“Siapa?”
Kami semua melirik kearah ruang tamu yang dapat terlihat dari ruang keluarga tempat kami berkumpul, dua orang tamu yang sama sekali tidak pernah datang untuk mengunjungi kami.
Semua saling melempar tanya dan bertanya-tanya.
Aku juga bertanya-tanya, apakah mereka keluargaku?, keluarga dari pihak ayah atau ibu?, atau mereka adalah keluarga dari anak panti lainnya yang akhirnya menyadari jika ada keturunan mereka berada di rumah ini.
“Daisy.”
Miss Hurley memanggil namaku, bisa dipastikan mereka berdua mencariku.
Aku bangkit dari dudukku sambil melirik keseluruh penghuni panti, mereka juga membalas lirikanku dengan wajah cemas dan penuh tanda tanya.
Aku berjalan menuju ruang tamu dan berhadapan dengan wanita yang sangat mirip dengan ibuku, sudah kupastikan dia adalah keluargaku ditambah dengan warna rambutnya yang sama dengan denganku.
“Daisy sayang, maafkan kami baru menjemputmu.”
Aku hanya bisa menundukkan wajahku, menyembunyikan ekspresi tidak senangku, menyembunyikan rasa kecewa dan juga tidak nyaman akan kehadiran mereka.
Aku tahu kehadiran mereka tidak tulus, mereka sama sekali tidak berharap menjemputku tetapi ada hal lain yang memaksa mereka untuk menjemputku dan aku tidak menyukainya.
Ibuku sering mengirimi mereka surat tetapi tidak ada yang dibalas, ibuku sering menelepon mereka tetapi tidak pernah diangkat dan sekarang mereka mengatakan maaf karena baru menjemputku.
Mereka tidak datang dengan niat baik tetapi entah mengapa aku juga tergelitik untuk mengikuti permainan mereka.
Apakah aku mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja?, aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Aku sendiri memang memiliki rencana untuk pergi ke ibukota setelah lulus dari sekolah menengah atas, satu tahun lagi karena aku akan melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi.
Aku mengangkat wajahku dan tersenyum yang kuharap mereka tidak tahu jika senyumanku adalah senyuman palsu.
“Ada banyak hal yang terjadi, sehingga kami belum bisa menjemputmu.”
Aku menganggukkan kepala dan tersenyum kembali, meskipun aku tidak peduli apa yang sudah terjadi pada mereka.
Apakah mereka sedang kesulitan keuangan dan tahu jika tanah serta rumah ini milik ibuku?, atau mereka tahu jika ibuku ternyata memiliki beberapa saham yang setiap tahun memberikan keuntungan besar bagiku dan tentu saja untuk mengelola panti. Pikiranku tentu saja tidak dapat berpikir positif.
“Aku belum mengenal kalian.” ucapku sambil tersenyum tipis.
“Maafkan kami karena terlalu senang telah berhasil menemukanmu dan ingin menjemputmu, aku nenekmu Matilda Gilles dan pria ini adalah pamanmu, kakak dari ibumu namanya Roberto Young.
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku, nama ibuku Violeta Young. Senyuman tipis kembali kuberikan.