"Masalah paling berat dalam suatu pernikahan adalah kehilangan kepercayaan satu sama lain."
- Note -
©©©
Sejak pagi, entah kenapa Senjana merasa suasana hatinya sangatlah buruk. Hari ini Antariksa tidak mengijinkan dirinya untuk pergi keluar bersama Lily untuk mampir ke cafe Cantika. Kebetulan juga cafe dari Cantika sedang ramai dan memerlukan bantuan, maka dari itu Lily dan dirinya ingin membantu disana. Namun, baru menceritakan tentang keramaian cafe Cantika, Antariksa sudah lebih dulu tau maksudnya dan langsung tidak mengijinkannya keluar.
"Gue gak bisa. Antariksa gak ngijinin gue pergi, Tika." ujar Senjana pada benda pipih yang menempel di pipinya.
"Ya ampun Sen, cuma sebentar doang kok. Cuma sampai siang doang. Gue janji deh, lo bakal bisa pulang sebelum jam makan siangnya Antariksa."
"Gue udah ijin sama dia tapi gak di bolehin. Katanya takut gue kecapean kalau ngebantuin lo di cafe."
"Yaelah cuma nganterin pesanan doang, itu juga nanti gantian kok sama yang lain. Masa gue tega biarin temen gue kerja sendiri."
"Aduh gimana yah, Tik?"
"Antariksa gak akan tau deh. Percaya sama gue! Lily juga lagi otw kesini nih."
Senjana menggigit kukunya berpikir keras, "Oke deh, tapi jangan sampai kelewat jam makan siang yah?"
"Siipp! Gue tunggu kalau begitu. Bye!"
"Hmm."
Senjana menutup teleponnya dengan hembusan nafas berat. Dia harus berbohong pada Antariksa sekarang. Terpaksa dia melanggar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Lagipula benar kata Cantika, dia tidak mungkin kelelahan karena tidak mungkin juga dia yang melayani semua pengunjung disana.
Dengan gerakan cepat, Senjana melangkah menuju kamarnya untuk berganti baju. Mungkin mengenakan pakaian casual saja agar lebih mudah untuk bergerak kesana kemari.
©©©
"Ini pesanannya, selamat menikmati."
Senjana tersenyum saat meletakan makanan pesanan pengunjung cafe. Dia kemudian berbalik melangkah menunu mena bar tempat memesan kopi. Disana Cantika terlihat tengah meracik kopi untuk para pelanggannya.
"Kok cafe lo bisa rame terus begini sih, Tik?"
Cantika yang mendengar pertanyaan Senjana menoleh lalu tersenyum. "Rejeki anak solehah namanya."
"Seriusan, gue tanya ini. Siapa tau gue bisa berguru sama lo."
"Emangnya lo mau buat cafe juga?" tanya Cantika masih dengan kegiatannya.
"Siapa mau buat cafe? Senjana? Buat apa? Suami udah kaya raya gitu juga."
Suara itu membuat Senjana dan Cantika menoleh. Lily datang dengan nampan di tangannya. Sama seperti Senjana, gadis itu juga membantu Cantika di caffe hari ini. Mendengar celotehan itu membuat Senjana mendengus. Terkadang Lily kalau berbicara memang tidak di saring lebih dulu dan banyak mengandung kata-kata yang bisa membuat orang lain naik darah ataupun tersinggung. Beruntung Senjana sudah paham dengan gaya bicara gadis itu.
"Yang kaya raya kan suami gue, bukan gue."
"Tetep aja lo kecipratan dong."
"Lo berdua berisik banget sih! Udah sana pergi deh, jangan recokin gue disini."
"Tadi di telepon suruh bantuin, sekarang diusir. Maunya apa Mbak?" ujar Senjana.
"Iya lo!"
"Yaudah kalau mau bantuin itu pelanggan gue masih banyak. Sana layanin dulu mau pesan apa? Jangan recokin gue disini."
Memang sejak tadi kehadiran Lily maupun Senjana tidak membantu sama sekali. Justru kehadiran mereka menambah kesulitan Cantika karena selalu mengajaknya mengobrol ataupun berdebat. Melihat Cantika yang sudah kesal, Senjana memutuskan untuk pergi kembali melayani pelanggan. Namun saat dia berbalik seseorang menjatuhkan kopi pesanannya dan tidak sengaja Senjana langsung menginjaknya dan terpeleset sangat keras ke lantai dengan posisi terduduk.
Orang-orang yang melihat itu sangat terkejut. Begitu juga Lily dan Cantika, mereka langsung mendekat ke arah Senjana yang masih terduduk tampak meringis kesakitan. Pelanggan yang menumpahkan kopi tampak menunduk ingin membantu sambil terus mengucapkan kata maaf.
Senjana masih tidak menjawab karena tiba-tiba dia merasakan sakit di bagian perutnya. Dia merasa tidak sanggup untuk berdiri. Tangannya mulai meremas pakaian yang menutupi perutnya. Rasanya sangat sakit dan melilit tidak karuan.
"Sen, lo gak apa-apa? Bisa berdiri gak?" tanya Lily.
"Perut gue sakit banget, Ly. Gue gak tau kenapa? Sakiitt...." ujar Senjana tidak sanggup menahan air matanya.
"Darah..." lirih Cantika saat melihat lantai yang diduduki Senjana mulai berubah menjadi merah.
"Apa?" tanya Lily terkejut.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang! Dion! Kamu jaga caffe, saya mau antar Senjana ke rumah sakit." ujar Cantika panik memanggil karyawannya.
"Oke." jawan Dion.
Dengan perlahan Cantika dan Lily memapah Senjana. Gadis itu sudah meringis berkali-kali bahkan sudah menangis tersedu. Pelanggan tadi hendak mengikuti untuk meminta maaf namun dicegah oleh Dion untuk tidak perlu ikut campur lagi. Lelaki itu juga menenangkan pelanggan itu karena insiden tadi jelas tidak disengaja.
©©©
Lorong Rumah Sakit terasa begitu sepi saat menginjak jalan menuju ke ruang inap VVIP di sini. Bau obat sangat menyengat, itu juga sebab banyak orang tidak terlalu suka berada di Rumah Sakit. Sama halnya seperti Antariksa.
Dia masih berada di Kantornya tengah mengadakan pertemuan penting saat dirinya menerima kabar bahwa istri yang selalu dia manjakan mengalami satu kecelakaan. Tanpa babibu lagi, Antariksa langsung meninggalkan pertemuan itu menuju ke Rumah Sakit. Saat mendengar kabar istrinya tengah dirawat, hatinya terasa nyeri. Dia merasa telah gagal untuk selalu menjaga istrinya sampai wanita itu harus masuk Rumah Sakit.
Dengan perasaan tidak karuan, Antariksa berlari menuju kamar inap Senjana. Setelah berhasil menemukan kamat itu, tanpa permisi dia membuka pintu dan melihat wanita yang dicintainya tengah berbaring dengan mata tertutup. Antariksa melangkah mendekat dengan dadanya yang terus saja merasa sakit dan sesak tiba-tiba. Dia tidak rela harus melihat istrinya sampai terbaring lemah seperti ini. Perasaannya tadi pagi, istrinya masih baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi begini?
"Senjana..." panggil Antariksa namun tidak ada respon.
"Dia masih dalam pengaruh obat, belum sadarkan diri." ujar Lily memberitahu karena dia ada di tempat itu juga.
Antariksa mengalihkan tatapannya, menatap teman istrinya itu dengan dingin. "Kenapa Senjana bisa kayak begini?"
"D-dia kepeleset waktu di caffe gue karena pelanggan gak sengaja jatuhin kopinya." kali ini Cantika yang menjawab.
Antariksa mengerutkan kening, "Kenapa Istri gue bisa ada di caffe lo? Ngapain dia disana?"
"Dia.. dia mau bantuin gue. Gue minta maaf Tar, harusnya gue gak ngajak Senjana ke caffe." jawab Cantika takut-takut.
Sudah bisa ditebak oleh Antariksa. Istrinya memang sempat meminta ijin untuk ke caffe Cantika, namun dia menolak karena tidak suka jika Senjana harus menjadi pelayan disana. Enak saja!
"Terus gimana kata dokter?" tanya Antariksa.
"Belum tau, doktenya bakal kesini lagi waktu suaminya udah dateng. Lo maksud gue. " sahut Lily.
Antariksa mengusap wajahnya kasar. Dia melihat Senjana tampak pucat sekarang. Tidak seperti pagi tadi saat mengantarnya berangkat kerja.
Tidak lama, pintu ruangan terbuka menampilkan seorang pria mengenakan jas putih serta alat pemeriksa di lehernya. Antariksa berdiri di hadapan dokter itu. Di belakang dokter, dia melihat sahabatnya juga ada disana. Tidak perlu bertanya lagi, Ucup memang bekerja dan tengah mengambil spesialis di Rumah Sakit ini. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa Ucup yang mengambil spesialis bedah ada disini?
"Apa anda suami dari pasien?" sapa dokter itu.
"Benar, bagaimana keadaan Istri saya?"
"Bisa kita berbicara diluar saja, Pak?" jawab Dokter.
"Baik."
"Dokter Geraldi, bisa tolong cek lebih dulu keadaan pasien?"
"Baik, Dokter Seto." tegas Ucup.
Tidak mau berlama-lama, Antariksa melangkahkan kakinya keluar bersama dengan Dokter itu. Diluar Antariksa tampak lebih gelisah. Dia menyugar rambutnya yang tadinya rapi menjadi berantakan.
"Begini, Pak. Benturan yang terjadi pada Nyonya Sabhara itu sangatlah keras. Hal itu mengakibatkan tulang ekornya mengalami 'trauma' untuk sementara dan mungkin beliau tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu dan harus menggunakan kursi roda." jelas Dokter Seto saat diluar ruangan.
"Apa lukanya parah?"
"Tidak, tulang ekornya tidak sampai patah jadi masih aman. Tetapi seperti yang saya bilang, hanya sementara Nyonya Sabhara harus mengenakan kursi roda. Mungkin sekitar dua minggu untuk menghilangkan rasa nyeri di tulang ekornya."
"Baik, Dok. Terima kasih." jawab Antariksa menghembuskan nafas lega.
"Ada hal lain yang juga perlu saya sampaikan." terang Dokter Seto terlihat ragu.
Tidak ada jawaban dari Antariksa. Lelaki itu menunggu apa yang akan disampaikan sang Dokter.
"Karena Nyonya Sabhara jatuh terlalu keras, dengan sangat menyesal..... beliau harus kehilangan janin dalam kandungannya."
Jdarr!
Suara dokter itu terasa seperti petir yang menyambar tepat mengenai Antariksa. Seketika dia merasa dunianya berputar. Tubuhnya lemas seakan jiwanya telah hilang pergi entah kemana. Hatinya berdenyut sakit sekali. Jika tadi masih bisa dia atasi, namun kali ini dia merasa tidak sanggup menanggung rasa sakitnya. Jika saja hatinya bisa mengeluarkan darah mungkin sekarang tubuhnya sudah terselimuti darah karena rasa sakit yang dia rasa.
Selama ini momen kehamilan Senjana yang paling dia tunggu. Antariksa selalu berharap bahwa istrinya akan mengandung putra atau Putri mereka sejak awal pernikahan untuk menyempurnakan Cinta yang bertahun-tahun mereka jaga. Anak yang akan memanggil dirinya Papa. Anak yang akan dia berikan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya, tidak seperti dirinya dahulu.
"Janin?" tanya Antariksa sangat lirih.
"Saya sudah berkonsultasi juga dengan Dokter kandungan mengenai hal ini. Dan diperkirakan janin Nyonya Sabhara masih tergolong muda, mungkin sekitar dua minggu." jelas Dokter Seto.
"Keguguran dibawah usia 10 minggu masih bisa dibersihkan tanpa harus menjalani operasi. Saya akan memberika obat-obatan untuk membersihkan rahim Nyonya Sabhara. Jika tidak berhasil baru saya akan mengusulkan supaya dilakukan tindakan kuretase. Maka dari itu saya juga membawa Dokter Geraldi juga kemari." lanjutnya.
Antariksa tidak tau lagi harus berkata apa? Dia sedih, terkejut, kecewa, marah, semua menjadi satu. Kenapa dia harus tahu kalau istrinya hamil bersamaan dengan dia juga harus merelakan calon anak mereka itu.
Mata Antariksa mulai berair, dia ingin berteriak dengan kencang dan memukul apapun yang bisa dia pukul. Dia kehilangan darah dagingnya yang bahkan tidak akan pernah bisa dia lihat tumbuh kembangnya. Dia bahkan belum sempat menyapa kehadirannya di dalam perut Senjana. Kenapa takdir begitu kejam padanya?
"Pasien sudah siuman."
Ucup keluar dari ruangan memberitahu kepada Antariksa dan Dokter Seto mengenai Senjana. Ucup yang sudah tahu fakta itu melihat Antariksa yang terlihat frustasi dengan mata memerah serta penuh dengan emosi.
"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Dokter Seto pada Ucup.
"Semuanya baik."
"Baguslah, kalau begitu saya permisi, Pak. Nanti perawat akan mengantarkan obat yang saya katakan untuk istri Anda."
Antariksa mengangguk tanpa minat karena masih berusaha menahan air matanya.
"Dokter lebih dulu saja, saya masih ingin berbicara dengan teman saya."
"Oh, baiklah. Saya duluan, Dokter Geraldi."
Ucup hanya mengangguk singkat dengan senyum simpul. Dia kembali melihat Antariksa dengan prihatin.
"Gue baru tau dia ada, Cup." ujar Antariksa.
"Sabar, Tar."
"Gue baru tau dia ada dan harus ngerasain kehilangan dia secara bersamaan."
"Semua udah jalannya, Tar. Lo harus kuat! Senjana butuh lo nantinya. Siapa yang bakal nguatin dia kalau bukan lo?"
Mendengar kalimat itu, Antariksa justru kembali emosi. Seandainya Senjana mendengar perkataannya untuk tidak pergi ke caffe, mungkin calon anaknya masih hidup sampai sekarang. Dia tidak akan kehilangan calon anak yang sangat dia tunggu kehadirannya.
Antariksa yang masih dengan wajah kecewa masuk ke dalam ruangan diikuti Ucup. Dia melihat Senjana tengah duduk bersender di kepala ranjang dikelilingi kedua temannya. Antariksa melihat senyum lemah dari Senjana.
"Kenapa kamu pergi ke caffe saat aku udah ngelarang kamu pergi?!" ujar Antariksa dingin dan tajam.
"Aku minta maaf. Aku pikir kalau sebentar gak masalah."
"GAK MASALAH?! KAMU PERGI GAK KASIH TAU SUAMI, KAMU PIKIR GAK MASALAH?!" bentak Antariksa.
Selama bersama dengan Antariksa, tidak pernah sekalipun Senjana mendapatkan bentakan dari suaminya itu. Ini adalah pertama kali Antariksa membentaknya dengan tatapan sangat tajam terlihat penuh emosi. Bukan hanya Senjana saja yang terkejut, Lily dan Cantika juga sama terkejutnya.
"Aku tau aku salah, tapi aku cuma mau bantuin Cantika. Lagipula aku jarang main, nongkrong sama temen-temen aku. Apa salahnya sesekali aku mau gabung bareng sama mereka?" jawab Senjana membela diri.
"Kamu tau Sen.... karena sikap egois dan keras kepala kamu, KITA KEHILANGAN CALON ANAK KITA!"
"Damn it! Kamu keguguran Senjana."
Air mata Antariksa yang tadi tertahan tidak bisa dia bendung. Tangan kanannya menutup kedua matanya mengusap cairan yang keluar itu namun tidak bisa berhenti. Dia tahu kalau tidak bisa berada di tempat ini lama-lama, Antariksa keluar dari ruangan entah pergi kemana asal dia bisa menyalurkan emosi dan juga kekecewaan di hatinya.
Sementara Senjana membeku di tempatnya. Dia terasa dunia di bawah kakinya hancur begitu saja. Jadi, dia hamil dan sekarang mengalami keguguran? Dia membunuh calon anaknya sendiri? Anaknya bersama dengan Antariksa.
"Senjana..." panggil Lily khawatir begitu juga Cantika.
Satu air mata lolos dari matanya. Kedua tangannya menggenggam selimut yang menutupi kakinya dengan erat. Bagaimana bisa dia kehilangan tanpa sempat untuk memilikinya?
"Kenapa gue sebodoh itu? Kenapa gue gak tau kalau gue hamil?" ujar Senjana pada dirinya sendiri.
"KENAPA LO SEBODOH ITU SENJANA?! LO NGEBUNUH CALON ANAK LO SENDIRI! KENAPA?!"
Teriakan pilu dan juga tangisan Senjana memenuhi ruangan inapnya. Lily dan Cantika berusaha menenangkan Senjana, begitu juga dengan Ucup yang memegangi Senjana. Namun karena wanita itu tidak kunjung tenang, terpaksa dia mengeluarkan obat bius di kantongnya dan dia suntikkan pada selang infus Senjana. Tidak berselang lama, Senjana mulai melemas dan berbaring di ranjang. Cantika dan Lily yang melihat ikut merasa bersalah dan menangis melihat kesedihan sahabatnya itu.
"Maafin aku, Tar..." ujar Senjana masih mengingat kejadian tadi sebelum benar-benar tertidur.
©©©
TBC