Di dalam mobil, Khairul berulang kali melirik kaca spion untuk melihat Bastian. Tidak biasanya putra majikan sekaligus teman kecilnya diam dan memilih duduk di belakang dan apa yang sedang dia perhatikan? Apakah dia memegang sebuah kartu nama? Kartu nama siapa? Seorang wanita? “Aku ingin tahu apa pendapatmu kalau aku mengatakan akan merebut seorang wanita yang sudah menikah dari suaminya,” tanya Bastian tiba-tiba. “Mas Tian mau jadi pebinor? Gak pantas, Mas. Apa gak takut ditertawakan sama orang banyak? Seolah Mas Tian sudah tidak laku sama anak perawan saja,” gerutu Khairul sewot. “Tapi wanita itu adalah wanita yang cantik dan menarik,” jawab Bastian. “Walaupun begitu, tetap tidak pantas. Mas Tian bisa mendapatkan wanita yang baik dan berkelas.” “Berkelas? Men

