"Siapkan mobilku sekarang!" perintah Ethen dengan suara menggelegar. Beberapa kali dia menyugar rambutnya untuk menemukan ketenanganya tapi semakin detik beranjak, semakin banyak pikiran bercabang di otaknya. Ketakutan-ketakutannya menjelma nyata. Dia tidak ingin perempuan itu terluka. Dia tidak suka ada yang melukai perempuan itu. Dia tidak mau perempuan itu meninggalkannya. "Tuan..." Ethen memutar kepalanya, hampir bertanya kasar pada pelayan yang datang menyapanya. Tapi tubuh gemetar pelayan itu membuat Ethen menahan diri dan tidak berkata apa-apa dan hanya menatap saja tanda dia meminta penjelasan atas kedatangan si pelayan. "Saya... rasa tahu siapa yang harus di temui... Nyonya." "Siapa?" "Pelayan pribadinya. Davema." "Apa?" "Selama saya mengantar makanan ke kamar, Nyonya. Dia

