Udara musim semi memang selalu menyenangkan, tentu saja aku sangat menikmati udara musim semi dimana bunga-bunga persik sedang bermekaran dan yang paling utama aku tidak sabar untuk menunggu bunga-bunga tersebut menjadi buah persik yang lezat.
“Rupanya anak panti asuhan yang dipungut oleh keluarga Young berada disini.”
Mataku membulat mendapati Helena bersama geng perundungnya muncul disaat aku sedang menikmati indahnya musim semi.
Di kota Finnest, kami akan menggelar tikar piknik, menikmati mekarnya bunga persik dan buah ceri sambil menikmati bekal yang kami bawa.
Aroma harum yang lembut, indahnya pemandangan saat kelopak bunga gugur tertiup angin dan aku sedang menikmatinya saat ini di halaman sekolah. Meskipun hanya ada satu pohon persik yang terlihat sudah sangat tua tetapi cukup mengobati kerinduanku akan keindahan kota Finnest.
“Aku bukan anak pungut, sebenarnya kita ini punya masalah apa Helena?”
Tentu saja aku harus bertanya padanya, kami ini sebenarnya punya masalah apa. Mengapa dia membenciku seakan-akan aku pernah menyakiti dirinya di masa lampau, sementara aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya.
“Aku tidak menyukaimu. Itu saja sudah cukup menjadi alasan.”
Jawaban Helena membuatku menghela nafas panjang dan mendengus kesal.
“Tidak menyukaiku karena apa?, apa di masa lampau kamu adalah b***k yang aku siksa dan sekarang kamu sedang berencana membalas dendam padaku?”
Aku memancing kemarahannya, bisa kurasakan pipiku terasa panas dan sakit karena dia menamparku.
“Lancang, sejak dulu sampai sekarang aku bukanlah b***k. Mungkin b***k itu adalah kamu!” jeritnya yang membuatku memasang wajah sedih dan terluka.
Aku tentu saja tidak suka bermain fisik, bukan gayaku untuk menyerang secara fisik.
Aku menangis dengan sengaja.
“Aku hanya merasa heran denganmu, apa masalah kita?, aku sama sekali tidak ingat pernah mengenalmu dan aku juga baru kembali setelah sepuluh tahun dari kota lain jadi sudah kupastikan kita tidak pernah bertemu. Jika aku memang memiliki salah bukankah lebih baik kamu menegurku, mengatakan apa kesalahanku, bukan memusuhiku dan mengatai diriku anak pungut. Aku tidak pernah meminta ayahku gugur dimedan perang, aku juga tidak pernah meminta ibuku untuk meninggal karena sakit. Aku juga tidak pernah meminta keluarga ibuku membawaku ke kota ini, aku tidak pernah memintanya dan aku bukan anak pungut, aku salah satu cucu dari keluarga Young. Jadi apa masalah kita Helena?, bahkan teman-temanmu ikut-ikutan memusuhiku tanpa aku ketahui alasannya, hanya karena kamu tidak menyukaiku lantas mereka juga tidak menyukaiku. Apa kamu juga akan meminta mereka melompat dari gedung, jika kamu ikut lompat?. Aku benar-benar tidak mengerti dengan dirimu Helena, katakan apa salahku?.”
Aku kembali menangis tersedu-sedu, aku melakukannya saat sekelompok anak lain ikut mengawasi kejadian yang menimpaku.
“Kamu..” Helena mengacungkan jari telunjuknya dihadapanku.
“Apa belum puas kamu menamparku, Helena?” tanyaku dengan nada lirih.
Helena menghentakkan kakinya dan menginjak ujung sepatuku dengan keras.
“Helena, sakit!.” jeritku diiringi deraian airmata.
Wajahnya terlihat begitu terkejut dan aku tentu saja melanjutkan tangisanku, air mataku berderai-derai, menganak sungai dipipiku.