Luka ditangan Helcia sudah pulih sepenuhnya ketika tengah malam tiba. Sehingga keduanya memutuskan untuk kembali ke dalam tenda dan meneruskan latihan besok pagi. Rasa kantuk menyerang Helcia, membuat matanya tampak sayu dan sedikit merah. Ia menguap beberapa kali sepanjang jalan, bahkan langkahnya pun sudah tidak lagi seimbang. Orestes membiarkan Helcia berpegangan pada lengannya. “Helcia.” Mendengar panggil kecil dari Orestes, Helcia langsung menoleh dengan malas. “Apa?” “Mengapa kamu tidak pernah mempertanyakan kabar Naya atau Petra?” Helcia yang sebelumnya mengantuk menjadi sadar sepenuhnya saat Orestes memulai pembicaraan serius seperti ini. “Mereka adalah orang – orang yang ada di bawah kendalimu. Tentu Petra dan Naya akan melapor, dan kamu juga sudah pasti memberitahu mereka ke

