Sebelum Badai Tiba

1175 Kata

  Aspal yang hitam dan trotoar dengan pedagang kaki lima menjadi saksi bagaimana dua orang yang saling mencintai itu berjalan beriringan. Dipisahkan oleh jarak. Jarak yang tercipta dari luka dan air mata. Yang perempuan, menapaki lantai trotoar penuh dengan kehampaan, dia tidak menghiraukan ketika badannya yang kecil bersinggungan dengan pejalan kaki dari arah berlawanan. Sesekali dia usap dengan kasar bulir bening yang enggan berhenti keluar dari kelenjarnya. Kaki kecil itu melangkah tanpa tujuan pasti di sepanjang jalan Pramuka. Hingga panggilan azan berkumandang ketika dia sampai tepat di depan Alun-alun Garut. Sementara yang laki-laki, dia mengikuti dari jarak lima meter. Dadanya berdenyut nyeri melihat betapa rapuhnya perempuan itu, perempuan yang berjalan dengan membawa segenggam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN