Bab 35: Rahasia Terancam

1013 Kata
Apa yang ada di dalam pikiran mereka sama yaitu bagaimana cara agar lantai yang roboh tidak diketahui. Rana yang bergerak lebih dulu, mendekat ke sisi River, berharap tubuhnya dapat menghalangi pemandangan di belakang sana. "Rana sungguh tidak baik." Potato berkata. "Tadi sudah diperingatkan untuk tidak mengusik profesor." Aura melirik tajam ke arah sang adik, lagi-lagi Rana berbuat kenakalan dengan menyulitkan pemilik rumah. Rana sendiri memalingkan tatapan ke arah lain, melihat sekeliling ruangan, sebenarnya itu adalah cara dirinya untuk bebas dari hukuman. Potato berjalan lebih dulu memasuki ruangan, langsung menciptakan ketegangan di antara Rana dan River. Mereka berdua saling melemparkan tatapan yang mengisyaratkan agar salah satu dari mereka melakukan sesuatu untuk menghentikan semangat Potato. Robot yang bergerak dengan tenang itu berhenti ketika menemukan meja berada di posisi tidak seharusnya. "Oh, sejak kapan meja ini dipindahkan?" Melihat bagian lubang yang tidak berhasil ditutupi sebelumnya, River bergegas datang menghampiri, menghalangi lubang dengan pemandangan dirinya. Rana tahu bahwa pada saat itu, mereka sudah hampir ketahuan. "Aku pikir jika meja diletakkan di sini, akan terlihat sangat bagus." River berucap, lalu tersenyum. Potato memperhatikan meja secara saksama. Ada karpet di bawahnya, baru kemudian meja diletakkan. Orang-orang akan sadar kalau posisinya terlihat miring, apakah River tidak mengetahui hal itu? Namun, bukan sesuatu yang aneh lagi jika profesor mereka kehilangan fokus pada sekitar saat mendedikasikan diri pada penelitian. "Sebenarnya dengan meletakkan meja di tengah ruangan seperti ini akan membuat ruangan menjadi sempit. Tapi kenyamanan profesor adalah segalanya. Jika memang begitu yang harus dilakukan, maka Potato hanya bisa mendukungnya saja. Meskipun begitu, kita harus membuat posisinya menjadi lebih baik agar terlihat lebih rapi," ucap Potato, hendak menggeser meja. Namun, River dengan segera mencegah dengan menarik meja. Tentu saja dia tidak dapat melakukannya dengan satu tangan, alhasil kedua tangan digunakan agar tidak kalah pada kekuatan Potato yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan dengan satu orang. Rana yang melihat keadaan darurat juga ikut membantu. Dia berada di sisi River, memihak pada pria yang ingin menyembunyikan rahasia. Untung saja Aura masih tidak mengetahui kesenjangan situasi, hanya terheran-heran saja seperti anak kecil yang baru bangun dari tidurnya. "Potato hanya menginginkan tempat yang rapi. Bukankah Profesor menciptakan Potato untuk itu?" "T—tentu saja. Aku hanya berpikir kalau kita memerlukan seni dalam mengatur ruangan. Kita—" Suara seperti benda jatuh dari bawah lantai membuat mereka saling melemparkan pandangan. Potato yang paling merasakannya karena dia dapat menyaring getaran suara, akan ada gelombang yang tertangkap jika bunyi dari sebuah benda terdengar. "Potato mendengar sebuah suara dari bawah tanah, seperti ada yang terjatuh dari sana." Nyatanya benda yang terjatuh itu adalah tongkat River setelah bertahan cukup lama dengan bersandar di tepi meja. Rana tidak memperhatikan itu, apalagi River yang begitu fokus pada Potato. Pantas saja River merasakan sakit di sekujur kakinya lantaran harus menahan diri ketika berdiri. Hanya dari tepi meja kekuatannya berasal, bahkan tidak kuasa lagi menahannya. Rana menyadari situasi yang menyulitkan itu. Dia langsung berseru, "Aura! Apa kau sudah mematikan kompor listriknya? Terakhir kalian berbincang, aku melihatnya masih menyala!" "Ah, sepertinya aku melupakannya!" Aura yang memiliki kebiasaan lupa akan pekerjaannya akibat berbincang langsung keluar dari ruang penelitian. Satu harapan bertahan dari ancaman rahasia ketahuan telah diusir pergi dan sekarang tinggal Potato saja. River berkeringat banyak, setidaknya itu yang bisa Rana deskripsikan mengenai pria di sampingnya. "Bukankah Potato memiliki jadwal mengunjungi Luigi hari ini untuk menggantikan River? Tidak usah merepotkan diri hanya karena ingin menggeser meja. Aku yang akan melakukannya. Kau harus tahu kalau aku mendapatkan pekerjaan dari River. Dia memperkerjakan aku sebagai asistennya. Jadi, apa-apa yang menyangkut dirinya, aku juga memiliki tanggung jawab untuk itu." Potato menoleh pada sang profesor. Dia baru tahu kalau Rana diberikan pekerjaan. Tetapi dia tidak langsung percaya, menatap River untuk mengetahui kebenarannya agar dia yakin pula bahwa apa yang didengar barusan bukan halusinasi semata. River menganggukkan kepala. "Itu benar." Potato bisa menerimanya dengan baik sekarang. Satu hal lagi yang menjadi alasan kenapa dia belum juga beranjak, "Kenapa Profesor berkeringat banyak? Apa kondisinya semakin buruk? Potato harus memeriksanya!" "Tidak." River sudah tidak tahan lagi, dia ingin jatuh. "Aku butuh ke kamar mandi," ucapnya, tidak tahu alasan lain yang pas. "Aku akan membantunya!" Rana mengangkat tangan dengan cepat, tidak ingin Potato menghambat langkah mereka lagi. "Profesor River akan aman bersamaku, karena aku adalah asistennya! Aku akan melakukan pekerjaan sebaik mungkin!" Dia berusaha meyakinkan kembali. Potato yang diselimuti keraguan berangsur pudar. Dia tidak berniat untuk tinggal lebih lama lagi di sana, lantas menyelesaikan pekerjaannya untuk bertemu dengan Luigi. Sekarang adalah jadwalnya untuk mencicil utang mereka, River tidak berhenti mengambil barang-barang dari sana demi kelangsungan penelitian. Setelah berhasil keluar dari ruang penelitian, Potato berekspresi muram, mengeluhkan tentang hidup mereka yang telah dilalui selama hitungan tahun. Apa mereka akan tetap di posisi ini selamanya? Berhutang, tanpa ada siklus yang mengalami kemajuan. Kalau saja River bersemangat seperti dulu, setidaknya sedikit saja mau bertahan lebih lama, mungkin mereka akan menjalani hidup lebih baik sekarang. Kebahagiaan River adalah kebahagiaannya pula dan dia harus melakukan sesuatu. Mungkin saja, dia juga ikut menjalani acara pelelangan agar dapat membantu penghasilan? Lagi pula, dia memiliki pengetahuan mengenai dunia Stardust dan dapat menciptakan inovasi pula, River memberikan kebebasan dirinya untuk itu. "Syukurlah, tidak ada kejadian buruk di dapur." Suara Aura perlahan lebih dekat bersamaan munculnya raut kelegaan. Melihat Potato sudah keluar dari ruang penelitian membuat dia berkata lagi, "Kita sudah aman sekarang. Aku tidak melupakan apa pun di dapur. Rana pasti salah lihat, meskipun begitu aku juga berterima kasih padanya karena telah mengingatkanku. Entah apa yang akan terjadi jika tempat tinggal ini rusak karena kecerobohanku. Aku akan lebih berhati-hati lagi ke depannya." "Kalau begitu, Potato akan keluar menemui Tuan Luigi." Aura menundukkan kepala, mengantar kepergian Potato, "Berhati-hatilah di jalan," ucapnya. Setelah itu, Aura teringat akan kejadian di ruang penelitian. Sikap sang adik membuat dia bertanya-tanya, apa ada yang disembunyikan? Biasanya Rana tidak pernah bersikap begitu aneh. Namun, dia lebih memilih untuk menepis pemikiran itu. Mungkin hanya perasaannya saja. Dibandingkan hal itu, apa yang terjadi setelah dia pergi ke dapur? Potato juga menunjukkan ekspresi yang muram tadi. Mungkinkah sesuatu terjadi di ruang penelitian saat dia tidak ada? Haruskah dia memeriksanya sebentar untuk memastikan kalau semua baik-baik saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN