9. Jalan ke Mall ...

1311 Kata
“Kak, minta duit!” ucap Milana sembari mengulurkan tangannya pada Theo. “Minta Bini gue sono,” jawab Theo. “Kok minta Kak Vivi?” “Karena duit gue ada di dia semua, Markonah!” ujar Theo dengan penuh penekanan. “Owh … oke deh,” ujar Milana. Cewek itu berjalan menghampiri Vivi yang sedang berada di ruang santai bersama Rhea. “Kak, disuruh kak Theo buat minta duit,” ujar Milana. “Berapa?” tanya Vivi. “Buat beli hape,” jawab Milana. “Mo beli Iphone yang terbaru?” tanya Vivi. “Kagak, yang biasa aja.” “Owh, bentar.” Vivi meraih ponselnya, lalu menekan angka-angka yang muncul pada layar ponsel itu. “Udah, gue transfer lima ratus, cukup kan?” tanya Vivi kemudian. “Wait, gue cek dulu.” Milana meraih ponselnya, lalu melihat M-banking miliknya. Meta Milana sedikit terbelalak dengan nominal yang Vivi berikan untuk membeli sebuah ponsel yang biasa. “Kebanyakan!” ucap Milana. “Lebihnya beliin apa gitu, serah lu deh.” “Oke deh.” Milana kembali ke dalam kamarnya, dan di sana sudah ada Niel yang sedang melihat ponselnya. “Niel, kita ke mall sekarang hayuk!” ajak Milana. “Oke. Beli hape kan? Sekalian, gue juga mau beli.” “Ha? Buat apa?” tanya Milana yang tidak tahu. “Nih.” Niel menunjukkan jika layar ponselnya sudah retak dan juga hampir setengah layarnya tidak bisa digunakan saat ini. “Kok bisa gitu?” “Jatuh.” Milana berjalan masuk ke dalam walk in closetnya, lalu mengganti pakaian di dalam sana. Sementara Niel dengan celana jeans panjang, dan kemeja flannel bermerek Dior sudah siap sejak beberapa saat lalu. Milana keluar dari dalam kamar gantinya, lalu berjalan mundur mendekati Niel. “Niel, bantu benerin!” ujar Milana yang kesulitan dengan pakaiannya. Niel berdiri dan membantu pacarnya itu untuk mengancingkan dress yang sedang dikenakan Milana. Milana juga menguncir rambutnya tinggi-tinggi hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Melihat pemandangan itu, wajah Niel tiba-tiba saja merona. Niel melepaskan ikatan pada rambut Milana, lalu mengacak rambut cewek itu. “Niel! Apaan sih!” protes Milana. “Jangan dikuncir! Jelek!” “Gerah tauk!” Milana kembali menguncir rambutnya, tetapi dengan segera Niel merampas ikat rambut Milana lalu membuangnya. “Dibilang jelek, kenapa nggak ngerti sih! Lu cantik begini!” “Aneh, lu.” Milana mendengus kesal, lalu mengambil tas selempangnya yang ada di atas nakas. Mereka berjalan keluar bersama, dan kembali bertemu dengan Theo dan Vivi di ruang santai. “Jadi ke mall?” tanya Vivi. “Iya, Kak.” “Hati-hati di jalan yak!” “Oke.” Baru saja mereka ingin melangkah, Theo tiba-tiba saja memperingatkan pada Niel untuk menjaga Milana, dan sebuah ancaman terlontar dari mulut Theo jika terjadi sesuatu pada sang adik. “Udah selesai ceramahnya?” sahut Milana yang sudah kesal dengan Theo. “Udah, sono pergi!” jawab Theo. Milana menarik tangan Niel, dan mereka menuju mall terbesar di Jakarta. Niel memilih menggunakan mobil milik Milana karena mobilnya sedang dipinjam oleh temannya. Selama perjalanan terdengar suara dari audio box yang mengeluarkan music. Milana memilih berkutat dengan ponselnya dan mengirim pesan pada teman-temannya. Sementara Niel hanya fokus pada jalanan kota besar itu. “Niel, mau beli hape apa?” tanya Milana. “Sama aja, biar enak pindahin datanya,” ujar Niel. “Owh, terus … ini gue beli hape apa ya buat Karina?” “Terserah.” “Ish, lu mah gitu.” Sampai akhirnya mereka sampai di parkiran mall, dan keduanya turun dari mobil. Milana berjalan dengan menggandeng tangan Niel. Beberapa pasang mata melihat kearah mereka, tatapan antara mengagumi Niel dan juga Milana. “Aku beli hape harga lima juta gapapa kali yak?” tanya Milana. “Gapapa.” Milana masuk ke dalam sebuah toko yang menjual berbagai macam ponsel dengan banyak mereka terkenal. Milana menjatuhkan pada satu brand ponsel yang sedang ramai di kalangan remaja. Ia langsung saja membayar ponsel itu tanpa bertanya mengenai spesifikasi ponsel itu pada sales yang ada di sana. “Kakak nggak mau beli yang ini? ini model terbaru, dan juga lebih bagus loh,” tawar seorang sales salah satu merek ponsel. “Nggak, ini aja.” Milana memberikan ponsel itu pada bagian kasir, lalu seseorang di sana membuka kardus yang masih tersegel itu. ia menjelaskan mengenai isi dari barang yang dibeli Milana. Dan seperti biasa, cewek itu hanya mengangguk mengerti. Sementara itu, Niel tengah mencari ponsel yang sama dengan miliknya. Lalu ia segera membayar ponsel itu dan mulai meminta bagian IT untuk memindahkan semua datanya. “Niel,” panggil Milana. “Udah?” tanya Niel. “Udah, nih!” milana menunjukkan tas yang berisi ponsel. “Bentar, masih pindahin data dulu,” ujar Niel. “Oke.” Sembari menunggu Niel, Milana berkeliling toko itu untuk melihat-lihat ada apa saja yang di jual di sana. Di sana, Milana bertemu dengan teman sekolah yang satu jurusan dengannya, akan tetapi … mereka tidak satu kelas. Seperti yang sudah-sudah, pamor anak inti pasti lebih unggul dari pada anak kaya lainnya. Dan kali ini, seorang cowok mendekati Milana dengan penuh percaya diri. “Milana kan?” tegurnya. “Iya, siapa?” sahut Milana. “Gue Eros, anak bahasa dua.” “Owh.” “Lagi beli hape?” tanyanya sekali lagi. “Iya.” “Kok seorang Milana Sanchez beli hape murahan gitu sih! sini gue beliin yang bagusan dikit,” ujar cowok itu dengan penuh percaya diri. Milana tidak peduli dengan cowok itu, ia mengacuhkan cowok itu dengan melihat-lihat case ponsel yang ada di etalase. Sementara itu, Niel yang melihat kejadian itu, masih terdiam sembari mengawasi pacarnya dari sana. “Gimana? Sini balikin aja! Gue beliin yang bagus,” ujarnya dengan meraih paperbag yang ada di tangan Milana. “Apaan sih! gak perlu, simpen aja uang lu.” “Yaelah … sombong amat sih neng,” celetuknya. “Gini ya, gue makasih banget karena lu udah menawarkan diri buat beliin gue hape. Tapi … buat gue, ini itu udah lebih dari cukup! Dan lu gak perlu repot-repot beliin gue. Mama sama Papa gue masih mampu beliin kok, bahkan gue sendiri bisa beli, kakak gue juga malah langsung kasih duit pas gue bilang mau beli ini, jadi intinya … nasib gue gak seburuk yang elu kira,” ujar Milana. Cowok itu merasa tersinggung dengan ucapan milana. Ia meraih lagi paperbag yang ada di tangan Milana, dan saat itu juga sebuah tangan menarik baju Eros. “Ada apa?” tanya Niel. “Ng-nggak ada apa-apa kok, gue cuma penasaran aja amah ape yang dibeli ama Milana,” jawabnya dengan tergagap. “Udah selesai?” tanya Milana. “Udah.” “Kita makan dulu yuk!” ajak Milana. “Iya.” Niel melepaskan Eros lalu meninggalkan cowok itu di sana. Niel berjalan di belakang Milana, dan mereka masuk ke dalam restoran Jepang. “Niel, makan sushi boleh?” “Iya.” ‘udah masuk baru bilang, dasar!’ batin Niel. Mereka duduk di sudut yang berdekatan dengan pintu masuk. Selesai memesan, mereka saling berkutat dengan ponsel masing-masing. “Loh … Niel,lu ada di sini juga,” sapa seorang cewek. Mendengar ada yang menyapa Niel, Milana hanya meliriknya sekilas, lalu tidak begitu peduli dengan ucapan cewek itu. Sedangkan Niel, hanya melirik dari ekor matanya, lalu kembali membalas pesan teman-temannya. “Niel, gue boleh duduk sini kagak? Sambil nunggu temen nih, belum pada dateng,” tanya cewek itu. “Gak boleh!” sahut Milana. “Ha? Lu siapa sih?” “Pacar gue,” jawab Niel. “Bukannya lu ama dia itu cuma settingan buat masuk ke anggota inti aja yak?” “Kalo udah  gak ada urusan, mending lu cari meja kosong dari pada nanti penuh, terus kagak dapet tempat.” Mendengar ucapan Niel, cewek itu beranjak dari sana dengan perasaan kesal. Sementara Milana hanya tersenyum melihat pacarnya. Hingga akhirnya makanan mereka datang, dan keduanya mulai memakan makanan itu hingga habis tidak tersisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN