Badanku terasa ringan. Pandanganku buram, tak kuat tuk terbuka lebar. Rasa kantuk dan nyaman menyelimuti, seolah aku sudah berada di rumah dan menggulung diri di balik selimut. “Fania ....” Suaranya terdengar pelan, bergaung dan berbayang. Aku memaksa mata untuk melihat ke samping. Ah, Levine. “Oooh, Levi!” seruku. Kurasakan tangannya di bahu, menggenggam erat seolah aku akan jatuh begitu dia melepaskannya. Aku bersenandung girang. “Kita mau ke mana, hmm?” “Pulang.” Dahiku mengerut. “Pulang? Ke mana?” “Ke rumah.” “Aneh sekali, aku tidak ingat aku punya rumah,” gumamku. “Rumah kita,” koreksi Levine, suara beratnya masih bergaung di telingaku. Aku tertawa. “Rumah kita? Apa itu, romantis sekali ....” “Jangan memelukku! Angkat kaki kananmu, cepat. Sekarang angkat yang satu lagi. Ok

