Chapter 9

1125 Kata
Kaki Abigail telah menginjak pasir pantai di mana di depan sana telah ada pulau indah yang terbentang indah dengan pandangan yang memukau mata. Jika Evelyn benar-benar memaksa untuk di bawa ke tempat ini, maka Abigail tahu sekali alasannya. Keindahan tempat ini akan membuat siapapun menginginkan berada di sini. Abigail saja tidak kuasa menahan senyumnya ketika berada di sini. Tadi dia sangat yakin kalau dia marah sebab pria itu membawanya dengan ancaman kurang ajarnya. Memakai anak mereka sungguh keterlaluan dan Abigail juga sangat yakin kalau dia akan membenci ke mana saja Ethen membawanya. Sayangnya dia tidak bisa sejauh itu. Tempat ini tidak mengizinkannya untuk membenci lebih lama lagi. Setidaknya dia masih kesal pada Ethen. Tapi dia tidak bisa kesal pada tempat ini. "Kau bisa nikmati pemandangannya sepuasmu nanti, kita akan di sini sampai satu minggu ke depan jadi siapkan dirimu." Abigail menatap suaminya dengan tampang melongo. "Kau bercanda?" Abigail mengejar Ethen yang sudah berjalan dengan santainya. Abigail menatap tampilan santai dari pria itu. Dengan celana panjangnya yang dia gulung juga gulungan pada lengan kemejanya. Rambutnya terlihat berantakan oleh angin pantai. Dengan tampilan seperti itu, dia terlihat lebih manusiawi. Tampilan dinginnya sedikit memutar walau mata elangnya tidak terlihat berubah sama sekali. "Kita tidak mungkin meninggalkan Percy selama itu, Ethen. Aku tidak apa-apa di sini. Tapi jangan satu minggu, itu terlalu lama. Dia membutuhkan aku." Ethen memutar tubuhnya dan memperhatikan perempuan di depanny dengan mata menyelidik. "Apa kau sungguh-sungguh, Evelyn yang aku kenal?" Abigail menelan ludahnya mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu? Tentu saja aku Evelyn, pikirmu ada yang bisa seperti aku?" Sengaja Abigail mengangkat dagunya, untuk terlihat lebih meyakinkan. Keraguan menyelimuti wajah pria itu dan Abigail tidak bisa membuat dia ragu di saat ini. Ethen mengangkat tangannya. Matanya memperhatikan bagaimana tubuh itu mencoba bertahan di tempatnya dan Ethen sangat yakin, butuh lebih banyak hal untuk membuat sosok di depannya bertahan. Jelas perempuan itu menghindari sekali sentuhan Ethen, dan itu adalah hal baru bagi pria itu. Selama ini Evelyn tidak pernah menghindar darinya. Evelyn tergila-gila padanya tapi tidak dengan yang sekarang berada di depannya. Entah apa yang membuat sosok ini berubah, jika memang perlakukan Ethen yang selama ini yang membuat dia berakhir seperti itu maka Ethen patut bersyukur karena Evelyn tahu tempatnya dengan benar. Tapi kenapa dia tidak bahagia? Abigail melihat tangan itu terhenti saat akan menyentuh entah bagian mana pada wajahnya. Mata elang pria itu tampak kehilangan fokusnya sesaat dan itu membuat Abigail memiliki celah untuk menolak sentuhan pada pria itu, tanpa terlihat menghindar tentu saja. Segera Abigail mengambil langkah untuk berjalan di depan pria itu. "Pulau ini indah sekali," ucapnya dengan kekaguman yang dibuat-buat. Jelas kekagumannya memang nyata tapi kekaguman itu diutarakan dengan maksud yang berbeda. Ethen menatap perempuan itu yang berjalan meninggalkannya. Mata elangnya memperhatikan dengan seksama dan dia merasa dugaannya benar-benar tidak salah. Tapi mana bisa seseorang bisa berubah hanya dalam satu malam. Segalanya menjadi berbeda saat Evelyn membuka matanya setelah melahirkan Percy. Apa arti perubahan itu yang harus dia cari tahu. Apa Evelyn memiliki rencana jahat lagi dibalik semua ini atau ada alasan lainnya? Segalanya tampak normal dalam diri Ethen, hanya saja rasa tidak bahagianya mengetahui fakta kalau perempuan itu seolah tidak lagi menginginkannya membuat Ethen merasa amat buruk. Jelas selama ini Ethen tidak memiliki perasaan apapun pada Evelyn, dia bisa tahu itu dengan jelas karena Evelyn memang bukan bagian yang dia inginkan ada di dunianya. Tapi kenapa sekarang hatinya seolah berubah haluan. Sialan, dia tidak mungkin mendapatkan karmamya sekarang bukan? Ethen mengepalkan tangannya dengan tatapan kesalnya pada istrinya. "Sebaiknya kau benar-benar suka dengan pemandangannya, karena tidak ada yang bisa membuat kita pulang hingga satu minggu ke depan. Itu adalah perintah ayahmu langsung, aku tidak akan menyakiti perasaannya dengan membuat dia mempertanyakan seperti apa rumah tangga kita jika kau terus memaksa untuk pulang secepatnya." Abigail kini mengerti. "Jadi ayahku yang mengatur semua ini untuk kita?" Ethen mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Kita akan terus di sini sampai ayah percaya kalau rumah tangga kita baik-baik saja." Abigail tersenyum dengan cerah di depan Ethan lalu dia berlalu meninggalkan pria itu yang diam di tempat. Ethen memegang dadanya. Sialan, dia harus memeriksa dirinya ke dokter secepatnya. Abigail masuk ke salah satu kamar yang paling besar dan ada hanya satu-satunya di lantai bawah. Dia segera tertarik pada kamar itu sejak pertama dia melihatnya. Abigail menggeliat dengan senyumannya dan segera menjatuhkan diri ke atas ranjang. Dia sepertinya bisa menjemput lelapnya sekarang karena waktu telah menunjukkan tengah malam. Dia harus melihat bagaimana pulau ini di pagi hari besok. Dia akan segera tidur dan besoknya dia bisa bangun dengan perasaan yang lebih baik. Dia terpejam dengan senyuman bahagia. Tapi pejamnya terganggu begitu dia merasakan kalau dia tidak sendiri di tempat ini. Ada seseorang yang baru saja masuk setelah suara pintu terbuka. Mata Abigail terbuka dan terbangun saat dia melihat siapa yang ada di tengah kamar. Sedang berdiri santai dengan tangan membuka satu per satu kancing kemejanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Abigail setengah kesal. Ethen menatap istrinya dengan santai. "Tentu saja mau membersihkan diri dan tidur bersamamu di sana." Ethen menunjuk ke ranjang. Abigail segera meraih selimut tebal itu dan melilitkan dirinya dengan selimut itu. "Aku tidak sudi satu kamar denganmu, Ethen. Cari kamarmu sendiri sana." Ethen mendengus. "Kau pikir aku juga menginginkannya? Jangan terlalu tinggi menilai dirimu, Eve. Tempat ini hanya memiliki satu kamar karena tempat ini adalah tempat pasangan berbulan madu. Jadi tahan dirimu untuk menginginkan aku di sini dan jangan berlebihan dengan sikapmu." Abigail semakin erat memegang selimutnya. Seakan selimut itu akan menjatuhkan diri jika Abigail tidak melakukan itu. "Jangan terlalu kecewa, Eve. Kau akan tidur di sofa itu dan aku di ranjang. Gampang bukan?" "Apa? Kenapa aku?" Ethen melepaskan bajunya. Segera saja Abigail memalingkan kepalanya ke arah dinding. Tidak bisa melihat pada pria itu yang tidak tahu malu dan tidak kenal tempat melepaskan pakaiannya. "Jadi kau ingin seranjang denganku?" Abigail mendengus. "Tidak akan pernah." "Nah itu alasannya. Karena kau tidak ingin diranjang yang sama denganmu maka kau harus di atas sofa." Abigail akhirnya menatap pria itu dengan tatapan yang dipenuhi dengan amarah. "Kau saja yang tidur di sofa dan aku di ranjang. Memangnya kau mau satu ranjang denganku?" Abigail memutar balik pertanyaan karena jelas dia tahu jawaban Ethen. "Tidak masalah bagiku. Kau bisa di ranjang yang sama denganku." Abigail tercengang. Tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Setelah mengatakan hal demikian, Ethen berjalan masuk ke kamar mandi dan bersiul dengan perasaan yang tampknya sangat bahagia. Sedang Abigail menjadi orang yang menggigit perasaannya sendiri. Akhirnya Abigail beranjak dari ranjang. Mengambil selimut dan satu bantal lalu dia menjatuhkan diri ke atas sofa. Tidak apa-apa, dia bukannya tidak pernah tidur di ranjang. Ini bukan hal yang berat baginya. Jadi dengan pikirkan positif itu, mimpi segera menjemputnya. Bahkan saat dia merasakan tubuhnya sepertinya melayang, Abigail hanya bisa tersenyum dengan lebih menyamankan diri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN