Jonathan menghentikan motornya di parkiran, ia melihat sekeliling cafe, mencari seseorang yang sudah beberapa hari ini sangat sulit ia temukan, satu-satunya tempat yang sering dikunjungi oleh wanita yang sedang dicarinya itu adalah cafe ini, dan benar saja, pandangan Jonathan sudah tertuju wanita berhijab itu, Eliza.
Jonathan berjalan memasuki cafe, menggenggam tasnya dan berjalan menuju ke arah Eliza yang duduk membaca buku sendirian, ia melihat Eliza yang begitu tenang sambil sesekali tertawa hanya karena sebuah buku ditangannya. Pandangan Eliza tak sengaja menangkap seseorang yang sedang berjalan menuju ke arahnya, ia pun terdiam sejenak menatap seseorang itu yang tak lain adalah Jonathan yang tiba-tiba saja duduk dihadapannya. Eliza pun tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya, ia menjadi salah tingkah ditatap begitu lekat oleh seorang pria.
“Bisa minta waktu kamu sebentar?” ucap Jonathan.
“Ingin bicara apa?” tanya Eliza, ia sudah memaklumi kehadiran Jonathan yang selalu tiba-tiba hadir, tida tahu karena hal apa, namun semakin Eliza menolak kehadiran pria itu, hatinya semakin sesak entah karena apa, namun setiap kali ia menerima kehadiran pria itu hatinya begitu tenang. Eliza hanya ingin memastikan bahwa hatinya akan baik-baik saja nantinya ada atau tidak pria itu suatu saat nanti. Jonathan pun sedikit terheran dengan nada suara Eliza yang biasanya selalu cuek kepadanya, tiba-tiba saja begitu lembut dan menerima kehadirannya.
“Ada titipan dari seseorang” ucap Jonathan sembari mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya dan memberikan kepada Eliza. Eliza menerima surat itu, entah dari siapa ia harap bukan dari Ririn, karena ia sudah berkali-kali mengancam Ririn agar tidak lagi menitipkan sesuatu pada Jonathan.
“Dari siapa?” tanya Eliza.
“Buka saja” ucap Jonathan, Eliza pun membuka surat itu dan melihat sebuah tulisan tangan yang begitu rapi.
Haii Elizaa…
Kamu mungkin akan bertanya dari siapakah surat ini, yang sebenarnya tidak penting untuk kamu, namun ini penting untuk aku. Aku Laura, seperti yang kamu tahu, aku adalah wanita yang pernah melabrak kamu dengan tidak sopan, baru kali ini aku bertindak seperti itu kepada seorang dosen muda bahkan begitu cantik hanya karena seorang pria bernamakan Jonathan.
Hanya ingin kamu tahu, bahwa apa yang aku laukan waktu itu adalah hal yang paling aku sesali, bahkan beribu kali aku meminta maaf pun tidak akan menghapuskan ingatan itu. Maafkan aku Eliza, bukan karena tak ingin menyampaikan hal ini secara langsung, aku hanya terlalu malu untuk menatap semua orang, apa yang terjadi padaku biarlah menjadi balasan atas apa yang aku lakukan.
Tepat satu bulan yang lalu, rasa sakit akibat penolakan itu membuatku lupa akan diriku sendiri, aku hilang kendali bahkan akal pun tak lagi bisa aku kendalikan. Aku hamil dengan seseorang yang aku tidak ingin tahu siapa itu, meski ini aib, tak apa jika aku membukanya padamu, karena aku tahu bahwa kamu bukanlah seseorang yang suka menyebarkan aib orang lain, dan mungkin meski kamu tidak cerita pun, semua orang sudah tahu tentang aku.
Aku hanya ingin mengucapkan perpisahan terakhir padamu Za, aku akan pergi dari kota ini tepat hari dimana surat ini sampai kepadamu, aku akan pergi sejauh mungkin bersama ibuku. Aku titipkan pria itu padamu ya Za, dan yang harus kamu tahu, Jonathan begitu menyukaimu, dan wanita yang saat itu dikenalkannya sebagai pacarnya hanyalah seorang teman, tak lebih dari itu.
Meskipun kalian berbeda, aku yakin akan ada jalan untuk kalian bersatu, suatu hari nanti. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, terima kasih sudah mendengarkan curahan hatiku ini Za. Sekali lagi aku minta maaf dengan sangat tulus kepadamu Eliza.
Salam hangat dariku, Laura…
Eliza meneteskan airmatanya, ia tak menyangka kata-kata di dalam surat itu begitu tulus sekaligus begitu menyakitkan membayangkannya. Ia pun segera menghapus airmatanya dan melihat ke arah Jonathan yang sibuk dengan Hp nya dan juga cemilan bahkan minuman yang Eliza sendiri tidak tahu kapan ia memesannya. Ia kembali memasukkan surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop dan menyimpannya ke dalam tas, beberapa hari ini ia memang sudah mendengar kabar tentang Laura dan seorang mahasiswa lainnya, namun ia tak pernah ambil pusing dengan masalah orang lain.
“Dia pergi kemana?” tanya Eliza. Jonathan yang mendengar suara itu pun langsung menghentikan aktivitasnya.
“Aku engga tau, tadi dia cuma minta aku datang kerumahnya untuk kasih surat itu, setelah itu dia pergi bersama mamahnya, dia tak ingin memberitahu siapapun kemana dia pergi” ucap Jonathan.
“Hal yang begitu berat untuk Laura, mungkin dia mau menenangkan dirinya dan aku hargai itu, bahkan ketika dia tidak mau memberitahu siapapun kemana dia pergi” ucap Jonathan kembali.
“Baiklah, sekali lagi terima kasih suratnya” ucap Eliza, ia begitu merasa canggung bicara begitu dekat dengan seorang pria, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya membuat dirinya gugup dan salah tingkah.
“Sama-sama, kalo gitu aku permisi dulu, masih ada urusan” ucap Jonathan yang takut membuat Eliza menjadi tidak nyaman dengan kehadirannya, karena sebelumnya Eliza selalu menghindar setiap kali ia mendekatinya.
Eliza hanya tersenyum dan melihat Jonathan pergi, ia menghela nafas dan merasakan jantungnya yang selalu berdetak begitu cepat setiap kali bertemu dengan Jonathan.
***
“Masuk Jo” ucap Julian, Jonathan melangkahkan kakinya memasuki rumah sang ayah untuk pertama kalinya.
“Gimana keadaan Laura?” tanya Julian.
“Sudah baikan, dia juga udah pergi tadi pagi” ucap Jonathan, Julian hanya menghela nafas.
“Syukurlah jika itu bisa membuatnya lebih baik” ucap Julian.
“Papah tinggal sendiri disini?” tanya Jonathan.
“Yahh begitulah” ucap Julian, ia pun sebenarnya begitu merasa kesepian dengan kesendiriannya saat ini, namun ia tak bisa memaksakan dirinya untuk meminta Jonathan tinggal bersamanya, apalagi harus mencari sosok wanita pengganti Rania yang baginya wanita itu adalah hal terindah dalam hidupnya.
“Makan yuk, papa udah siapin makanan buat kamu” ucap Julian, Jonathan menatap meja makan yang terisi oleh beberapa makanan yang dimasak sendiri oleh Julian, ia pun berjalan dan melihat makanan kesukaannya yang dulu begitu sering ia nikmati. Matanya berbinar ketika menikmati makanan itu dengan sang ayah, sudah begitu lama ia menantikan moment ini bersama sang ayah.
“Rasanya masih sama” ucap Jonathan, Julian hanya tertawa mendengar ucapan itu.
“Meskipun keadaan yang suda berbeda” lanjut Jonathan yang kali ini membuat Julian diam dan merasa sedih.
“Papa ga perlu sedih lagi, Jo akan sering main kesini” ucap Jonathan membuat Julian tersenyum kembali.
“Jadi, siapa wanita berhijab itu?” tanya Julian, Jonathan seketika diam mendengarkan kata-kata itu.
“Papa tau dari Aurel?” tanya Jonathan, hanya Aurel yang tahu tentang Eliza dan hanya Aurel yang dekat dengan keluarganya.
“Kemarin papa ga sengaja ketemu dia di supermarket, papa tanya soal hubungan kalian, yahh begitulah, dia cerita tentang wanita berhijab yang sedang kamu dekati” ucap Julian.
“Tak perlu marah pada Aurel, dia wanita yang baik kok, papa juga tak memaksa kamu mau dekat dengan siapapun, asalkan itu membuat kamu bahagia, hanya satu pesan papa, jangan sampai saling menyakiti” ucap Julian.
“Namanya Eliza, dia adalah seorang dosen di kampus Jo, awalnya Jo kenal dia dari Ririn temen sekolah Jo, sampai pada akhirnya setelah beberapa bulan perkenalan tak sengaja itu Jo tahu bahwa dia bekerja di kampus sebagai dosen, Jo ga tahu kenapa harus dia, tapi setiap kali melihat wanita itu tak ada yang bisa menahan untuk pura-pura tidak melihatnya” ucap Jonathan.
“Sebenernya tidak semulus seperti saat Jo mengenal wanita lain, dia selalu menolak kehadiran Jo yang setiap kali ingin mendekatinya” ucap Jonathan, ia baru menyadari bahwa membagi kisahnya tidak serumit yang ia bayangkan, dan entah mengapa ia begitu nyaman ketika mencurahkan isi hatinya kepada sang ayah daripada orang lain.
“Cantik?” tanya Julian.
“Sangat” ucap Jonathan dengan makanan yang begitu penuh dimulutnya, Julian pun tertawa melihat tingkah Jonathan.
“Ini orangnya” ucap Jonathan menunjukkan foto Eliza yang pernah diberikan oleh Ririn.
“Masya Allah, pantas saja kamu mengejarnya” ucap Julian yang baru saja mengagumi ciptaan Allah.
“Kamu sudah yakin?” tanya Julian, Jonathan pun sejenak berfikir.
“Engga tau pah” ucap Jonathan, ia sendiri belum bisa memastikan kemana hatinya ingin berlabuh.
“Mungkin jika kamu mendekati Aurel, papa hanya akan mendukung kamu tanpa menasehati kamu lebih dalam, namun jika kamu mendekati Eliza, kamu tidak hanya harus meyakinkan perasaan kamu padanya, tapi kamu juga harus meyakinkan iman kamu, papa tidak melarang kamu untuk menyukai siapapun, tapi apapun yang jadi keputusan kamu, harus kamu fikirkan dengan baik tanpa ada yang merasa tersakiti nantinya” ucap Julian, ia hanya tak ingin sang anak akan bernasib seperti dirinya suatu saat nanti.
“Jo tau Pah, Jo selalu memikirkan hal itu, pernah ingin berhenti, namun yang ada malah semakin tersiksa, Jo juga tidak tahu bahwa wanita itu begitu melekat dihati dan fikiran Jo” ucap Jonathan, ia benar-benar tidak bisa menolak Eliza yang sudah begitu nyaman berada dihatinya.
“Kamu sudah cerita pada ibumu?” tanya Julian, Jonathan hanya menggelengkan kepalanya.
“Cuma papa yang tahu hal ini” ucap Jonathan, Julian hanya menghela nafas.
“Fikirkanlah dengan baik, kamu bukan anak kecil lagi, berbagilah padanya dan jangan sampai menyakiti hatinya” ucap Julian, Jonathan hanya mengangguk pelan, ia membenarkan semua perkataan sang ayah, ia pun juga tak ingin main-main lagi soal perasaannya.