Perempuan itu pergi. Dean segera menggendongku ke ruang tengah. Dia menatap mataku. “Manik cokelat sebelah kirimu hilang, Fania.” Aku tutup mata kananku. Dia benar. Aku tidak melihat apa pun selain kegelapan tak berujung di mata kiriku. “Bagaimana bisa ...,” lirihku. “Aku harus bilang ini pada Moirai.” Levine membanting pintu masuk rumah. Kudengar langkahnya yang cepat dan berat mendekati area sofa. Dia berdiri di belakang sofa panjang seberangku. Matanya membelalak dan napasnya tersengal. Manik biru kelabunya terus menatap, bahkan saat dia melipat kaki di depanku. Tangan berbalut kain hitam mendarat di sisi kiri wajahku. “Ini perbuatan Aranath?” “Ya,” balas Dean. Dia menggertakkan gigi, terlihat geram. “Aranath?” ulangku. “Dark Elf. Barusan aku menghabisi spirit yang suka mencuri

