Petra mengangkat pedangnya yang telah berlumuran darah. Matanya memancarkan keinginan untuk membunuh yang begitu kental. Sudah begitu lama dia tidak merasakan gejolak perasaan yang seperti ini, perasaan untuk menghabisi tumpukan musuh yang berdiri tepat dihadapannya. “Hanya sebatas itu kemampuan kalian?” ejek Petra. Tiga orang bandit telah tergeletak tanpa nyawa di atas permukaan tanah. Ketiganya memiliki luka tusukan yang dalam pada perut atau tenggorokan mereka. Salah seorang bandit bertopeng melangkah maju. Dari balik topengnya, ia memandang Petra dengan rasa kesal yang begitu ketara. “Kamu bisa membunuh mereka hanya karena keberuntungan. Sebelumnya kamu di dampingi oleh empat prajurit kerajaan. Dan sekarang kamu hanya seorang diri. Apa kamu yakin bisa menghalangi kami?” Suara tawa k

