setelah di rawat beberapa jam di UKS, kini Milana sudah berada di dalam kamarnya yang ada di asrama GTM. Milana hanya bisa berbaring di atas ranjang, dengan bersikap manja pada pacarnya. Sementara Niel yang tengah membaca buku di sofa yang ada di dalam kamar itu beberapa kali mencuri pandang ke arah ranjang.
“Kenapa gak tidur?” tanya Niel dengan menatap Milana.
“Temenin!” rengek Milana.
Niel menghela napasnya, lalu beranjak menuju ranjang. Ia merebahkan diri di samping Milana, dan memeluknya dari belakang.
“Jangan pergi sebelum gue tidur! Kalau bisa pas gue buka mata, lu juga harus ada di samping gue!” ujar Milana.
Tidak menjawab Niel justru menutup mata Milana agar segera terpejam. Jantung Milana terasa berdegup kencang, entah perasaan apa itu,membuat dirinya semakin tidak bisa terlelap.
“Niel,” panggil Milana lirih.
“Hmm?”
“Gue gak bisa tidur,” ujar Milana.
“Kenapa?”
“Rasanya gue kena serangan jantung deh,” ujar Milana sembari membalikkan tubuhnya untuk menghadap Niel.
“Hmm?”
“Niel … gue beneran kena serangan jantung ini,” rengek Milana sekali lagi.
“Lu kalo lagi sakit kenapa jadi nyebelin sih!”
Milana meraih tangan Niel dan meletakkannya tepat di dadanya. Wajah Niel merona seketika, dan ia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
“Tuh … lu bisa ngerasain kan? Jantung gue gak normal detaknya,” ujar Milana.
“Hm.”
Niel menari tangannya, lalu beranjak dari ranjang.
“Niel! Mau kemana?” tanya Milana, kesal.
“Gue mau mandi, udah sore.”
Dengan segera, Niel berjalan kembali ke kamarnya yang terletak tidak jauh dari kamar Milana. Sementara Milana hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kenapa sih! Gue kan cuma mau kasih tau aja kalo jantung gue deg deg an.”
Masa bodoh dengan sikap Niel, Milana kini mencoba turun dari ranjang dan memilih untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi. Milana melepaskan pakaiannya dan meletakkannya pada keranjang pakaian kotor yang ada di belakang pintu. Lalu ia berjalan menuju shower dan mengguyur seluruh tubuhnya di sana.
“Ahh … segar … badan gue lemes banget tadi, gegara makan makanan sehat.”
Milana menekan dispenser sabun dan membaluri seluruh tubuhnya dengan busa sabun. Samar … ia seperti mendengar ada yang memanggilnya dari depan pintu kamar mandi. Milana mematikan kran air, dan memang ada yang sedang memanggil namanya dari sana.
“Mil, lu di dalem?” suara Theo terdengar kencang dari sana.
“Iya, ada apa?”
“Gue beliin makan, buruan kalo mandi!”
“Iya bentar!”
Akhirnya Milana segera menyelesaikan kegiatannya. Ia mengambil handuk yang berbentuk kimono untuk menutupi tubuh polosnya.
Ceklek
“Makan apa, Kak?” tanya Milana.
Di sana ada Niel yang sedang duduk di samping Theo. Tidak ingin adiknya di larang memakan makanan itu, Theo sengaja menunggu Milana hingga selesai.
“Kalian kenapa canggung gitu sih?” tanya Milana.
“Gue gak canggung! Dia aja yang kaku kek manikin,” celetuk Theo.
“Manekin, kakak! Bukan manikin!”
“Serah gue, mulut-mulut gue!”
“Gue pake baju bentar,” ujar Milana sembari membuka pintu walk in closet miliknya.
Milana mengambil setelah kaos dengan hotpants, lalu ia kembali keluar dari sana dan masih melihat kedua cowok itu saling senggol.
“Niel, gue boleh makan ini?” tanya Milana.
“Lu nape izin dia mau makan beginian?” sahut Theo kesal.
“Kakak diem aja napa sih!” ujar Milana.
“Kali ini gapapa, makan aja.”
Milana tersenyum lalu duduk diantara keduanya. Dia meraih makanan itu dan memberikannya pada Niel. Tidak mengerti dengan sikap pacarnya, Niel hanya menaikkan alisnya.
“Suapin, Niel ….”
“Owh.”
Niel meraih makanan yang ada di tangan Milana, lalu perlahan ia menyuapi pacarnya itu. Sementara Theo yang merasa menjadi obat nyamuk di sana, hanya bisa berdecak kesal, dan memilih beranjak dari kamar adiknya.
“Loh, kak? Mau kemana?” tanya Milana.
“Gue mau suapin bini gue.”
Setelah menjawab, Theo berlalu begitu saja.
***
Keesokan harinya, Niel mulai memberikan makanan yang berkabohidrat. Meski hanya satu kali dalam sehari, tetap saja Milana membutuhkan tenaga lebih saat melakukan latihan Hockey. Apalagi sebentar lagi aka nada turnamen Hockey di Rusia, dan Algatery mengirim tim Milana untuk menghadapi turnamen di sana.
“Niel … gue entar mau latihan, masak makan ini?” tanya Milana dengan wajah memelas.
“Ya udah, nanti gue bikini lagi buat di makan sebelum latihan,” ujar Niel.
“Oke. Gue masuk ke kelas dulu ya?”
“Iya.”
Mereka berpisah di lorong tengah, karena arah kelas yang berbeda. Saat akan masuk ke dalam kelas, ia berpapasan dengan seorang cowok yang terlihat sangat tinggi hingga membuat Milana mendongakkan kepalanya untuk melihat cowok itu.
“Buset dah … manusia apa jelangkung?” celetuk Milana.
Cup …
“Aku Violance.”
Milana membulatkan kedua matanya dan berdiri kaku saat cowok itu hanya melewatinya.
“Oi, Mil … ngapa lu?” sapa Terre yang baru saja datang.
“Gue di cium lalat, Ter.”
“Ha? Siapa yang berani cipok lu?” sahut Terre terkejut.
“Itu ….” Milana menunjuk pada Violance yang sedang duduk tepat dibangku miliknya.
“Sialan! Dia duduk ditempat lu, Mil.”
“Ter … hajar gih!” ujar Milana.
Akhirnya Milana dan Terre berjalan masuk , dan menghampiri Violance.
“Oi, lalat ijo! Minggir!” tegas Terre.
“Kamu bicara sama aku?” tanya cowok bernama Violance itu.
“Yaelah dia belaga bege,” ujar Terre.
Violance hanya menyipitkan matanya dan masih duduk dengan tenang di sana. Tidak lama kemudian, seorang cowok masuk ke dalam kelas dan menarik tangan Milana.
“Niel!” teriak Milana saat tangannya ditarik sang pacar.
“Ikut gue!”
“Ha? Bentar lagi bel masuk!”
“Bodo!”
Niel masih menarik tangan Milana dan akhirnya mereka sampai di rooftop. Niel melepaskan tangan Milana, dan menghapus bekas ciuman Violance di pipi Milana dengan menciumnya.
“Niel, ngapain di sini?” tanya Milana yang tidak peduli dengan tingkah Niel.
“Dia sentuh kamu di bagian mana lagi?”
“Dia? Siapa?”
“Yang tadi?”
“Dia cium pipi gue,” ungkap Milana.
“Terus?”
“Udah.”
“Lu kenapa diem? Suka?”
Milana menggelengkan kepalanya dengan keras, lalu ia mencubit pipi Niel hingga mengaduh. Milana mengecup sekilas bibir Niel saat itu juga, merasa senang karena pacarnya merasa cemburu saat ia di sentuh cowok lain.
“Lain kali jangan diem aja!” ujar Niel.
“Kaget tauk! Udah ah, balik kelas hayuk! Udah bel tuh, gue gak mau kena amuk pak Herman,” ujar Milana sembari menarik tangan Niel.
Setelah melangkah, tiba-tiba saja Milana menghentikan langkahnya.
“Bentar! Lu kok tau kalo ada yang sentuh gue?”
Tidak menjawab, Niel justru meraih pinggang Milana dan mencium bibirnya. Niel memperdalam ciuman itu dengan menekan tengkuk Milana. Setelah beberapa menit, Niel melepaskan tubuh Milana dan keduanya saling menatap.
“Balik kelas ya?” tanya Milana.
Niel hanya mengangguk lalu berjalan di belakang Milana. Karena kelas Niel lebih dekat dengan tangga menuju rooftop, akhirnya mereka berpisah di sana.
“Gue duluan,” pamit Niel.
“Iya.”
Milana melanjutkan langkahnya menuju kelasnya yang ada di ujung lorong itu. saat sampai di sana, tempat duduknya kembali kosong, dan tasnya yang terjatuh saat ia ditarik Niel kini berada di atas mejanya.
Milana melirik pada bangku yang ada di seberangnya, dan di sana ada Violance yang duduk dengan tersenyum menatap Milana.
“Aneh!” gumam Milana.
Terre yang duduk di samping Milana menjelaskan jika Vio adalah adik dari Viana, pacar kakaknya Matheo.
“Makin sial hidup gue kalo sampek dia beneran adik Kak Vivi.”