Robby melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia kembali melihat kearah pintu masuk café tersebut namun masih belum melihat seseorang yang sejak tadi ia tunggu, ia sudah menghubungi Panji untuk datang menemuinya ke café tersebut, meskipun Panji tidak menjawab pesannya tapi ia yakin pria itu pasti datang menemuinya. Robby tersenyum kesal ketika melihat Panji akhirnya datang ketika ia baru saja memikirkan pria itu, pria yang ia anggap awalnya begitu baik, kini hanya sebagai pria b******k yang sudah berani menyakiti Aurel dengan begitu sadar. “Dateng juga, kirain ga bakal dateng” ucap Robby meletakkan minumannya saat Panji duduk di depannya. “Hmm, maaf aku lama” ucap Panji. “Kenapa?” ucap Robby tanpa basa basi, ia ingin tahu semua alasan Panji melakukan hal

