Tian lu tahu bahwa keempat orang yang ada di rumahnya itu itu sedang menunggu jawabannya dengan antusias. Ia pun sadar jika penuh juga melontarkan jawaban, kemungkinan besar para tamunya tidak akan menyentuh hidangan yang disajikan nya. Bibirnya menarik seulas senyum tipis, ia menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya secara bergantian. “Ketika aku hendak menyiapkan makan malam, tiba-tiba ada sepasang kupu-kupu yang masuk ke rumah. Aku mempercayainya sebagai sebuah pertanda bahwa akan ada tamu yang datang, tidak hanya satu orang. Dan ternyata instingku benar, anda semua adalah tamu kehormatan ku dan aku merasa sangat beruntung bisa menjamu anda sekalian dengan makan malam seadanya.” Ye Lily masih belum bisa mempercayai sepenuhnya apa yang Tian lu jelaskan. Tetapi berbeda dengan

