Tarikan napas panjang diiringi hembusan frustasi sekali lagi terdengar darinya. Pria itu terduduk lelah di sofa menatap sang ayah yang terbaring dengan keadaan mengenaskan. Tubuh kurus kering dengan pipi cekung, tak ubahnya seperti mayat hidup. Alat bantu pernapasan dan penyangga leher terpasang di bagian kepala juga alat deteksi detak jantung yang menjepit jari disertai suaranya yang berdetak pelan. Raiza mengusap wajah kasar. Awal menjejakkan kaki di rumah sakit itu, ia seakan tak percaya kalau sosok yang terbaring di sana adalah ayahnya. Ke mana wibawa pria itu pergi? Ke mana sosok dengan tangan kekar yang selalu membimbing hidupnya itu menghilang. Selama ini tak ada yang salah dengan bimbingan sang ayah untuknya. Nyatanya didikan pria penyayang itu telah menjadikannya pribadi yang b

