Part 40

1005 Kata

Ia menjawab panggilan itu dan bergegas keluar ke lorong. "Tante Silvi! Bibi Cindy bilang kau sudah pergi. Kenapa kau tidak pamit padaku?" Kata-katanya, begitu membutuhkan dan penuh kepercayaan, menusuk hati Miranti seperti seribu jarum kecil. Sudah berapa lama ia mengenal Silvia? Dan kini, ia sudah sangat menyukai Wanita itu. Miranti tak pernah tahu kalau jatuh cinta pada seseorang bisa diwariskan. "Apa? Katamu Ayah pergi denganmu? Oh tidak, kenapa Ayah tidak mengajakku? Kenapa Ayah meninggalkanku sendirian di rumah? Aku juga mau pergi..." Miranti baru saja mengambil pena. Begitu ia meremas gagangnya, jarinya sendiri tertusuk tanpa sadar. Setitik darah segar langsung menggenang, berwarna merah terang. Ia menatap ujung jarinya yang berdarah, matanya kosong, pikirannya kosong. Ia duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN