Kami sampai rumah ketika jam lemari menunjuk angka satu. Kami kelelahan, saling menopang badan agar sanggup berjalan pulang. Aku melepas tangannya yang merangkul bahu, menolongnya duduk di sofa terlebih dulu. Dia bersandar, kesulitan mengambil napas. Keringat membasahi punggung , leher dan d**a kemeja putih, membuatnya tembus pandang. Aku duduk di sofa sebelah, mengatur napas yang satu-dua. Dean keluar dari lorong, matanya membelalak pada kami. “Oh my lord, apa kalian bergulat di luar?” “Terlalu banyak Wraith ...,” ucap Levine tersengal dengan mata terpejam. Aku mengangguk setuju. Spirit itu terus-terusan datang, tiada habisnya. Dean bergerak cepat masuk ke dapur dan membuat suara gaduh. Dia kembali dengan kotak p3k serta air hangat dan handuk dalam baskom. “Aku akan menjerang ketel

