Dengan tas bertali panjang yang diselempangkan, Elena berjalan melenggang tetapi tetap dalam langkahnya yang anggun. Elena terus berjalan memasuki badan pesawat mendapati bahwa tempat duduknya adalah di sisi pinggir koridor. Bukan tempat yang dia inginkan tetapi dengan penerbangan tanpa rencana Elena harus bersyukur bisa kembali ke tanah air. Otak dan hatinya sudah terlalu penuh dengan semua yang terjadi di rumah Nick. “Permisi, sepertinya tempat dudukku ada di sebalah Nona.” Suara seorang wanita menyadarkan Elena yang sempat melamun. Dengan cepat Elena bangun dari duduknya memberi kesempatan pada wanita yang menyapanya. “Hey, bukankah Nona adalah orang yang aku lihat di ruang tunggu tadi?” sapa wanita tersebut dengan suara nyaring. Sekali lagi Elena tersenyum

