Bab 10

1745 Kata
Kuliah hari ini bikin kepala Shara pusing. Bukan karena materinya, tapi dosennya yang ngajarnya ngasal. Kalau dipikir-pikir, mending gak usah diajarin. Berasa baca slide doang. Ada Igor disamping Shara yang sedang mengantuk itu. Beda dengan yang Shara rasakan, Igor malah fokus banget sama papan tulis. Dia terlihat manggut-manggut saat dosen bertanya, “Sudah ngerti kan?” Waktu Shara nanya, dia malah bilang, “Sebenarnya gue gak ngerti, cuma pengen aja bertingkah kayak anak baik.” Sungguh suatu kepura-puraan. Kenapa tidak jujur saja, biar dosennya bisa introspeksi diri? Itulah yang Shara tanyakan setelah kuliah itu berakhir sempurna. Berakhir dengan mata yang menahan kantuk. “Entar kalau mau jujur, bisa mengisi kuesioner penilaian dosen. Sayangnya dibagi kalau semester ini udah kelar.”seru Igor sambil berjalan dengan lembaran kertas di tangannya. “Gue bakal ngasih dia nilai buruk. Menyebalkan.” “Gak kasihan? Dulu ada dosen yang dikasih nilai jelek banget sama mahasiswa. Dan lo tahu apa yang terjadi?” Shara menggeleng. “Dia dipecat.” “Boong lu. Ya kali.” “Dipecat dalam arti dia gak dibolehin lagi ngajar mata kuliah itu. Jadi dia harus nyari mata kuliah lain buat dia ajar.” “Jadi menurut lo dosen yang tadi bisa ngajar? I think dia gak bisa ngajar mau itu mata kuliah apapun.”balas Shara. Pernyataan yang sangat menohok itu bikin Igor menghela nafas. Hasil dari kuesioner penilaian dosen memang sangat berpengaruh. Selain itu, kuesioner itu akan sangat membantu kampus untuk peningkatan mutu dosen. Ya wajar sih, meskipun kampus CI bukan kampus negeri, tapi kampus itu memiliki reputasi yang baik di masyarakat.  “Lo tulis aja entar di kuesioner. Tapi asal lo tahu, beberapa mahasiswa gak butuh dosen yang pintar ngajar. Mereka butuh dosen yang baik hati. Dosen yang mau ngasih nilai tambahan, dosen yang gak strik sama jadwal plus dosen yang pengertian. Kalaupun lo ngasih penilaian jelek, kalau lo doang, gak bakal berguna.” Itu benar. Suara terbanyak seakan jadi penentu kualitas seseorang. Mungkin itu yang jadi alasan kenapa dosen tadi masih tetap jaya di kampus ini. Dia bisa merebut hati mahasiswa dengan sikapnya. Begitu juga dengan cinta, terkadang cinta tak mengenal wajah tapi kepribadian. Shara dan Igor berjalan cukup jauh untuk sampai di kafe TG. Shara sih emang mau kerja, sedangkan Igor sekedar mau ketemu Mila. Mila menghabiskan banyak waktu di Kafe TG. Dia bisa dapat ide bagus untuk puisi dan novel yang sedang ia tulis.  “Mila lagi ngapain ya?”seru Igor dengan wajah berbinar. Kali ini ia seperti ngomong ke dirinya sendiri. Seakan Shara adalah batu yang gak bakal dengar apa-apa. Shara pura-pura gak dengar aja. Rasanya ia ingin bilang kalau Mila sudah ada yang punya. Tapi dia gak punya hak buat itu. Biar Mila sendiri yang bilang.  Mereka sampai dan disambut oleh Hendi seorang. Tak ada Dios dan Mila. Ada beberapa pelanggan, tapi tidak terlalu banyak.  “Hen, Mas Dios mana?” “Ada kabar buruk. Kakeknya meninggal. Tadi Mas Dios sama Mila langsung pergi abis dapat kabar itu. Gue sampai stres kak, tadi banyak banget pelanggan.” “Sorry ya Hen, tadi gue kuliahnya lama banget.”bales Shara. Shara tiba-tiba sedih mendengar kabar itu. Hendi langsung izin pamit karena dia harus ada les malam ini. Jadwal mereka memang disesuaikan tergantung keadaan. Dan kali ini, Shara harus kerja lebih lama karena gak ada orang selain dia yang bisa mengambil alih. Beberapa pelanggan datang. Shara langsung bersiap. Igor tampak menekan ponselnya. Ia pasti khawatir dengan keadaan Mila. Mila pernah bilang kalau kakeknya itu satu-satunya orang yang mendukungnya untuk mengambil jurusan Bahasa Indonesia. Dia pasti merasa sangat kehilangan.  “Gor, pulang aja duluan. Mila juga gak disini.”teriak Shara saat melihat Igor sedang merenung. Bagai dihempas badai, ia terdiam seperti orang bodoh. Ia beranjak dan malah berdiri di depan Shara. “Gue bantuin lo deh Sha.” “Ga usah Gor, orang pelanggan juga cuma dua orang.” Saat kata-kata itu terlontar, gerombolan mahasiswa datang dan langsung duduk. Jumlah mereka cukup banyak. Tak hanya itu, sepasang suami istri juga masuk kafe dengan wajah penuh cinta. Ah, begitu beruntungnya mereka. “Oke, lo bantuin gue. Entar gue traktir mie ayam.”tawar Shara. Igor langsung mengambil posisi untuk melayani para pelanggan. Ia tak perlu belajar ulang karena kemarin ia sempat ngebantuin juga. Tak ada yang berubah kecuali perasaan gak enak. Mereka berdua sama-sama memikirkan keadaan Mila dan Dios. Mereka pasti sedang berduka dengan air mata memenuhi wajah. Memikirkannya saja sudah jadi duka yang bikin perasaan gak enak. Shara menghela nafas lega. Kafe TG sudah tutup tepat pukul 08.00 malam. Ponsel yang sedari tadi tak digubris akhirnya dianggap ada. Ternyata ada beberapa pesan dari Dios. Mas Dios : Sha, tutup aja kafenya. Lo pulang lebih cepat ya. Jangan ngelayanin sendiri. Shara langsung membalas. Shara : Ini cafe baru tutup mas. Gue di bantuin Igor kok. Turut berduka ya mas, kasih salam buat Mila. Dan jangan sedih-sedih. Kalau mau nangis, nangis aja. Tapi cukup satu hari ya.  Send! Shara mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan. Semua sudah diatur dengan baik. Ia melihat Igor yang duduk terkulai karena kelelahan. Penutupan kafe hari ini disponsori oleh Igor, cowok manis dengan tenaga luar biasa. Igor itu aslinya dari timur, bisa dibayangkan betapa manisnya dia. Apalagi kalau senyum, duh, keindahan dunia serasa dibanting. “Thanks ya Gor. Kalau lo gak ada, mungkin gue udah nangis darah.”ucap Shara sambil menenteng tasnya. Igor menunggunya di depan pintu cafe. Shara hendak menutup pintu dan memastikan tak ada pintu yang terbuka. Baik pintu belakang, samping ataupun pintu depan.  “Santai Sha. Gue juga lagi free kok.” “Hmm, kita makan mie ayam dong ya. Kuy!!!”seru Shara sambil merangkul punggung cowok itu. Hanya sama Igor saja Shara seberani ini. Dia bisa memukul, merangkul bahkan menabo kepalanya. Beda lagi kalau itu David atau Dios. Untuk menyentuh tangannya saja, Shara gak bakal berani. Entah kenapa, dua cowok itu bikin Shara terintimidasi. Kayak ketemu guru killer aja.  Mereka sampai ke tukang mie ayam yang berada di pinggir jalan. Mie ayam itu selalu ramai. Shara sering lewat situ sehabis pulang kerja. Kalau pengen makan, dia selalu bungkus. Rasanya gak enak kalau makan sendiri. Berasa kayak jomblo. Ya, emang sih. Shara jomblo. Tapi dia gak mau aja orang-orang tahu. Makan sendiri bikin dia ngerasa kalau jadi jomblo itu asyik. Nyatanya mah engga.  “Enak ya. Lo udah sering makan disini?”tanya Igor setelah beberapa suapan sampai dimulutnya. Tak seperti mie ayam ditempat lain, rasa mie ayam di sini sangat otentik. Ditambah micinnya yang bikin mabuk kepayang. Duh, berasa di alam lain. “Kadang-kadang. Gue tahu ini enak karena ramai. Plus harganya murah meriah. Kayak kantong gue.” “Hahaha…” “Mila udah bales?”tanya Shara mengalihkan perhatian. Igor menggeleng kecewa. “Sebenarnya, gue mau cerita.”seru Igor dengan serius. Shara tahu apa ini. Shara mendengarkan dengan seksama. “Gue udah lama suka sama Mila.”ungkapnya. Disinilah dibutuhkan bakat akting.  “Serius?”tanyanya dengan nada yang diatur-atur. “Gue juga udah tahu dari sikap lo!”batinnya dalam hati. Ingin disampaikan tapi tak boleh. Terlebih ia sudah tahu kalau Mila itu punya pacar. Gimana caranya dia bisa nyakitin hati Igor? Menurut Shara, biarlah Mila yang menjadi saksi sakit hati itu. Shara gak mau ikut campur. Meskipun ia masih naksir sama Igor, tapi ya sudahlah. Dunia memang dibuat beragam, ada yang harus mengalah untuk tidak dicintai. Semua udah dikasih porsi sama Tuhan. “Iya serius. Sejak pertama kali ketemu. Tapi kayaknya dia cuma nganggep gue teman. Gak lebih.” “Gue harus ngomong apa ya.”seru Shara dengan penuh pertimbangan. “Lo udah coba bilang ke dia?” “Sayangnya belum. Tadinya gue mau bilang kemarin. Tapi akhir-akhir ini dia sering menghindari gue.” What? Pasti ini karena Mila sudah tahu kebenaran itu. Cewek emang sering menghindari orang yang mencintainya jika ia tak cinta balik. Cinta sepihak itu memang menyakitkan. Dan entah kenapa, Shara harus rela berada di antara mereka. Shara yang juga ngenes karena tak punya kesempatan buat dapetin Igor.  “Gini aja, lo harus segera bilang sama dia. Kita kan gak tahu perasaan dia gimana.” “Emang dia gak pernah cerita tentang gue?” Shara menggeleng. “Fiks, dia gak suka sama gue.” “Woy, gak boleh gitu dong. Perasaan itu harus diungkapkan. Gak boleh berandai-andai. Kalau lo gak bilang, dia gak bakal tahu.” “Bukannya sudah jelas? Dia gak pernah cerita sama lo. Lo kan temannya dia.” “Honestly, dia punya banyak teman. Gak cuma gue. Dan gue jarang ketemu dia karena seringan kerja.” Kalimat yang luar biasa logis. Shara benar-benar mau kalau Igor ngungkapin perasaannya. Biar gak menyesal di kemudian hari. Dan dia gak mau Igor terlibat cinta dengan status PHP. Di PHPin itu sakit. Satu orang udah keburu cinta, eh yang satunya malah selow. Siapa coba yang mau. Igor berpikir sejenak. “Oke, gue ikuti saran lo.” “Nah, gitu dong. Udah, lanjutin tuh makan. Mienya sudah sekarat menjerit-jerit.”seru Shara.  Shara langsung berpisah karena Igor harus naik kendaraan umum untuk sampai ke rumahnya. Shara ingin minta maaf karena sudah berbohong. Ia tahu dengan jelas kenyataannya. Ia gak bisa cerita karena akan sangat menyakitkan.  Perut Shara benar-benar kembung. Mie ayam itu porsinya banyak banget. Ia masuk area kosan dan melihat ibu kosan sedang menatapnya tajam. Betapa bencinya ia dengan tatapan itu. Andai tidak murah, mungkin Shara sudah pindah. Ah, tidak juga sih. Shara punya alasan untuk tetap di sini. Ada David yang akan terus ngebantuin dia.  Shara masuk kamar dengan badan lelahnya. Buat mandi pun sudah tak sanggup. Pekerjaannya hari ini berhasil membuat energinya habis. Ia hanya cuci muka dan ganti baju. Saat hendak berbaring, ia malah dapat pesan dari Josen. Josen : Besok lo kuliah gak, Sha? Shara : Engga Jos. Emang kenapa? Josen : Nice. Gue butuh bantuan lo. Please, jangan tolak. Shara : Apa emang? Tergantung jenis bantuannya. Josen : Gue bayar mahal deh Shara : Oke. See you tomorrow Soal uang, gak bisa ditolak. Josen juga gak mungkin ngasih dia challenge di luar batas wajar. Dia semakin ngantuk. Ia terlelap dengan posisi absurd. Tak perlu memikirkan hari esok. Ia hanya perlu memulihkan tenaga agar besok bisa berlangsung lebih baik. Bahkan aroma indomie yang dimasak oleh orang di sebelah kamarnya tidak tercium lagi. Biasanya ia ngomel dalam hati. Lebih parahnya, ia maki-maki tanpa suara. Apa faedahnya makan indomie malam-malam. Bikin orang ngiler aja. Kalau makan indomie, usahakan baunya gak sampe ke tetangga. Karena itu bisa merusak tatanan hidup orang lain.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN