Lembaran kertas putih ukuran A4 yang sudah tertimpa oleh tinta print hitam memenuhi lantai keramik putih sebuah kamar kos. Ada pula kertas berukuran B5 dengan hasil desain cantik dan warna menarik yang telah dilewatkan mesin printer juga ikut memenuhi kamar kos berukuran 3 x 4 meter itu.
Sepasang tangan yang dilapisi dengan kaos berlengan panjang tampak sibuk mengurutkan hasil print yang berantakan. Matanya juga ia fokuskan pada selembar kertas yang berisi catatan penting. Selain itu, ia juga memfokuskan netranya pada layar laptop yang menampilkan sebuah dokumen. Tangan dan mata itu adalah milik seorang gadis berumur 20 tahun yang bernama Ayana Anastasiya.
Ayana Anastasiya adalah seorang mahasiswa tahun akhir, tahun ke-empat di salah satu universitas negeri di Surabaya. Ayana adalah nama panggilannya. Singkatnya lebih sering dipanggil Ay. Seorang perantau dari sebuah kabupaten di Jawa Timur yang menghabiskan waktu perjalanan kurang lebih dua jam untuk mencapai Surabaya—Kabupaten Jombang.
Pagi ini ia sedang disibukkan dengan kertas-kertas yang baru saja keluar dari mesin printer. Entah sudah cetakan yang ke berapa, Ayana tidak pernah lelah untuk terus merevisi skripsinya karena tujuannya saat ini adalah ia dapat lulus tepat waktu, tepat di semester 8 nanti karena saat ini ia masih duduk di bangku semester tujuh.
Banyak quotes yang menyatakan bahwa seseorang sebaiknya lulus di waktu yang tepat, tetapi banyak pula yang menyatakan bahwa sebaiknya seseorang lulus tepat pada waktunya. Hal itu tentu tidak dapat disamaratakan untuk semua orang karena setiap individu mempunyai targetnya masing-masing. Dan untuk Ayana, ia ingin lulus tepat waktu pada batas akhir masa perkuliahannya. Ia tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya hanya untuk menambah semester demi mengerjakan skripsi saja. Apalagi biaya Uang Kuliah Tunggal atau biasa disebut dengan UKT yang ditangguhkan kepadanya tidak kecil, empat juta rupiah, angka yang cukup besar untuk biaya perkuliahan selama satu semester. Maka, lulus tepat waktu adalah targetnya saat ini, tentunya dengan hasil yang harus maksimal.
Meskipun Ayana dikejar oleh waktu, dirinya tidak ingin mengerjakan skripsi secara tergesa-gesa dengan hasil yang acak-acakan. Ayana bukan mahasiswa seperti itu. Ia adalah tipe mahasiswa yang menganut kesempurnaan dan kemaksimalan dalam mengerjakan sesuatu. Di waktu yang tersisa ini, ia harus mampu memanfaatkan dan memaksimalkannya dengan baik.
Dan pagi ini adalah salah satu aktivitas yang Ayana lakukan secara kontinu dan sudah berjalan dari akhir semester enam kemarin yaitu mencetak proposal skripsi dan produk skripsi—Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) atau yang banyak dikenal orang dengan sebutan LKS—yang ia kembangkan setelah mendapatkan komentar, saran, dan masukan dari dosen pembimbing.
Sejak selesai sholat Shubuh Ayana sudah berhadapan dengan laptop dan printer. Hingga sinar matahari menyebar ke bumi dan membuat alam semesta terang, Ayana belum juga beranjak menjauh dari kedua benda tersebut.
“Heh, ayo ayo semangat, Ay! Nggak boleh kendor semangatnya!” ucap Ayana untuk menyemangati dirinya sendiri dengan suara yang penuh semangat menggelora. Ia mengubah posisi duduknya agar p****t dan kakinya tidak kesemutan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lebih, akhirnya Ayana sudah menyelesaikan urusannya hari ini dengan kertas-kertas itu. Satu cetakan proposal telah tertata rapi dengan cover berupa judul skripsi, logo universitas, dan identitas diri. Dan satu tumpukan kertas B5 dengan cover yang berisi judul produk yang dikembangkan Ayana, beberapa gambar lumut, kotak untuk menuliskan identitas siswa SMA, dan identitas penulis. Setiap tumpukan kertas itu Ayana satukan menggunaan klip penjepit kertas dari stainless stell yang berukuran besar.
Ayana menghembuskan napas lega ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikan semua itu sebelum pukul 8. Ia ada janji temu dengan dosen pembimbingnya pukul 9 pagi tepat.
***
Ayana adalah salah satu mahasiswa semester tujuh jurusan biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, tepatnya mengambil program studi (prodi) pendidikan biologi. Tidak ada alasan khusus kenapa kala lulus SMA dirinya memutuskan mengambil prodi itu. Yah ada alasan sebenarnya, tetapi bukan alasan yang sudah direncanakan sejak lama. Bisa dikatakan ia mengambil prodi itu secara spontan karena tidak memiliki pandangan atau plan B setelah ia ditolak dalam jalur SNMPTN atau masuk PTN berbasis nilai rapor.
Semua berawal dari tidak lolosnya Ayana dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN. Ia sempat down, menangis karena namanya diblok dengan warna merah pada web pengumuman. Ayana yang memang sangat ingin berkuliah maka mengambil langkah dengan mendaftarkan diri untuk mengikuti Seleksi Bersama Masuk PTN atau lebih mudahnya disebut sebagai tes tulis. Kegagalannya dalam SNMPTN membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil prodi. Ia melihat peluang atau persentase daya tampung dari prodi yang akan dipilih. Hingga akhirnya dengan yakin Ayana memilih prodi pendidikan biologi di universitas negeri di Surabaya dan di Malang.
Takdir yang memang sudah digariskan oleh Allah pasti takdir yang terbaik. Dengan prodi yang ia pilih, ia diterima di universitas negeri di Surabaya. Berkuliah di sini, Ayana dapat bertemu dengan teman-teman, oh bukan teman melainkan sahabat-sahabat yang luar biasa baik, seperti keluarga. Layaknya hubungan yang terikat dalam persahabatan, Ayana berada pada circle teman-teman yang pemikirannya hampir sama dengannya dan begitu memahaminya.
Bukan ia menolak akses pertemanan dengan orang lain, ia berteman dengan siapa pun. Hanya saja untuk beberapa hal dirinya lebih percaya pada para sahabatnya yang menyebut diri mereka sebagai Netizean Budiman. Di hadapan mereka, Ayana dapat mengambil banyak pelajaran hidup dan mendapatkan sahabat yang selalu mengingatkannya pada kebaikan.
Netizean Budiman terdiri atas tujuh orang yaitu Ayana, Nia, Asti, Fitri, Rahma, Nugi, dan Fina. Mereka dipertemukan pada mata kuliah Ekologi di semester empat karena pengerjaan tugas proyek. Dan semenjak itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Entah untuk mengerjakan tugas, ghibah, jalan-jalan mengelilingi Surabaya, dan makan.
Walaupun mereka berasal dari daerah yang berbeda, budaya yang berbeda, mereka tetap dapat saling bertukar pikiran tanpa membedakan. Mereka juga satu frekuensi dalam hal kerecehan. Hal itu yang membuat mereka betah berteman hingga semester tua seperti sekarang.
Ayana juga mendapatkan pengetahuan tentang biologi semakin dalam dan luas. Ketika masa SMP dan SMA hanya sekerdar tahu materinya saja, maka ketika perkuliahan ia juga harus mencari dan membuktikan ilmu itu melalui kegiatan percobaan, pengamatan maupun praktikum. Mulai dari mengamati sayatan tanaman melalui mikroskop, mengamati organisme yang terdapat pada air, membedah hewan untuk mengamati organ-organnya, memelihara bakteri dan virus, mengukur tanaman, menumbuhkan biji tanaman, membuat awetan tanaman atau pun hewan, dan banyak kegiatan lain yang menyenangkan.
Dan yang paling disenangi oleh Ayana dari jurusan biologi adalah ia bisa melakukan pengamatan di laboratorium terbesarnya biologi yaitu alam. Beberapa kali ia melakukan praktikum lapangan di alam terbuka di antaranya adalah Taman Nasional Baluran Situbondo, Mangrove Labuhan Education Park Madura, dan Coban Rondo Malang. Di alam terbuka itu, Ayana merasa begitu terkagum akan ciptaan Allah yang luar biasa indahnya. Matanya juga semakin terbuka bahwa ilmu dapat diperoleh di mana pun.
***
Ayana sudah siap dengan rok plisket warna milo dan atasan blouse batik. Kerudung segi empat warna milo yang telah dilipat berbentuk segi tiga sudah terpasang di kepalanya. Jarum pentul telah diselipkan di bawah dagu kemudian tiap-tiap ujung kerudung ia sampirkan ke kanan dan ke kiri bahu untuk menutup d**a. Tak lupa ia memasangkan bros kecil pada kerudungnya.
Polesan make up tipis membuat Ayana semakin cantik. Ia memeriksa sekali lagi penampilannya. Penampilannya sudah oke dan tidak ada yang terlihat aneh. Lalu Ayana memasukkan dua tumpukan kertas yang tadi ia cetak ke dalam tote bag-nya. Ia juga memasukkan buku kecil dan bolpoin untuk mencatat hal penting yang disampaikan oleh dosen pembimbing. Tak lupa dompet dan juga handphone ia bawa, dua benda penting yang tidak boleh tertinggal.
Duduk di mulut pintu kamar, Ayana mengenakan sneaker warna peach yang ia beli beberapa bulan lalu di salah satu department store di Royal Plaza. Setelah kedua kakinya terlingkupi oleh sepatu, ia segera berdiri untuk mengkunci pintu kamarnya.
Ayana berjalan dengan santai menuju lantai satu. Melihat kamar Asti—salah satu sahabatnya yang juga tinggal di rumah kos yang sama—yang pintunya terbuka, membuat Ayana melangkahkan kakinya ke sana.
“Nggak ke kampus, As?” tanya Ayana dengan berdiri tepat di tepi pintu.
“Ke kampus. Kamu mau bimbingan?” tanya Asti balik. Asti tampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Sepertinya ia juga sedang fokus mengerjakan skripsi.
Ayana mengiyakan. Bunyi notifikasi pada handphone Ayana membuatnya mengalihkan fokusnya ke handphone yang sedang berada dalam genggaman. Pesan dari salah satu rekan yang satu dosen pembimbing dengannya—Nufi—yang mengabarkan bahwa ia sudah berada di depan kos Ayana.
“Aku berangkat dulu, ya. Kamu nanti sama Nia kah berangkatnya? Aku ini bareng sama Nufi,” jelas Ayana.
“Minta jemput Fina aku. Hati-hati, nanti kalau sudah selesai jangan lupa ke ruang baca jurusan,” ucap Asti mengingatkan.
Netizean Budiman di masa-masa akhir perkuliahan seperti ini sering nongkrong di ruang baca jurusan, baik untuk mencari referensi dari skripsi kakak tingkat, mengerjakan skripsi, atau memanfaatkan WiFi untuk berselancar ke dunia maya dan mencari sumber skripsi yang lain. Dan hari ini, mereka berencana untuk mengerjakan skripsi di sana.
“Oke. Aku duluan ya,” pamit Ayana.
Ayana berjalan meninggalkan pintu kamar Asti menuju depan kos. Tidak membawa kendaraan pribadi ke kota perantauan membuat Ayana sering nebeng teman untuk pergi ke kampus. Terkadang ia berjalan kaki menuju kampus yang menghabiskan waktu kurang lebih 15-20 menit. Namun hal itu hanya ia lakukan saat dirinya telah siap lebih awal dari jam perkuliahan, jika sudah mepet Ayana akan memesan ojek online demi tiba di kelas tepat waktu. Apalagi di semester tua seperti ini dan kemajuan teknologi yang pesat membuatnya semakin malas jika harus berjalan kaki menuju kampus kecuali terpaksa. Awal-awal menjadi mahasiswa dulu, Ayana masih begitu bersemangat, berjalan kaki sejauh apa pun bukanlah hal yang memberatkan. Sekarang Ayana sudah tidak sesemangat itu lagi untuk berjalan kaki.
Ayana dan Nufi telah tiba di parkiran fakultas. Setelah memarkirkan motor pada area yang masih kosong, mereka berdua berjalan ke arah gedung jurusan biologi. Mereka memasuki gedung dan berjalan ke arah ruang dosen. Sudah tampak Vita, salah satu rekan satu dosen pembimbing skripsi mereka yang sedang duduk di kursi depan ruangan Bu Puspa—dosen pembimbing skripsi mereka.
“Bu Puspa apa sudah datang?” tanya Nufi setelah berdiri di hadapan Vita.
“Belum. Masih jam 9 kurang lima menit juga, sepertinya masih ada jam ngajar” jawab Vita setelah mengecek jarum jam pada pergelangan tangan kirinya.
Ayana pun bergabung duduk di sebelah Vita diikuti oleh Nufi. Mereka berjejer sambil menunggu Bu Puspa datang. Sebagai mahasiswa, datang lebih awal dari jam janji adalah suatu kewajiban. Menunggu kedatangan dosen adalah salah satu langkah untuk melatih kesabaran jika sang dosen tidak segera tiba sesuai jam janji. Apalagi mahasiswa yang memang membutuhkan keberadaan dosen, maka menunggu dengan sabar adalah suatu keharusan.
Pukul 9.10, Bu Puspa masuk ke dalam ruangannya. Tampak beliau baru saja mengisi jam perkuliahan karena tas laptop yang berada dalam genggaman. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, mereka diminta untuk masuk ke dalam ruangan beliau dan memulai bimbingan.