T I G A

1913 Kata
Ketika senja menyapa pun ketika Sandhya menampakkan jingganya, keluarga kecilku tengah berjalan menuju rumah masa depan setiap umat manusia. Kami harus menyapa seseorang dan memperkenalkan seseorang. Kami wajib mengingat yang telah pergi dan wajib menjaga yang baru saja hadir. Langkah Kanya mulai melambat ketika mata berkacanya melihat gerbang pemakaman, sementara putri kecil kami langsung mengalihkan pandangan juga memeluk leherku erat ketika nampak di matanya gundukan tanah berikut dengan batu nisannya. Aku juga merasakan hal yang sama ketika mulai masuk ke dalam pemakaman, tapi aku harus nampak kuat untuk dua perempuan hebatku. Kugenggam tangan Kanya untuk membuatnya yakin, lantas kupeluk erat Ara dengan tangan kiriku agar hilang rasa takutnya. "Senja sudah menunggu," memaksa langkah Kanya lebih cepat lagi. Sejujurnya tak masalah jika langkahnya lama, aku bisa memahami betapa lunglainya setiap tulang di tubuhnya, dia pasti ingat masa-masa ketika Senja menampakkan warna emasnya di langit. Aku mengerti sebab aku juga merasakan hal yang sama, tentang kerinduan pada jingganya Senja. Tapi aku berpikir soal Sandhya, tidak baik anak balita diajak ke pemakaman hingga larut malam. Angin malam juga tidak bagus untuk Sandhya Arasely Putri Persada, terlebih dia akan menjalani perjalanan yang cukup panjang. Sebagai seorang Ayah, dimanapun dan siapapun yang menyandang gelar Ayah harus bisa mengutamakan kepentingan yang utama. Harus bisa memutuskan apa yang terbaik untuk semuanya, dan yang terpenting saat ini, yang harus diutamakan ialah Ara juga bayi kami dalam kandungan Bundanya. Dia juga tak ingin udara malam mengganggu tidurnya di dalam rahim. Sampai di tempat tujuan, dimana gundukan tanah berbendera merah putih serta berbatu nisan putih bersih, terbaring seseorang, baik sahabat juga yang tercinta. Senja Bhuana Wicesa, tempat ternyamanmu menanti hari kebangkitan. Ara masih memelukku erat, tidak mau melonggarkan barang sedikit saja. Dia pasti takut dengan suasana pemakaman yang baru pertama kali dia datangi, selebihnya dia hanya pernah lewat dan melihatnya dari dalam mobil. Kanya duduk di samping makam Cesa, mencabuti rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di atas gundukan tempat berbaringnya. Sesekali pasti Kanya mengingat masa indahnya, entah sudah berapa tahun berlalu. "Kak, eh, Kak Ara dengerin Ayah," berusaha melonggarkan pelukan Ara. "Ayo sapa Om Cesa dulu, Sayang. Om sudah menunggumu sejak lama," kataku tetap berusaha membuatnya mau melihat tempat dimana Om-nya berbaring. Menggeleng di bahuku, tangan mungilnya tetap memeluk erat leherku. Jika lebih erat lagi, mungkin Ayahmu ini akan terbunuh, Nak. "Sayang, eh, Om Cesa itu yang tadi loh, tentara hebat, penyelamat anak-anak kecil," bujukku mengingatkannya pada sebuah foto besar di ruang tamu Uti Rahmi, foto Cesa dan fotoku ketika pelantikan Infanteri di Dodiklatpur Rindam IV/DIP. Jinggaku masih tetap takut-takut, bersembunyi di sela-sela leher dan bahuku, merangkulku erat tidak ingin dilepaskan.  "Ayo, Sayang. Sapa Om Cesa dulu nanti Ayah ajak pulang, kalau belum mau menyapa Om Cesa, Ayah dan Bunda tidak akan pulang," tegasku meski Ara belum paham betul seperti pahamnya orang dewasa. "Sini Kakak ikut Bunda," mengajukan tangannya pada Ara yang langsung disambut hangat dan putri kecilku berpindah tangan. Kanya dengan sifat keibuannya membujuk Ara untuk menyentuh nisan Cesa, "Hallo, Om Cesa, namaku Sandhya sama sepertimu yang berwarna jingga," menuntun Ara sekali lagi putriku tidak mengerti apapun itu. Rintik gerimis jatuh dari mata Kanya, aku berusaha menguatkannya dari sentuhan lembut di bahu serta punggungnya. Aku tahu betul betapa dia merindukan seorang Senja, semoga pertemuan hari ini bisa mengobati sedikit rindunya. Ara yang tadinya tidak mau menyentuh batu nisan lantas mau menyentuhnya, bahkan mengikuti Kanya menjatuhkan beberapa bunga di atas pusara. Entah bagaimana caranya Kanya membujuk Ara, tapi setiap kalimat yang belum dipahami oleh anak kecil itu bisa merubah putri kecilku untuk berkenalan dengan Cesa. "Cesa, aku datang kemari bersama dengan keluargaku. Kamu pasti belum mengenal putriku, namanya Sandhya Arasely Putri Persada. Kamu bisa memanggilnya dengan Kak Ara sebab dia akan memiliki Adik kecil kurang lebih 5 bulan lagi. Namanya indah bukan? Iya, kamu benar. Aku ingin mengenang kamu melalui namanya. Jika kamu masih ada, mungkin Ara tidak ada. Aku tidak bisa mengucapkan terimakasih sebab kehilanganmu juga menyakitkan tapi aku mensyukuri hadirnya Ara dalam kehidupanku seperti aku mensyukuri kehadiranmu," batinku berbicara dengan Cesa di liang lahatnya. "Pintar, sekarang waktunya Kakak berdoa untuk Om Cesa, angkat tangannya, Sayang," Kanya membantu Ara untuk menengadahkan tangannya. Senyumku mengembang, istri yang bisa diandalkan dalam membimbing Ara. Meski kenyataannya tidak banyak waktu luangnya. PNS mana yang banyak waktu luang untuk keluarganya di tahun politik semacam ini. Lambat laun senja menghilang, tergantikan oleh malam. Berbincang dengan Cesa telah cukup hari ini, jangan terlalu lama sebab kegelapan bukanlah tempat yang bagus untuk Ara. Nyamuk nakal dan kurangnya cahaya terlalu berbahaya bagi anak kecil. "Cesa, kami pamit pulang, maaf hanya mengunjungimu dalam beberapa jam. Tapi ingatlah ini bahwa namanya ialah Sandhya Arasely Putri Persada, dia akan terus mengunjungimu meskipun dia sudah tua nantinya. Aku pastikan dia akan selalu menyapamu, entah bersama kami atau hanya mereka sendiri," batinku mengusap nisan putihnya. "d**a dulu sama Om, Sayang. Om, Kak Ara pamit dulu ya?" Membahasakan Ara dengan ujung mata yang basah. Aku menggenggam tangan Kanya, "ayo, waktunya srikandi-srikandi Ayah istirahat." Kanya lantas tersenyum dan ikhlas meninggalkan Cesa. Jujur terkadang ada rasa sakit ketika Kanya hanya peduli dengan kerinduannya pada Cesa, ada rasa sesak ketika Kanya masih saja memiliki rasa. Tapi satu hal yang aku yakini, dia hanya tidak bisa lupa dengan kenangannya bukan dengan perasaannya. "Bunda mau makan di luar atau makan di rumah Uti?" Tawarku saat kami berjalan ke rumah Cesa. "Di rumah Uti saja, sudah lama kita tidak mengunjungi Uti Rahmi, bagaimana bisa kita justru melewatkan makan malam bersamanya?" Jawab Kanya dengan keputusan terbaik, toh kita tidak boleh terlalu sering makan di luar. Makan di rumah lebih terasa kekeluargaan dan kehangatannya. "Oke, ayo kalau begitu," mempercepat langkah setelah mengambil alih Ara ke dalam dekapanku. Tidak akan kubiarkan istri tercintaku kelelahan, menggendong Ara yang begitu berat sembari menjaga kandungannya. Melewati kebersamaan keluarga kedua atau entah keluarga ke berapa. Kini kami baru saja berbaring, mengistirahatkan badan yang mulai lemah. Di sampingku berbaring seorang istri yang amat kudamba, tengah memijat kecil kaki putihnya. Dia terlalu banyak berjalan kaki hari ini, pasti sulit baginya. Terlebih bagi ibu hamil memang sering merasa kelelahan. Aku lantas bangkit dari tempatku, memegang kakinya dan memijitnya lembut. Jika tak lembut akan melukai kakinya, semua orang tahu bahwa kekuatan tangan tentara itu tidak diragukan lagi. "Tidak usah, Ayah tidur saja," tegur Kanya menjauhkan kakinya dari jangkauanku. "Apakah seorang suami salah memberi nafkah kepada istrinya? Ingat saja bahwa nafkah itu tidak selalu tentang materi," kembali menarik kakinya, memijitnya lebih lembut lagi. Kanya hanya diam dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa Bunda selalu ingin menangis ketika Ayah bersikap seperhatian ini?" Tanyanya setelah diam dalam beberapa menit. Aku mengangkat kepalaku, menatap Kanya lalu hanya menggerakkan alisku ke atas. Aku jelas tidak tahu menahu mengenai jawaban atas pertanyaannya. "Karena Bunda tidak bisa lagi mengucap syukur dengan kata. Orang bilang mata lebih jujur dari mulut, mata juga lebih bisa berbicara ketika mulut tidak bisa melakukannya," dia jawab sendiri pertanyaannya. "Tidak mudah diawal menikah denganmu, Yah. Pengajuan, adaptasi di lingkungan barak para perwira berkeluarga, tata aturan yang rumit, tidak mudah tapi Ayah selalu membuatnya mudah dengan genggaman tangan." Tidak ada kalimat yang lebih manis dari setiap kalimat yang Kanya ucapkan, dia selalu saja mengucapkan kalimat manis padaku. Hanya tersenyum kecil sebab aku tidak bisa mengatakannya dengan kata. Tapi setiap debar jantungku ialah syukur atas kehadiran Kanya dalam karir militerku. Dia sungguh istri yang kuat dan mudah menyesuaikan, istri yang taat dan seringkali belajar agama meski hanya beberapa kalimat dalam sehari. Dia benar-benar mengikuti apa kataku, tidak ada pembangkangan selama ini. Aku bersyukur atas itu. Mengusap perutnya, "semoga kamu benar-benar laki-laki dan bisa segagah Ayahmu, Nak. Sehat-sehat ya?" Kuikuti gerak tangan Kanya, berada di atasnya dan mengusap perutnya. Sementara tangan kananku masih tetap memijat kakinya. "Otot-ototmu terlalu kaku hari ini, kalau Kak Ara tidak ada, pasti Ayah bakalan gendong Bunda kemanapun kita pergi," kataku tesenyum menggoda. Kanya langsung memukul lenganku kecil, "berat badan bunda naik 3 kilo dari sebelumnya. Mana kuat?" "Ah, kuat lah. Angkat benda-benda di tempat gym saja kuat, Bunda mah masih enteng," sombongku setidaknya hanya pada istriku. "Ah sudahlah, sudah tua, kebanyakan menggoda sudah bukan waktunya. Tidurlah, besok Ayah harus mengemudi sampai ke rumah, besok juga langsung tugas kan?" Menarik tubuhku agar berbaring di sampingnya, bukan, lebih tepatnya di belakangnya. Dia lebih memilih memeluk Ara daripada suaminya. Sudah sewajarnya memang, aku selalu terlupakan. Lantas aku terlelap bersama dengan dua malaikat tak bersayapku. Entah seberapa lama sampai akhirnya aku terbangun oleh sebuah isakan. Cukup ketahui bahwa kami saat ini berbaring di kamar Cesa, semua hiasan dinding tak luput dari foto-foto kami, mulai dari fotoku dengan Cesa dari masa ke masa, foto Cesa dengan Kanya dan bahkan foto pernikahanku dengan Kanya ada di sini. Baik di atas dinding atau di atas meja. Mataku menyipit, berusaha menyaksikan dengan jelas sebuah adegan yang hanya sendirian. Kanya terisak di ujung tempat tidur, memegangi dua bingkai foto dengan komposisi yang berbeda. Untuk memperjelas, aku segera bangkit dan duduk di sebelahnya. Namun belum sempat aku melihat bingkai fotonya, Kanya langsung meletakkan kembali kedua bingkai itu di atas meja. "Ayah kok bangun, tidur lagi, Yah. Banyak nyamuk ya?" Menyembunyikan air matanya, mengalihkan pembicaraan. "Bunda semprot lagi lah," mengambil obat nyamuk sprai dari atas meja di dekat dua bingkai foto yang tertelungkup. Kutahan gerak tangan Kanya, "ada yang ingin Bunda katakan?" Tanyaku menatap matanya yang telah sembab. Menggeleng, "tidurlah," memakaikan selimut dan mengecup keningku. Kembali bangkit ketika Kanya hendak berbaring di sebelahku, kutahan pula gerak tubuhnya. Kulihat jam dinding di kamar menunjukkan pukul 01.06 WIB. Bukan jam baik baginya untuk menangis, jelas sekali suara tangisnya meski hanya sesegukan tanpa suara. Kanya menatapku tajam dalam tiga detik, lantas dia mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatapku sedalam biasanya. Dia menyimpan sejuta rasa bersalah yang tidak aku mengerti, dari tatapannya aku tahu itu mengenai rasa bersalah. "Katakan," pintaku dengan nada yang lembut. Ara masih terlelap pulas dengan dahinya yang mulai berkeringat, putriku itu memang sedikit lucu, dia seringkali berkeringat ketika tidur, tidak suka memakai selimut meski orang lain kedinginan. Menunduk di depanku, "maafin aku, Mas, enggak bisa jadi istri yang baik buat Mas. Enggak bisa jadi Bunda yang baik untuk anak-anak, bahkan untuk Adik yang masih dalam perut," katanya dengan suara parau dan air mata setitik yang jatuh. Kuangkat dagunya, "kamu sudah yang terbaik buat Mas dan anak-anak, Dik," meyakinkannya. Menggeleng, "masih jauh dari itu, Mas. Bagaimana Mas bisa menerimaku dengan kesalahan besar sejak awal mendampingimu? Bagaimana Mas bisa mempercayaiku sebagai Bunda dari anak-anakmu? Tidakkah Mas merasa benci setiap kali melihatku, mendengar aku menyebut nama laki-laki lain di tengah malam? Bagaimana Mas bisa tahan dengan semua itu?" Menelan ludahku, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak tahan, sama sekali tidak tahan ketika setiap malam mendengar Kanya menyebut nama Cesa dalam tidurnya. Aku merasa tersisihkan sebagai suami sebab laki-laki lain justru lebih sering muncul dalam mimpi istriku, bahkan sekalipun belum kudengar Kanya mengigau tentangku, pasti selalu tentang orang lain. "Mas enggak bisa jawab kan? Mas merasakan sakit kan? Mas, kenapa diam saja? Kenapa enggak marah sama aku? Kenapa enggak protes padahal setiap malam aku menyebut nama laki-laki lain, Mas? Tidakkah kamu takut suatu saat Kak Ara bertanya tentang mengapa Bundanya selalu menyebut nama laki-laki lain?" Untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menjawab semua kalimat tanya yang Kanya lontarkan. Apa yang bisa aku jawab, bahkan tidak ada. Hanya akan menyakiti dirinya ataupun diriku. "Tidurlah, Adik pasti ingin istirahat yang cukup, subuh nanti kita pulang ke Karanganyar," menarik tubuhnya ke dalam dekapanku, sembari berbaring, kubiarkan dia menangis. Tidak ada yang bisa aku katakan untuk saat ini, aku butuh kalimat yang pas untuk mengungkapkannya. Untuk membuatnya tetap merasa nyaman dan hatiku aman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN