Gara-gara Samudera, Allegra hampir hilang kewarasannya. Makan tak enak, tidur tak tenang, bahkan bernapas pun terasa sesak tiap Allegra ingat kata-kata Samudera tadi malam. Allegra tak begitu yakin apa yang harus dilakukannya. Maju ke depan atau perlahan-lahan mundur ke belakang dan menghindar lagi? Allegra punya pilihan, namun tak bisa memilih. Masing-masing sisi punya positif dan negatifnya. Allegra butuh pertimbangan lebih matang sebelum memutuskan. Sementara ini, Allegra memilih meditasi di rumah untuk menenangkan emosi dan otaknya yang sama tidak stabilnya. Niatnya. Tapi realita sekali lagi berbeda. Pagi-pagi buta Samudera sudah di pekarangan rumah Allegra, membersihkan rumput liar bersama Papa. "Ma?" Allegra menunjuk ke arah luar sambil melemparkan tatapan penuh pertanyaan. Mama

