau bawa pulang. Setelah itu tolong antarkan billnya" perintah Arga kepada Pelayan tersebut. "Baik Mas, di tunggu kurang lebih 10 menit yah Mas" Namun, belum sempat pelayan itu melangkah, Bhumi pun bersuara "Tolong bungkuskan Mie ayam juga yah Mba. Dua bungkus" ucap Bhumi yang masih melahap makanannya. Pelayan itu pun mengangguk dan meninggalkan Bhumi dan Arga. "Wuih.. laper apa doyan nih ?" ejek Arga tertawa "Satu buat gue, satu buat Aruna" ucap Bhumi tersenyum. "Maksud lo ?" tanya Arga penasaran. "Gue mau makan di Kantor lo, sama Sekretaris lo, dan tolong lo yang traktir yah" jawab Bhumi datar. "Sialan lo" kesal Arga yang menatap Bhumi dengan sinis. Bhumi hanya tersenyum dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar semua makanan tersebut. Ia hanya bercanda saat mengatakan ingin di traktir. Arga pun tertawa melihat Bhumi yang tengah membayar semua makanannya. "Bapak mau debit ?" tanya seorang Kasir setelah melihat Bhumi mengeluarkan kartu dari dompetnya. "Iya mba" jawab Bhumi. "Baik, tunggu sebentar yah pak. Saya panggil Bu bos dulu di dalam" Sesaat setelah petugas kasir tersebut masuk, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, keluar dari sebuah ruangan. Bhumi menyipitkan matanya seketika, memandang wanita itu melangkah ke arah komputer yang ada di hadapan Bhumi. Semakin wanita itu melangkah, semakin jelas pandangan Bhumi melihatnya. Sontak Bhumi membulatkan matanya tanpa kedipan sedikitpun. Wanita paruh baya tersebut menatap Bhumi dengan tersenyum. Membuat Bhumi bertambah yakin bahwa dia adalah Lintang, Bunda Lintang yang selama ini ia rindukan pelukannya. Dan tanpa memohon izin, Bhumi pun masuk ke dalam ruangan kasir yang terhalang meja panjang dengan para pelanggan. Tanpa hitungan detik, Bhumi langsung memeluk Lintang dengan erat, membuat Lintang dan beberapa karyawannya terkejut. Tidak hanya itu, Arga pun terkejut melihat tingkah Bhumi yang masuk ke ruangan pelayan sambil memeluk wanita paruh baya. Bagi Arga, ini hal yang sangat memalukan. "Anda siapa yah ?" tanya Lintang menatap Bhumi dengan penasaran, sesaat setelah Bhumi melepaskan pelukannya kepada Lintang. "Bundaa.." ucap Bhumi dengan mata berkaca-kaca dan bibirnya yang begitu kaku. Lintang semakin terkejut ketika dipanggil dengan sebutan Bunda. "Bunda ini Bhumi.. Bhumi anaknya Bunda.. Mas Bhuminya Langid Bunda" ucap Bhumi memegang kedua bahu Lintang. ucap Bhumi dengan meneteskan air mata. Lintang semakin terkejut mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Bhumi. Tangannya bergetar menyentuh pipi Bhumi dengan air mata yang menetes di pelupuk matanya. Melihat Bhumi dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, kemudian mengusap-usap rambut Bhumi membuat Bhumi semakin berlinang air mata. Lintang tidak mampu lagi membendungnya, ia pun memeluk Bhumi dengan terisak tangis. "Bhumi... Bhumi anakku" bisik Lintang. Bhumi pun mengangguk pelan dalam pelukan Lintang. *** Lintang lalu mengajak Bhumi untuk duduk sembari mengobrol di salah satu meja restoran miliknya namun Bhumi menolak dan menarik tangan Lintang dengan pelan ke tempat dimana ia dan Arga tadi duduk menghabiskan makanan mereka. "Ayo sini Bun, Bhumi kenalin sama temen Bhumi" ucap Bhumi sambil merangkul bahu Lintang di hadapan Arga. "Ga, kenalin, ini Bunda Lintang.. Bundanya Langid, Bunda, ini Arga temennya Bhumi" sambung Bhumi Lintang hanya membungkukkan badannya sambil tersenyum memandang Arga. "Ayo Bun, duduk sini!" ucap Bhumi menarik Lintang untuk duduk di sampingnya. "Astaga.. jadi Tante ini Bundanya Langid ?" tanya Arga menunjuk Lintang "Iya.. Bunda Lintang.. emang kenapa ?" ucap Bhumi Arga sontak menepuk jidatnya. "Gue pikir tadi lo lagi gombalin pemilik restoran ini Bhum" sambung Arga tertawa. Bhumi hanya melemparkan selembar tishue ke Arga sambil tertawa, diikuti Lintang yang juga tertawa melihat kedua lelaki tampan di dekatnya. "Bunda baik-baik aja kan selama ini ?" ucap Bhumi menggenggam tangan Lintang yang sudah ia anggap ibunya sendiri. "Alhamdulillah baik-baik aja" jawab Lintang tersenyum sambil memegang pipi Bhumi dengan lembut. "Bunda nggak nyangka bisa ketemu Bhumi lagi. Dan sekarang, Bhumi tumbuh jadi lelaki yang tampan" ucap Lintang. Bhumi pun tersenyum sambil terus memandang Lintang. Sedangkan Arga hanya bisa menggaruk-garuk kepala. "Mama sama Papa gimana kabarnya ? baik-baik aja ?" tanya Lintang kepada Bhumi. "Baik kok Bund.. justru mereka yang nyuruh Bhumi buat cepet-cepet pulang ke Indo biar bisa ketemu sama Bunda dan Langid.. Mungkin mereka capek karena Bhumi tiap hari cuman cerita tentang Bunda sama Langid" jawab Bhumi tersenyum. "Em.. Bunda.. em.. Langid ??" sambungnya dengan nada pelan "Akhirnya lo nanyain Langid juga" timpal Arga tertawa membuat Bhumi tersipu malu. "Langid ada kok.. dia baik-baik aja" ucap Lintang tersenyum. "Tapi sekarang lagi kerja, Bhumi nggak mau nungguin Langid dulu ? Langid pasti seneng ketemu Mas Bhuminya" sambung Lintang. "Tapi Bhumi masih ada urusan Bun.. gimana kalau bentar malam aja ?" pinta Bhumi "Boleh, nanti biar Bunda panggil Langid kesini yah" jawab Lintang "Langid pasti cantik ya Tante. Secara, Tante aja masih kelihatan cantik" ucap Arga menyeringai. "Langid udah punya pacar belum Tante ? Kalau belum salamin buat aku yah" Sambungnya dengan nada berbisik. "Heh.. enak aja lo" timpal Bhumi dengan nada tinggi. Lintang pun tertawa kekeh, menggelengkan kepalanya. "Langid waktu itu shock pas tau Bhumi udah pergi. Sampai berhari-hari uring-uringan, nggak mau makan. Kalau pagi, dia cuma keluar sebentar buat duduk di teras, setelah itu balik lagi masuk ke kamarnya. Mungkin dia lagi nungguin Bhumi" jelas Lintang kepada Bhumi yang semakin membuat Bhumi semakin merasa bersalah. "Maafin Bhumi yah bunda" ucap Bhumi memegang tangan Lintang. "udah nggak papa. Sekarang kan Bhumi udah disini" jawab Lintang tersenyum. "Bunda, kalo gitu Bhumi pamit buat balik ke kantor dulu yah, nanti malem InsyaAllah Bhumi kesini, tapi jangan bilang apa-apa dulu sama Langid yah bunda, Bhumi mau kasi surprised buat Langid" ucap Bhumi. "Iya.. kalian hati-hati yah" jawab Lintang mengusap punggung Bhumi. Arga dan Bhumi pun keluar dari Restoran Indonesian Food, dan tak lupa Arga memegang kantongan berisi makanan yang telah mereka pesan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN