TAK MENERIMA TAKDIR

1039 Kata
Semilir angin berhembus, menerbangkan dedaunan kering hingga berguguran dari tangkainya. Salah satu daunnya jatuh di atas rambut panjang Lily yang tergerai tanpa ia sadari. Tapi itu bukan masalah besar, hanya sehelai daun yang tak perlu dicemaskan, namun yang lebih meresahkan hati Lily saat ini adalah pernyataan menohok yang disampaikan oleh kakaknya. Dalam dan sangat menyakitkan. Lily bergerak mundur satu langkah, sedikit tertekan mendengar kenyataan yang baru ia sadari amatlah buruk. “Aku tahu kamu terkejut, begitupula dengan aku. Nasib kita tak jauh berbeda, bukan hanya anak gadis yang akan dijodohkan tapi aku... yang menjadi penerus keturunan pun ikut jadi korban.” Chen Ye menatap teduh adiknya, meskipun tengah patah hati namun ia masih menaruh sedikit rasa peduli pada adiknya. Daun yang menempel di rambut Lily pun disingkirkannya, membuat Lily menatapnya lekat. Lily masih membisu, namun mata hatinya tetap peka merasakan kegetiran, luka hati kakaknya yang sangat dalam. Andai ia tidak dipisahkan sepihak, andai hubungannya dengan wanita yang ia cintai memang berakhir karena keputusan pribadi, mungkin Chen Ye tidak akan sesakit ini. Mereka kembali diam, menikmati hembusan angin yang terasa menusuk pori-pori kulit, saking dinginnya. Langit mulai tampak gelap, seakan ikut merasakan kesedihan dua insan di bawahnya. “Apa aku juga akan dijodohkan? Tidak... aku tidak mau hidupku diatur oleh siapapun.” Lily bertanya namun menjawabnya sendiri, ia terus menggelengkan kepalanya. Chen Ye menghela napas kasar, menundukkan kepalanya sejenak kemudian menengadah menatap langit mendung. “Apalagi kamu yang anak gadis, tentu tidak luput dari perjodohan. Apa kamu pikir ayah mengijinkanmu sekolah yang tinggi tanpa maksud? Anak gadis keluarga lain tidak dipercayai untuk mencicipi bangku sekolah setinggi itu. Hanya segelintir yang punya pikiran terbuka, mungkin ada maksud baik untuk masa depan, tapi tidak dengan ayah kita. Kamu dimodali pendidikan tinggi untuk mendapatkan jodoh yang sepadan, semakin tinggi kualitasmu, semakin menguntungkan posisi ayah.” Ungkap Chen Ye lirih. Hati Lily kian panas mendengar apa yang semestinya tidak ia dengar saja. Tetapi sepahit apapun, mungkin itulah kenyataannya. Ia tidak bisa mengingkari bahwa ayahnya punya andil besar dalam hidupnya, tapi tidak dalam urusan perjodohan. Lily tidak akan pernah menyetujuinya. “Tidak, aku tidak mau berakhir seperti kakak.” Pekik Lily, tanpa berpamitan ia langsung berlari meninggalkan Chen Ye. Hatinya berkecamuk, meskipun belum terjadi namun ia tak sanggup membayangkan harus menikah dengan cara perjodohan. Ia harus menyerahkan dirinya pada pria yang tidak dicintai, sungguh Lily tidak akan tinggal diam. “Kau mau ke mana Lily?” teriak Chen Ye, tapi tidak ada jawaban. Gadis itu telah berlalu seiring dengan gerimis yang ulai turun setelah cukup lama menggelantung dalam awan pekat. Lily berlari menuju aula utama, tempat di mana ayahnya berdiam diri mengurus pekerjaannya. Gadis itu tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk sekedar menunggu malam, di saat ayahnya lebih bersantai. Secepat mungkin Lily akan mencari tahu dan mendengar langsung dari orang terdekatnya. “Nona muda, kenapa anda berlari sekencang ini?” tanya A Mei yang tidak jadi berdiam diri di rumah, kemudian hendak menyusul majikannya namun malah bertemu di jalan. Lily berhenti, napasnya terengah dan harus ia akui tubuhnya terasa sedikit lelah. Rintik gerimis yang mulai deras menjadi hujan itu menerpa kulit wajahnya, memberikan sedikit kesegaran di tengah gerah yang ia rasakan. “Aku... eh kenapa kau ada di sini?” A Mei memayungi nonanya, “Saya khawatir karena nona tidak kunjung pulang, langit sudah gelap jadi saya datang menyusul nona.” “Bagus kalau begitu, ayo kita ke aula utama.” Ujar Lily sembari menarik tangan A Mei, gadis pelayan itu tidak siap sehingga tersentak dan payungnya nyaris jatuh. “Nona, ke sana untuk apa? Ini masih jam sibuk tuan besar, sebaiknya jangan diganggu dulu.” Seru A Mei yang langkahnya masih terseret oleh Lily. Lily tidak peduli, sebelum mendengar dari ayahnya, ia tidak bisa pulang dengan tenang. Langkahnya yang mantap mengantarkan ia sampai di tempat tujuan. Barulah A Mei terlepas dari seretannya. Lily menatap sejenak gerbang aula utama, mengatur napasnya yang belum teratur. Terlebih harus mengatur apa yang ingin ia katakan. “Nona Lily hendak menemui tuan besar, ijinkan kami masuk.” Ujar A Mei kepada dua penjaga gerbang yang tengah membungkuk hormat. “Silahkan nona muda.” Jawab salah satu pengawal kemudian menyingkir agar tidak menghalangi jalan. Lily hanya mengangguk pelan sebagai respon, ia memperhatikan langkahnya agar saat menginjak tangga menuju tempat tinggi itu. Kehadirannya pun disambut oleh pengawal yang sekaligus melaporkan kepada tuan besar bahwa ia menerima kunjungan dari putrinya. “Putriku, apa yang membuatmu mendadak kemari? Apa sesuatu terjadi padamu di kampus?” tanya Yu Wen yang tampak cemas, ia menghampiri Lily yang berdiri di dekat tempat duduk. “Tidak ada apa-apa ayah, Lily baik-baik saja. Terima kasih atas pertolongan ayah sehingga hari pertama Lily di kampus berjalan lancar.” Jawab Lily dengan menunjukkan sopan santunnya, khas seorang nona terhormat. Yu Wen baru sadar mereka berbicara sambil berdiri, dan pastinya bukan tanpa alasan Lily menyambanginya kemari. Biasanya gadis itu enggan untuk datang ke aula utama yang menurutnya jauh dari kediamannya dan membosankan. “Kita duduk dulu, pasti ada yang ingin kamu sampaikan kan?” A Mei langsung membungkuk hormat, ia cukup tahu diri sebelum diminta pergi. “Saya permisi dulu, tuan besar, nona.” Tinggallah ayah dan anak itu yang menunggu keheningan untuk saling bicara. “Ayah, pernikahan kak Chen Ye apa tidak terlalu mendadak? Aku pikir kakak akan menikah dengan kekasihnya, tapi ternyata dengan wanita pilihan ayah.” Lily mulai membuka pembicaraan dan langsung serius. Senyum yang terukir dari bibir Yu Wen seketika pudar, helaan napas kasar pun terdengar setelah ia memalingkan wajah dari putrinya. “Apa Chen Ye yang mengutusmu kemari? Dasar anak tidak berguna, bisanya menyuruh anak kecil untuk menggugahku.” “Ayah, aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah cukup dewasa untuk paham tentang masalah orang dewasa, termasuk soal perasaan yang tidak bisa dipaksakan. Ayah, apa ayah bisa membatalkan keputusan ayah untuk menjebak kami dalam perjodohan?” tegas Lily, namun sorot matanya tampak mengiba. Yu Wen menggeleng, air mukanya berubah serius. “Lily, jaga sikap dan bicaramu. Jika kamu memang sudah dewasa, maka sudah saatnya pula ayah mencarikanmu jodoh yang baik. Tapi belum, kamu belum cukup siap untuk menjadi wanita dewasa. Ayah tidak ingin kamu menikah di usia terlalu muda. Jangan berburuk sangka pada ayah, tidak ada orangtua yang menjerumuskan anaknya. Yang ayah pilihkan untuk kalian adalah yang terbaik.” Lily mengepalkan tangannya, kesabarannya nyaris habis total. “Jadi benar, ayah hanya mementingkan bisnis dan menjadikan kami alat lewat perjodohan? Aku tidak bisa terima, ayah! Tidak akan bisa!” ⚫⚫⚫⚫⚫
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN