“Apakah salah?” Helcia malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. “Jenderal tidak akan mungkin membuang seseorang yang pernah dia selamatkan.” Aegis melanjutkan, “Jenderal bukanlah orang yang akan menyelamatkan seseorang yang tidak memiliki arti dalam hidupnya. Bila dia menyelamatkan anda, maka dia menganggap anda sebagai orang yang ia percaya.” Helcia terdiam beberapa saat, sebelum membalas, “Apa dia tidak akan membuangku meski aku menangis?” Aegis tersenyum. “Tentu saja tidak.” Helcia kembali menutup mulutnya dengan menggunakan kain ketika Aegis mulai menjahit lukanya. Tanpa disadari, ada aliran air mata yang menuruni pipinya. Air mata itu turut membawa serta seluruh ketakutan serta rasa sakit yang Helcia tahan selama ini. Sekuat apapun dia menahan diri, tetaplah dirinya masi

