Pria itu sudah rapi dengan kaos oblong dilapisi flanelnya. Wajahnya tersenyum manis memandang wanita yang masih terbaring nyenyak di atas kasur. Fikri tidak mau membangunkan istrinya sekarang. Dia masih mau memandang wajah damai sang istri ketika sedang tertidur. Tanpa ada marah atau sedih di sana. Padahal jam baru menunjukkan angka setengah tujuh, tetapi Fikri sudah siap untuk berangkat ke kampus. Namun, dia harus menunggu karena Alin belum terbangun juga. Akhirnya tangan Fikri bermain di wajahnya. Telunjuknya dia usap di bagian dahi, pipi, mulut, kemudian kembali lagi dengan ritme yang sama. Sesekali Fikri menahan tawa ketika Alin kegelian. “Nyenyak banget tidurnya, sih.” Fikri memutuskan untuk pergi dari kamar. Dia berjalan menuju dapur hendak membuat sarapan. Setidaknya Fikri bisa

