River baru saja melihat Moko terbang menjauh, sedangkan George seperti tersetrum listrik ketika mendapatinya telah berdiri dekat. Dia tidak langsung memberikan hukuman, tatapannya mencari-cari ada di mana nyamuk satunya lagi.
"Ada di mana Rosa? Aku yakin bahwa kejadian tadi berkaitan erat dengannya."
"R—rosa?"
George baru ingat kalau dia hendak pergi menemui pujaan hatinya itu setelah berbincang kalau bukan karena dihalangi oleh sosok sang profesor. Dia menyipitkan mata, menerawang jauh tiga kali lipat agar dapat melihat sisi dapur.
"Oh, sepertinya percuma saja. Aku lupa kalau mengalami rabun jauh. Sepertinya kita harus melihat Rosa dari dekat."
River mengikuti ke mana nyamuk terbang. Dia yang lebih dulu sadar kalau hal buruk sedang terjadi, lantas segera melewati George untuk menyelamatkan nyamuk yang sudah tidak berdaya di dalam oven. Dia memang ingin menghukum nyamuk-nyamuk nakal itu, tetapi bukan seperti cara yang dilihatnya sekarang.
"Rosa, Rosa!" George berusaha membangunkan, sayangnya tidak ada pergerakan, menggelapkan hidupnya seketika. "Profesor River, lakukan sesuatu! Rosa, Rosa ... tidak mungkin! Jangan tinggalkan aku, Rosa!"
River bergegas menuju ruang penelitian. Dia membaringkan nyamuk kecil yang lunglai itu, melakukan usahanya sebaik mungkin untuk menyelamatkan Rosa.
George hanya memandang nanar, kehilangan akal bagaimana cara menyelamatkan. Dia hanya fokus menyalahkan diri sendiri karena telah mengurung pujaan hatinya di dalam oven. Seharusnya dia membiarkan Rosa melakukan apa yang ingin dilakukan saja, seharusnya dia tidak mencegahnya.
Memang cinta itu buta, George tidak dapat berpikir jernih.
Beberapa waktu berlalu, Rosa akhirnya sadarkan diri. Dia melihat ruangan serba putih yang asing di penglihatannya. Ada di mana dia sekarang? Dan apa yang telah terjadi? Dia ingat bahwa hidupnya sedang dipertaruhkan terakhir kali. Sepertinya dia tidak jadi mati dengan matang.
Rosa memperhatikan sosok yang tidak asing di depan sana. Dia tidak salah lihat bahwa ada seseorang dengan jas laboratorium sedang membelakangi, bukan? Itu pasti adalah profesor, tetapi kenapa bisa ada di tempat yang sama dengannya?
Rosa ingin bangkit, sejurus kemudian perhatiannya teralih pada sosok yang lain. George tampak kelelahan bersandar di suatu tempat yang dekat dengannya seolah sedang menunggui dirinya.
"George ...."
Tidak ada reaksi. George sudah tenggelam dalam mimpi indahnya. Rosa perlahan mengepakkan sayapnya, melihat apa yang sedang dilakukan sang profesor sejak tadi.
River tidak terkejut melihat seekor nyamuk datang ke mejanya. Dia tahu kalau Rosa sudah bangun, mendengar suara yang memanggil tadi.
"Kau sudah bangun, Rosa?"
"Apa Profesor yang menyelamatkanku?"
"Entah siapa yang menyelamatkan atau diselamatkan, aku ingin kita langsung pada inti permasalahannya."
Perkataan barusan membuat ingatan Rosa kembali. Dia telah melakukan kesalahan dengan memberikan racun gatal, sudah pasti River ingin menuntut penjelasan serta permintaan maaf darinya.
"Kau tidak mematuhi kesepakatan sebagaimana mestinya, racun gatal hanya boleh digunakan ketika nyawa terancam, sedangkan aku tidak berpikir kalau keegoisanmu adalah sesuatu yang dapat mengancam nyawa bangsamu."
"Semua karena profesor." Rosa akhirnya memberanikan diri untuk bicara, mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahan. "Dua orang wanita tinggal di dalam satu rumah, bukankah sesuatu yang harus diwaspadai? Meskipun masih ada Potato, semua orang tahu dia ada di pihak siapa."
"Aura, dia adalah istriku dan Rana adalah robot yang aku rancang dapat menurunkan serta menghentikan hujan."
"Aku tidaklah bodoh, Profesor. Sejak hari itu di mana halaman kota menjadi sumber perhatian sampai detik ini, aku tahu kalau ada yang tidak beres. Bukankah mereka berasal dari dunia lain yang kau sembunyikan? Jadi, jangan berusaha menyembunyikannya lagi dalam pembicaraan kita."
River tidak heran, karena Rosa memang nyamuk yang pintar dari kalangannya. "Kau benar. Dan kami tidak memiliki hubungan dekat, kami hanya berteman."
"Siapa yang tahu? Salah satu dari mereka bisa saja memiliki perasaan pada profesor atau justru keduanya.
"Itu tidak benar. Mereka hanya pengunjung yang akan pergi ketika waktunya tiba. Aura sudah memiliki suami, sekarang sedang menjalani kehamilan, dan aku yakin kalau dia tidak terpikirkan untuk melupakan suaminya secepat itu."
"Bagaimana dengan Rana? Apa Profesor bisa memastikan kalau dia tidak menyukaimu?"
"Rana, dia ... hanya menganggapku sebagai teman."
River baru sadar akan interaksi mereka beberapa waktu belakangan ini. Rana menunjukkan sikap yang aneh, berada dalam suasana hati yang buruk tiba-tiba, mungkin sejak pembahasan pagi itu mengenai ramalan. Bahkan, dia juga mendengar percakapan Rana dengan Potato yang ingin mengetahui tentang ramalan mereka.
Dia tidak berpikir bahwa itu memiliki alasan khusus. Tidak mungkin, bukan, kalau Rana jatuh hati padanya? Kenapa dia tidak memikirkan sampai ke sana? Dia terlihat seperti pria yang tidak pernah dekat dengan wanita saja.
"Bukankah Profesor sendiri ragu? Untuk itu, usir mereka dari rumahmu. Profesor tidak seharusnya mempercayai orang asing. Mereka bisa saja mata-mata yang dikirimkan Orde untuk menginformasikan tentang perkembangan penelitianmu. Kau tahu, bahwa dia dapat melakukan apa saja demi sebuah inovasi."
Profesor pikir, kenapa Orde selalu mengasingkanmu? Memojokkanmu dengan cara merendahkan, padahal orang-orang tahu kalau karya profesor banyak diminati. Profesor adalah seorang genius dan semua orang setuju bahwa profesor berhak masuk ke dalam akademi. Maka dari itu, Orde mengirimkan mata-mata hanya untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan kinerjamu supaya dia tidak bisa disaingi."
"Perkataanmu tidak masuk akal."
Rosa terdiam untuk sesaat. "Kami akan berhenti menggunakan racun gatal. Tenang saja. Aku tidak tertarik pada perkembangan teknologi, meskipun membutuhkannya untuk bertahan dengan kesepakatan kita. Jadi, mengenai dua makhluk terdampar itu, aku tidak akan ikut campur." Baru dia terbang keluar dari ruang penelitian tersebut.
George sendiri sudah sadar dan mendengar beberapa kalimat dari percakapan. Dia langsung terbang menyusul Rosa, berhenti sebentar untuk melihat sang profesor yang mematung.
"Rosa hanya memikirkan tentang dirimu selama hidupnya, Profesor."
River terduduk di kursinya, ragu dalam pemikiran sendiri. Dia tidak pernah memikirkan tentang Rana yang mungkin saja berbohong, mengelabuinya dengan mengatakan persoalan Bumi demi mengulur waktunya untuk lolos ke akademi.
Orde memang selalu tidak suka padanya, sikap pria itu pun tidak bisa ditebak dengan mudah. Meskipun banyak yang tidak menyukainya, akan tetapi dia tidak pernah berpikir buruk mengenai Orde. Bagaimana jika dia selama ini dianggap sebagai saingan?
River menoleh pada Stardust, apa benda itu juga cerminan sebuah kebohongan? Mustahil penduduk Bumi mengetahui tentang Stardust, mustahil ada yang bisa membuat mesin waktu.
Anggap saja bahwa seseorang di tahun 2022 mengetahui sesuatu di tahun 2089, menciptakan Stardust yang begitu persis. Kemungkinan yang dia dapatkan ada dua yaitu seseorang tersebut pernah datang ke dunia Stardust atau memang yang menciptakan Stardust itu sendiri.
Kalau begitu, bukankah Stardust bukanlah apa yang diketahuinya? Bentuk penyempurnaan dari Bumi, bahwa Stardust ternyata adalah dunia tunggal yang lain, memiliki kehidupan yang hampir sama dengan Bumi.
Jika memang begitu, untuk apa Stardust diciptakan? Untuk apa dunia masa depan yang modern ini ada? Apa semata karena ingin kehidupan yang jauh lebih maju? River yakin bahwa permasalahan tidak semudah itu.
River mengacak-acak rambutnya. Semakin dipikirkan, semakin tidak dapat dipercayai. Dia terpengaruh akan ucapan nyamuk kecil yang sudah dikenalnya lebih dulu dari tamu di rumahnya. Rosa adalah nyamuk yang diperkerjakan untuk mencari informasi dan selama ini tidak ada yang meleset. Apa dia harus percaya pada Rosa atau percaya pada Rana yang belum lama dia kenali?