Citra segera beranjak ke pintu. Dia sudah pasrah apa yang akan terjadi. Farhan pasti emosional. Biasanya sepulang kerja begini dia merasa lelah dan biasanya dia akan langsung santai di ruang tamu bersama anak-anak. Farhan tidak terlalu suka ada orang lain yang datang tanpa janjian terlebih dahulu. “Mas, maaf. Ada Rani,” tutur Citra usai memberi pelukan dan kecupan ringan di pipi Farhan. Segera diambil tas kerja milik Farhan. Farhan hanya menghela nafasnya. Dia tahu, wajah Citra yang pucat menandakan tidak baik-baik saja. Farhan hanya melirik pada Rani sekilas saat masuk ke dalam rumah. Sebenarnya, dia ingin langsung masuk kamar andai anak-anak tidak ada di situ. Namun, Farhan tahu itu bukan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Dia sudan membiasakan menyambut tamu. Maka diputuskannya u

