Chen Ye menunggu dengan tidak sabaran di depan pintu kamarnya. Waktu sarapan menjadi momen yang ia nantikan saat ini, bukan karena lapar namun karena itu lah kesempatan ia bisa bertukar komunikasi dengan anak buahnya. Seperti yang telah ia aturkan bahwa pengawalnya harus menyampaikan kabar pagi ini juga terkait perintahnya yang meminta agar nyawa kedua orang tua Pei Fang dihabiskan. Suara pintu dibuka dari luar sontak membuat perhatian Chen Ye teralihkan, ia bergegas mendekat ke arah pintu demi mengintip siapa yang membawakannya sarapan. Senyum optimis yang mengembang lantaran mengira bahwa kepala pelayannya lah yang membawakan itu, nyatanya pengawal yang berjaga di luar lah yang mengantarkannya. “Kenapa kamu yang bawakan? Aku kan sudah bilang kepala pelayanku saja yang bawakan!” Protes

