Setelah berkutat dengan ponselnya sebentar, dia menyodorkan ponsel kekiniannya padaku, menyuruh untuk berbicara dengan Moirai. “Sayang, aku ingin kau segera ke sini.” Suara lembutnya terdengar lebih dalam jika melalui ponsel. “Tapi, aku sedang bekerja.” “Aku sudah mengirim pesan pada Alan dan dia akan bicara padamu sebentar lagi. Aku tunggu kau di sini, oke?” panggilan itu mati sebelum aku bertanya. Dia menungguku di mana? Aku bahkan tidak tahu. Aku menyodorkan ponsel pada pria itu ketika Alan menghampiri dan bilang kalau Moirai menyuruhku untuk pulang lebih awal. “Apa kalian seakrab itu? Kau dan nyonya bos,” tanya si kepala toko. “Erm, tidak. Aku baru mengenalnya di sini. Aku pulang lebih dulu, okey.” Dia menahanku. “Biar kuantar.” “Ohoow, tidak, bung. Dia akan pergi bersamaku.” Pr

