My head is not basketring

704 Kata
"Wadawwww" teriak Zee ketika bola basket dengan mulus mencolek kepalanya. Seketika badan mungilnya terhuyung. Namun, Zee secepatnya mengendalikan diri agar tidak jatuh. Cindy, sahabatnya secara spontan menangkap badan Zee agar tidak jatuh. "Sorry" Brian menangkap bola basket dan meminta maaf pada Zee. Awalnya Brian mau menolong, tapi karena dilihat Zee tidak butuh bantuannya, Brian kembali ke lapangan meneruskan permainan basketnya. Zee memutar kepalanya dan melihat Brian pergi dengan cuek. Kata 'maaf' yang dilontarkan Brian, sepertinya hanya basa-basi. Zee berlari menghalangi Brian berjalan, dan langsung meninju kepala Brian hingga Brian terhuyung. "Satu sama, brad. Gitu rasanya kepala gue tadi" kata Zee sambil ngeloyor pergi. Delon segera mendekati Brian, dan menepuk bahunya. Brian segera menepis tangan Delon. "Mahluk apa barusan?" tanya Brian menahan sakit "Yang jelas bukan Mahluk Tuhan yang paling seksi" jawan Delon. Cindy mengejar langkah Zee yang cepat. Cindy ingin mengajak Zee ke kantin "Kantin yuk" ajak Zee Cindy tergelak "Baru juga mau diajakin" Zee tertawa. Satu sifat Zee yang Cindy suka adalah tidak suka berlarut dalam masalah. Sampai di kantin, Zee memesan bakso dan siomay. Cindy tergelak kembali, nafsu makan sahabatnya ini unik, kalau sedang kesal, seluruh makanan di kantin bisa masuk kedalam perutnya. "Zee" Cindy membuka pembicaraan setelah melihat Zee menikmati baksonya "hm...." tanggapan Zee tanpa mengalihkan perhatian dari mangkok baksonya "Sebenernya tadi, yang salah lempar itu, bukan kak Brian. Dia cuma deket dan ambil bola dengan sigap." jelas Cindy. Cindy cukup mengenal sahabatnya yang akrab sejak mereka masih di SMP. Zee mendongak ke arah Cindy, matanya menatap heran. "Kak Brian siapa?" "Astaga, Zee. Jangan bilang lo gak tau siapa kak Brian." Cindy menyeru kaget. Tapi detik berikutnya Cindy maklum, karena Zee bukan orang yang tertarik mencampuri urusan orang. Zee mengangkat bahu. Bakso sudah habis, sekarang giliran siomay. "Pempek enak kali ya" celetuk Zee sambil memasukkan siomay kemulutnya. Cindy geleng-gelang kepala melihat kelakuan Zee, "Zee, kak Brian itu ketua OSIS kita, ketua team basket, Kakak kelas kita, kelas XI IPA 1." jelas Cindy "Trus hubungannya dengan gue?" tanya Zee lagi sambil mengedarkan pandangan, lalu melihat babang ganteng, bang Don, penjual pempek. Tangan Zee mengisyaratkan dia memesan satu mangkuk. Bang Don mengangguk dan membuat pesanan Zee. "Cowok terganteng di SMA kita, yang wajahnya tadi lo tonjok" kata Cindy "Oh" jawab Zee cuek "Kok cuma oh, lo salah mukul orang, cantiiikkk" seru Cindy sebal "Nanti gue minta maaf, tapi gue mau makan pempek dulu" kata Zee menyambut semangkok pempek yang diberikan bang Don. "Huft... heran gue sama cara pikir elo" kata Cindy lagi, tapi sebenarnya sikap inilah yang membuat Cindy nyaman berkawan dengan Zee. Setelah menghabiskan pempek, Zee meminum juice alpukat. Cindy sudah gemas melihat kelakuan Zee. "Lo perlu gue temenin?" tanya Cindy ketika tahu bahwa Zee akan menemui Brian. "Gak usah, lo di kelas aja. Kalau dia mau hajar gue, lo gak perlu lihat" kata Zee santai. Cindy gemas melihat sahabatnya. Namun Cindy juga gak mau melihat amarah Brian. ***** Zee masuk ke ruang kelas XI IPA 1, wajahnya mencari cowok yang ditonjoknya tadi. Senyumnya mengembang ketika melihat Brian sudah duduk di dalam kelas. Sebagai ketua OSIS memang Brian sangat disiplin. Brian sedang mengobrol dengan teman-temannya, tidak ada yang menyadari kalau Zee berjalan mendekatinya. Semua orang tidak memperhatikan Zee, karena Zee bukan cewek idola yang membuat mata cowok melirik padanya. "Lo yang namanya kak Brian?" tanya Zee kepada Brian. Seketika Brian dan teman-temannya menoleh kepadanya. Zee tersenyum tipis. "Sorry tadi gue mukul elo, gue pikir, elo yang lempar bola. Ternyata bukan elo, dan malah elo yang minta maaf mewakili pengecut yang lempar bola kearah gue" jelas Zee. Brian melihat Zee dari atas sampai bawah. Dirinya bingung, antara malu, marah, kesel tapi juga takjub dengan keberanian cewek ini mencarinya. "Kalo lo mau hukum gue, hina gue, mukul gue, gue terima. Gue emang layak kok. Harusnya tadi gue nanya dulu." kata Zee santai Entah kenapa, tiba-tiba timbul rasa ingin balas dendam ke Zee. "Halaman sekolah, bel pulang bunyi" jawab Brian singkat. "OK" kata Zee ringan sambil tersenyum meninggalkan Bian dan teman-temannya menuju kekelasnya. "Lo mau kasih pelajaran apa sama dia?" tanya Novri, yang kebetulan melihat kejadian tadi Brian mengangkat bahu. "Jujur gue baru kali ini liat itu mahluk. Kayaknya dia bukan orang yang sering melanggar ya" Teman-temannya mengangguk. "Cewek biasa dan gak penting" jawab Reno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN