Bab 31: Penyamaran Rana

1010 Kata
Potato akhirnya tidak kuasa lagi melalui beberapa hari ini yang sungguh menguras hati dan pikiran. Dia yang tidak memiliki air mata itu, hanya mengeluarkan suara tangis nyaringnya, memekakkan telinga setiap orang. Beruntung dia hanyalah robot, tidak merasakan perasaan buruk itu begitu mendalam. Setidaknya sikapnya merupakan interpretasi kebanyakan makhluk yang memiliki perasaan. Dia mempelajarinya dan menurutnya yang suka pada golongan manusia, harus bersikap seperti orang yang sedang menangis sekarang. Mereka yang berbaring menutup kedua telinga, akan tetapi sama sekali tidak mempan. Suara itu lebih nyaring daripada paus di lautan. Sebelum Potato membuat gendang telinga pecah, mereka segera bangkit dan berusaha untuk menenangkan. Namun, robot itu semakin menangis terisak-isak saja ketika melihat kedua kaki pemiliknya yang belum pulih sempurna, menambah daftar tekanan yang dia alami. "River, katakan sesuatu yang dapat menenangkannya!" Rana berseru, masih menutup telinga dengan kuat. "Kalau terus begini, aku tidak tahan lagi!" Bukannya menenangkan, justru River mematikan sistem daya robotnya sendiri. Suara seketika lenyap, menyisakan rasa jenuh yang akhirnya ikut memudar. Mereka tidak lagi terombang-ambing dalam gelombang suara nyaring Potato. Termasuk pula pada Aura yang sibuk dengan kegiatannya di dapur, tidak lagi menutup telinga. Pandangan mata orang sekitar yang ikut mendengar tangisan Potato terheran-heran dan bertanya mengenai penyebab robot sang profesor menangis itu. Karena bukan hanya sekali mereka pernah mendengarnya. Rana dan River sendiri adalah orang yang paling lega setelah berhasil menghentikan tangisan yang dapat membuat banyak orang terusik. Mereka saling memandang dalam artian akhirnya bisa keluar dari permasalahan besar. "Dia ... berhenti." Rana akhirnya berucap. "Ya, aku mematikannya. Semoga Potato tidak marah padaku ketika sadar nanti." "Lalu, sekarang bagaimana?" "Aku perlu mengatur ulang sistemnya. Potato tampaknya sudah diambang batas. Dia mengalami shock berat." "Tunggu sebentar! Jika kau mengatur ulang sistemnya, maka apa yang terjadi? Apa Potato akan hilang ingatan?" "Tidak. Aku hanya akan membersihkan memori buruk yang menumpuk." "Baiklah. Itu bagus. Biarkan Potato hidup dengan tenang tanpa ingatan buruk." "Sekarang aku membutuhkan tempatku, meja kerjaku. Dapatkah kau memapahku ke sana?" Rana ingin menganggukkan kepala, setuju untuk membantu. Hanya saja, ingatan mengenai kemarin kembali muncul. Dia sudah bertekad untuk meminta maaf atas apa yang dilakukannya. "S—sebelum itu, aku ingin meminta maaf padamu soal kejadian kemarin. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, mungkin lelah telah membuatku berlaku demikian." River sebenarnya juga tidak diingat jika tidak dibahas lagi. Dia hanya memikirkan alasan kenapa Rana tidak melihatnya sejak saat itu, berpikir mungkin saja dia telah melakukan kesalahan. Namun, sepertinya dia salah karena Rana memiliki alasan pribadi yang mungkin saja tidak harus dia tahu. "Aku mengerti. Sekarang, dapatkah kau membantuku, asistenku?" Rana yang polos tampak gugup ketika mau tidak mau dia harus bergerak, memapah River hingga sampai ke meja kerja. Dia juga membantu untuk mendorong Potato agar jarak mereka lebih dekat saat memberikan service kecil pada Potato. Tidak ada yang dapat Rana lakukan setelah itu. Dia hanya melihat bagaimana River begitu serius mengatur apa yang dikatakan tadi padanya. Gerakan pria itu begitu mahir seolah sudah sering melakukannya. Wajar saja, karena yang dia lihat River benar-benar mendedikasikan diri untuk hidup sebagai seorang peneliti. "Ngomong-ngomong, apa kau tahu apa itu acara inovasi?" Gerakan jemari River terhenti sebentar sebelum melanjutkan kegiatannya kembali. "Dari mana kau tahu mengenai acara inovasi?" "Ah, itu ...." Rana tidak bisa memberitahukan kalau dia mengetahuinya dari Potato, karena itu akan membuat River menganggap kalau mereka bersekongkol. "Kau ingat saat kita berada di acara pelelangan? Aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka." "Acara inovasi adalah tempat di mana para murid akademi menampilkan karya yang mereka persiapkan dengan matang. Mereka menyebutnya sebagai acara bergengsi, yang akan diadakan setiap satu tahun sekali pada masyarakat luas. Karena itu, acara inovasi sangat langka dan sangat dinantikan. Pada umumnya karya para murid akademi akan dipertimbangkan untuk kemajuan Stardust. Seperti dunia yang kau lihat sekarang, tidak lain dan tidak bukan merupakan buah dari campur tangan mereka." "Kalau begitu, orang-orang yang berada di akademi adalah para jenius?" "Kau bisa menganggapnya begitu." "Lalu, kenapa kau berada di sini?" River mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?" "Kau juga salah satu dari mereka, bukan?" River tergelak. "Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka." Rana merasakan keputusasaan dari ucapan tadi. Dia tidak ingin menyinggungnya lebih dalam lantaran berpikir bahwa waktunya kurang tepat. Mereka baru saja melalui hari-hari yang berat, sebaiknya juga tidak mengangkat topik yang berat. "Apa kau akan ikut ke acara inovasi itu?" "Aku tidak memiliki waktu untuk menontonnya. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan." Rana menyipitkan mata, lalu mengembuskan napas panjang, ekspresinya tanpa harapan. "Sungguh sangat disayangkan ketika aku begitu ingin melihat acara inovasi itu seperti apa, tapi tidak dapat mengikutinya. Padahal, aku tidak tahu akan berada di Stardust sampai kapan. Di dunia kami tidak ada yang dinamakan dengan acara inovasi. Pasti orang-orang akan sangat bergembira, sedangkan aku hanya duduk diam meratapi nasibku seorang diri. Oh, sungguh malang nasibku!" "Kau bisa pergi jika ingin. Aku tidak pernah melarangmu." "Mana mungkin aku melakukan itu? Aku adalah seorang asisten sekarang. Tuanku membutuhkan bantuan untuk berdiri, bagaimana aku bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti itu? Bagaimana jika dia jatuh yang hanya akan membuat pemulihannya menjadi lebih lama? Bagaimana jika dia butuh untuk buang air ke kamar kecil? Aku tidak bisa membayangkannya! Bisa saja kau terjatuh atau terjadi hal buruk lainnya padamu." "Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku memang tidak bisa bergerak, akan tetapi masih bisa menggunakan akal pikiranku." "Buktinya kau terjerembap di lantai." "I—itu karena aku kepanasan dan berbaring di lantai rasanya dapat mengurangi kegerahanku. Pokoknya, kau bisa pergi dengan Potato. Jangan lupa dengan saranku, bahwa kau harus bertingkah layaknya robot." "Tidak bisakah kau membuatkan sesuatu untukku sebagai bukti bahwa aku adalah robot? Seperti para pegawai sipil akan menunjukkan simbol dari instansi mana mereka berasal. Orang-orang akan tetap curiga dengan aktingku yang buruk. Lagi pula, aku juga harus memikirkan kemampuan yang aku punya. Sangat aneh jika aku tidak memperlihatkan apa-apa pada mereka di saat aku sendiri bukanlah robot." River berpikir untuk beberapa saat. Dia memang berencana untuk memodifikasi diri Rana sedikit untuk meyakinkan Orde bahwa Rana benar-benar makhluk yang berasal dari dunia mereka. Tetapi karena berbagai hal yang terjadi membuat niatnya tidak jadi terealisasikan. "Aku akan memberikan satu benda padamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN