BAB 6: KUALITAS DIRI NAWANG

1903 Kata
SELAMAT MEMBACA  ***  Pagi ini keluarga Collin sarapan bersama. Mereka sudah melupakan keributan yang kemarin terjadi. Menurut mereka kalau sudah selesai ya sudah, hanya saja mungkin luka yang didapatkan oleh si kembar belum sembuh tapi mereka sudah melupakan semuanya. “A’a nggak pergi ngantor?” Dita bertanya pada Rafa saat melihat putranya itu sarapan dengan menggunakan pakaian santainya. “Malu Bun, mukanya lagi hancur.” Jawab Rafa dengan santainya. “Terus urusan kantor?” “Ada Ayah …” Rafa melirik Ayahnya yang pagi ini sudah memakai pakaian rapi siap pergi kekantor menggantikan dirinya. “Abang belum mulai mulai dinas lagi?” kali ini Dita beralih tanya kepada putranya, Raja. “Belum Bun, masi cuti.” Memang beberapa hari yang lalu Raja baru saja pulang dari misi dan tugasnya terhadap negara. Jadi dia mendapatkan cuti yang lumayan lama sekalian untuk pemulihan fisik dan psikisnya. “Bantu Ayah di kantor Bang,” Rehan yang seharusnya tinggal memantau urusan kantor, dan membiarkan putra-putrinya yang melanjutkan usahanya tapi kini dia harus kembali kekantor untuk mengurus pekerjaannya anaknya. Antara ketiga anaknya memang hanya Rafa yang mengikuti jejaknya sebagai seorang pengusaha. Putra pertamanya, Raja tidak terlalu tertarik terhadap uang dia lebih suka mengabdi. Sedangkan putrinya Giwa ketimbang harus menjadi seorang wanita karier yang duduk di ruang ber AC dengan jabatan tinggi dia memilih mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Giwa adalah seorang guru SD. Hanya Rafa yang bisa Rehan harapkan untuk melanjutkan semua usahanya, tapi juga hanya Rafa anak Rehan yang hidupnya paling tidak lurus diantara kedua saudaranya. Dia yang paling sering membuat kekacauan dan masalah. “Ayo Bang bantu Ayah, ini kan karena kamu juga mukulin A’a jadi muka begitu. Kalau nggak kamu gebukin kan pasti Ayah sekarang bisa santai-santai di rumah.” “Abang mau kencan,” jawab Raja singkat. Dia benar-benar tidak tertlalu tertarik dengan dunia yang menghasilkan banyak uang itu. Menurutnya begitu membosankan. “Halah kencan, kaya punya pacar aja kamu Bang,” cibir Rehan. Rehan tau sebenarnya Raja hanya tidak mau membantunya, segala pakai alasan kencan. “Dia punya lho Mas, siapa kemarin namanya. Siapa Bang?” Dita menyahut ucapan suaminya. “Nawang,” jawab Raja pelan. “Ajakin nanti sore kesini ya Bang.” Raja hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa mengenai permintaan bundanya. “Kamu dengar nggak Bang, Bunda bilang apa?” “Iya Bun,” Raja harus mencari cara agar Nawang mau ikut kerumahnya nanti. Kalau perlu dia akan memaksa Nawang. Raja melirik tajam kearah Rafa yang sejak tadi diam, sedangkan Rafa hanya nyengir tanpa dosa kearah Abang kembarnya.   “Giwa hari ini bolos ya, ikut Ayah kekantor.” Melihat tidak adanya haraoan dari Raja, Rehan beralih pada putrinya pang pagi ini sudah terlihat cantic dengan pakaian pengajarnya. “Giwa hari ini ada UAS Yah, nggak bisa di tinggal dong.” Heran menghela nafas pelan, mendengar kedua anaknya yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. “Ikut Mas ke kantor yuk Be,” Rehan beralih menoleh kepada Dita. “Akhir bulan, restoran sibuk Mas. Mau rekap gaji karyawan aku.” Sepertinya tidak ada orang orang membantu Rehan kali ini. Dia benar-benar malas kembali ke meja kantor. Setelah sekian lama berhenti, Rehan sudah jarang kekantor. Hanya jarang-jarang saat Rafa benar-benar membutuhkan bantuan. *** Brak …. Raja kembali membuka kamar Rafa dengan keras. Rafa yang tengah tiduran di Kasur sambil membaca komik merasa sedikit trauma melihat Abangnya membuka kamar dengan keras. “Dimana kampusnya Nawang A’?” tanya Raja pelan. “Kampus Teknik Negara,” jawab Rafa pelan. “Kasih nomornya,” Rafa langsung mengulurkan ponselnya, dimana layarnya menampilkan deretan nomor ponsel dengan id Nawang. Setelah itu Raja ingin keluar dari kamar Rafa, namun suara Rafa kembali mengentikan langkah Raja. “Bang…” “Apa?” Raja menoleh pada Rafa. “A’a setuju kalau Abang coba kenali Nawang. Dia perempuan yang baik dan polos. Belum A’a apa-apa kan kok Bang, dia terlalu polos nggak suka A’a …” Raja hanya mendengus mendengar ucapan Rafa, ingin rasanya Raja kembali memukul Rafa tapi melihat wajah saudaranya yang sudah terlihat mengenaskan Raja tidak tega menambah lukanya lagi. Tanpa mengatakan apapun, Raja keluar dari kamar Rafa. Meninggalkan Raja yang akhirnya bisa bernafas lega. “Hufftt, selamat …” guman Rafa dengan pelan. Raja kembali kekamar, sesampainya di kamar Raja mencoba menghubungi Nawang. Namun berkali-kali mencoba, tidak ada jawaban dari seberang sana hanya suara operator yang terdengar. Raja lalu kembali kekamar Rafa. “Ini betul nomornya bukan sih A’?” tanya Raja degan nada kesalnya. “Nggak dia anggat ya Bang?” Raja hanya menggeleng. Rafa sudah sering mengalami seperti yang Raja alami. Dia sering menghubungi Nawang dulu saat masih pacaran dan Jarang di angkat entah kemana gadis itu. “Berarti dia nggak di kampus Bang. Coba aja kalau Abang berani datangi kerumahnya. Awas Ayahnya kaya singa lho Bang.” “Sudah ketemu,” jawab Raja acuh. “A’a aja yang selama ini jadi pacar Nawang belum ketemu saya Ayahnya, Abang malah sudah hehehe…” Rafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu kan pengecut,” setelah mengatakan itu Raja benar-benar keluar dari kamar saudaranya. Dia langasung mencari kunci mobilnya, dia akan pergi kerumah Nawang.   *** Raja memperhatikan Rumah rumah yang keamrin dia datangi. Suasananya masih sama, yaitu sunyi. Raja kemudian mengetuk pintu, tak lama kemudia seorang wanita tua membukakan pintu. Raja bisa menebak peremuan itu pasti asisten rumah tanga di rumah itu. “Maaf, Mas ini siapa dan Mas cari siapa ya?” tanya perempuan yang tadi membukakan pintu untuk Raja. “Saya Raja, temannya Nawang. Saya ingin bertemu dia apa dia ada di rumah?” tanya Raja dengan sopan. “Teman Non Nawang ya, silahkan masuk.” Wanita itu memberikan jalan untuk Raja masuk. Raja pun masuk kedalam rumah itu. Dia duduk di sofa yang ada di ruang tamu. “Non Nawang sedang main-main sama Bapak di halaman belakang. Mbok tanyakan dulu apa bisa di ganggu ya Mas?” “Iya Mbok,” Raja menjawab pelan. Lalu perempuan tua itu pergi kehalaman belakang. Raja melihat dinding-dinding di sekelilingnya. Dia tau sekarang, kalau ayah Nawang adalah salah satu prajurit pasukan khusus juga. Pantas saja dia tidak asing dengan wajah ayah Nawang, ternyata ayah Nawang adalah salah satu komandan pasukan khusus yang pernah menjabat. Banyak sekali foto-foto disana, ada Nawang dan Ayahnya yang tengah berfoto dengan seorang laki-laki sepertinya saat acara praspa karena Raja pun memiliki foto yang serupa di rumahnya saat dia praspa dulu. Ada juga foto Nawang saat wisuda SMP dan SMA, semua bersama Ayahnya. Raja lalu bertanya dalam hati dimana ibunya kenapa hanya ada ayahnya. Rehan asik megamati setiap figura yang terpasang, hingga tidak sadar kalau wanita yang atdi membukakan pintu sudah kembali. “Maaf Mas, kalau boleh tanya namanya siapa?” tanya perempuan itu dengan sopan. “Raja,” jawab Raja singkat. “Non Nawang sedang tidak bisa di ganggu, kata Bapak kalau mau menunggu sekitar 2 jam lagi. Kalau manunggu di suruh kehalaman belakang, kalau tidak silahkan pulang.” Raja bertanya-tanya apa yang sedang gadis itu lakukan di siang hari seperti ini, sampai-sampai tidak bisa di ganggu. “Kalau boleh saya tau dimana saya harus menunggu Mbok?” Raja tidak memiliki acara apapun, jadi menurutnya tidak ada salahnya menunggu sekalian dia ingin tau apa yang Nawang lakukan. “Mari ikut saya Mas,” Raja mengikuti kemana perginya wanita tua itu. Mereka berhenti di halaman belakang. Raja antara percaya dan tidak dengan apa yang dia lihat di halaman belakang rumah itu. Apa sekarang dia tengah berada didalam barak pelatihan militer. Bukan bunga ataupun tanaman mahal seperti yang biasa Raja lihat di rumah kebanyakan orang tapi di halaman belakang rumah Nawang nampak di sulap seperti arena latihan militer. Raja melihat ada kolam renang besar, tiang pul up, papan sit up, papan lempar sangkur, arena tembak dan panah juga ada disana. Bahkan yang tidah habis fikir tiang panjat tebing untuk latihan mountenring juga ada disana berdiri dengan begitu tinggi dan kokohnya. Biasanya tiang- tiang serupa hanya akan Raja temukan di barak-barak ataupun bataliyon-bataliyon pendidikan militer dan semua itu ada di halaman belakang rumah seseorang. Meskipun itu adalah rumah seorang purnawirawan komandan pasukan Khusus namun Raja tidak menyangka akan melihat semua ini disini. “Tunggu disini ya Mas,” Raja pun duduk di gazebo yang ada didekatnya. Dari sana dia dapat melihat apa yang tengah 4 orang yang berada jauh di hadapannya itu lakukan. Sedangkan di tempat Nawang berada dia sudah bersiap untuk turun dari atas tebing. “Izin melopor Ayah, Nawang siap malakukan Repling.” Teriak Nawang dari atas. “Laksanakan …” Fluiiitttttttttttttt …. Mendengar suara Fluit yang panjang, Nawang pun perlahan turun dengan gerakan repling. Dia melihat ayahnya yang tengah memegang stopwatch dan fluit sambil menatap kearanya. Sedangkan seorang anak buah Ayahnya tengah menarik carmantel dari bawah dan satu lagi yang lain mengawasi Nawang dari atas. Nawang sampai dibawa, di bantu oleh anak buah ayahnya untuk melepas sit harness yang dia gunakan untuk repling tadi. “Kemarin bisa 2 menit kenapa sekarang malah lebih. Kamu harusnya ulur lebih panjang carmantelmu tadi, tangan kananmu jangan dekat-dekat sama figure of eight ulur dengan teratur kalau tidak mau tanganmu terjepit.” Reno mengoreksi aksi repling yang baru saja dilakukan putrinya. “Ayo naik lagi, kita lihat Running mu, jangan bilang rekormu memburuk dari sebelumnya.” Reno memang sering melatih putrinya dengan kegiatan-kegiatan fisik ala militer. Dia ingin putrinya terbiasa dengan fisik yang keras dan memiliki kemampuan dalam setiap situasi yang sulit karena Reno tidak selalu bisa menjaga putrinya dia ingin putrinya bisa menjaga dirinya sendiri dan tidak ada orang yang berani mencelakai putrinya itu. Menurutnya seorang perempuan itu tidak hanya cantik, tapi dia juga harus cerdas dan memiliki kemampuan lebih untuk mejadikan dirinya berkualitas. Dan itu lah yang selama ini Reno lakukan, Reno melatih Nawang untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekstrim dan berbahaya menurut orang lain namun menurut Nawang dan Reno itu adalah kegiatan yang meyenangkan. Reno juga melatih putrinya itu dengan bela diri yang keras tapi Nawang tidak pernah mengeluh ketika ayahnya melatih hal-hal ekstrin untuk dirinya, karena dia juga menyukainya. Dia suka ketika susuatu hal yang teman-temannya tidak bisa mereka lakukan tapi dia bisa lakukan. “Bosan mountenering Ayah, mau main sangkur.” Main sangkur yang di maksud nawang adalah latihan lempar sangkur. Dia lebih menyukai itu, dari pada harus repling ataupun running. “Kalau sampai tidak pas tengah, Ayah kasih hukuman kamu.” “Jangan remehkan Nawang Ayah,” jawab Nawang dengan sombong. Dia lalu berjalan kesisi kanan halaman. Dimana banyak papan berjajar sebagai objek lemparan sangkurnya. Hap… Lemparan pertama meleset mengenai sisi kiri titik pusat. Sebuah awal yang yang bagus tapi belum memuaskan. Nawang terus melempar sangkur-sangkur itu, Reno juga ikut melempar. Dengan sekali lemparan Reno berhasil mengenai titip pusat lingkaran papan objek itu.  “Kamu kalah sama Ayah,” ejek Reno pada pada putrinya. “Lihat saja, Nawang akan lebih hebat dari Ayah.” Sementara di tempat Raja duduk, dia tengah kagum dengan kemampuan yang Nawang miliki. Raja tidak percaya jika tidak melihatnya sendiri, bahkan bidikan sangkurnya hampir setara dengan prajurit-prajurit terlatih. Jangan lupakan, meskipun dia adalah mahasiswa biasa, namun dia didik langsung oleh ayahnya sendiri yang pernah menjabat sebagai komandan pasukan khusus pastinya dengan kemampuan yang dia miliki. Bisa jadi kemampuan yang sebenarnya Nawang miliki lebih dari apa yang sekarang Raja lihat. Raja benar-benar melihat kualitas diri perempuan yang sebenarnya pada diri Nawang.   **** BERSAMBUNG **** YOGYAKARTA, 11 AGS 2021 SALAM  E_PRASETYO   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN