Darjeeling

1186 Kata

Cheesecake sudah matang. Levine, aku dan Dean pindah ke ruang tengah, dengan potongan kue dan teh darjeeling di meja. Aku dan laki-laki bermanik biru kelabu itu duduk di sofa panjang, saling memiringkan badan, berhadapan. Dean duduk di sofa belakang, mengawasiku kalau aku pingsan dengan kotak tisu di tangan. Dia sudah memakai piama hitam, dibalut mantel tidur biru dongker. Rambut bergelombangnya menutupi kedua mata. Namun, kurasakan matanya menatapku tanpa jeda. Kami saling mengerjap. Suara detakan jam lemari antik menjadi satu-satunya bunyi yang meramaikan rumah. Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku belum menyantap kuenya,” gumamku. “Baiklah, nanti saja.” Kami serentak meraih piring kue dan garpu kecil, menusuk dan menyantapnya dengan khidmat. Aku akan membacanya lagi. Memori di kotak m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN