Seminggu sebelum ujian nasional membuat semua siswa kalang kabut. Siswa yang memiliki otak pas-pasan akan mendatangi siswa berotak pintar, untuk apa lagi kalau bukan untuk mengajari mereka. David memilih menyingkir dari kelas menghindari keramaian kelas. Dia tidak terlalu menyukai hal itu. Apalagi kalau dirinya harus mengajari teman-temannya. Biarkan jika dia dicap sebagai siswa pelit yang tidak mau membantu temannya. Dengan kedua tangan berada di saku celana, David berjalan di koridor sekolah. Kali ini dia berjalan sendiri, entah di mana kedua teman kampertnya. Dari arah depan Jenny berjalan ke arahnya. Decakan kesal terdengar dari mulut David. Sungguh dia sedang tidak mau diganggu saat ini. "David! Mau ke mana?" pekik Jenny. Bukannya menjawab, laki-laki itu malah mengelos pergi dari

