"Hai, Cris." Sosok pria matang itu turun dari sebuah podium mendekat ke arah Crisysian sambil mengumbar senyum. "Andai kau tahu apa yang dilakukannya sejak pagi tadi, harusnya sekarang kau berlari ke arahnya." Suara bisik-bisik Carlos di dekat telinganya membuat Crisy menoleh pada kakaknya. "Sudah, akan kuceritakan nanti. Sekarang sebaiknya kau menyambutnya." "Tapi ...." "Maaf, aku tak sempat membicarakan ini denganmu. Untukmu tak mungkin lagi ada kata menunggu. Aku sudah terlalu lama melakukannya. Meskipun aku masih sanggup untuk melakukannya, tapi jika harus menunggu untuk membiarkanmu jadi milik orang lain maka itu tak akan pernah kulakukan lagi." "Apaan, sih, aku tak mengerti," ucap Crisy berpura-pura. Ada rona merah yang menghiasi wajahnya. "Cris, aku sudah bilang hanya butuh sa

