Kim Jaehwan, pemilik nametag jas warna putih yang dikenakan pemuda itu, membalik badannya. Seorang perawat berlari ke arahnya dengan beberapa lembar rekam medis pasien di tangannya.
Perawat itu nampak ngos-ngosan, lelah berlari mencari dokter tampan yang berdiri di depannya.
“Ada apa, Perawat Nam?”
“Tunggu, Dok,” sahutnya yang sibuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah berlari ke sana kemari mencari dokter Kim. Perawat Nam berdiri tegak dan siap menjelaskan masalah yang terjadi. “Pasien di kamar 307 mengalami penurunan fungsi jantung,” terangnya.
Jaehwan mengerutkan keningnya. “Bagaimana bisa? Dia sudah dioperasi dengan prosedur yang benar. Bahkan kemarin kondisinya sudah membaik. Kenapa sekarang malah ada masalah seperti itu?”
“Tekanan darahnya menurun drastis, Dok.”
“Panggil dokter senior Yu ke ruang 307 segera. Dia harus tahu keadaan pasien yang dioperasi kemarin. Aku akan langsung melihat kondisi pasien.”
Perawat Nam mengangguk paham. Dia segera pergi menghubungi dokter Yu, dokter spesialis jantung senior di RS Diamond Group.
Kim Jaehwan berlari menuju kamar 307. Seorang kakek berusia 64 tahun sedang dirawat di kamar itu. Kemarin kakek itu baru menjalani operasi penyumbatan pembuluh darah, tepatnya di bagian Arteri Pulmonalis. Pembuluh darah yang bertugas mengangkut darah dari jantung ke paru-paru. Fungsi pembuluh darah ini adalah untuk mengganti kandungan karbondioksida dengan uap air dalam darah menjadi oksigen.
“Kamar 307...“ gumam Jaehwan saat dia menemukan kamar itu.
Ceklek!
Jaehwan membuka pintu kamar 307 dan masuk ke dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu dengan perlahan. “T, Tuan Hong?” lirih Jaehwan, memanggil sang pasien yang tertidur dengan mata tertutup rapat. Seorang perawat mendampingi pasien itu dengan ekspresi cemas. “Bagaimana kondisinya terakhir?”
“Dia sangat lemah, Dokter Kim. Kondisinya...entahlah. Secara teknis, operasi sudah membuat jantungnya membaik. Tapi tiba-tiba, tekanan darah pasien menurun drastis, mencapai 90/50.
Jaehwan menatap pasiennya dengan iba. “Kita harus tetap berusaha membantu pasien untuk sembuh.”
“Tetapi... Keluarganya ingin pengobatannya dihentikan, Dokter.”
“Apa?” Jaehwan kaget. Kakek itu sedang sekarat. Dokter pun masih menyanggupi untuk menolongnya tapi pihak keluarga malah sudah pasrah. “Bawa aku menemui mereka ketika Dokter Yu tiba di sini nanti. Biar aku saja yang bicara pada mereka.”
“Baiklah,” jawab perawat itu.
.....
Jaehwan ditemani seorang perawat sedang duduk di bangku kantin rumah sakit. Dengan sabar, mereka menunggu keluarga pasien kamar 307 yang sedang sekarat. “Kenapa harus kita yang menunggu?” tanya Jaehwan pada perawat.
Perawat itu pun tidak tahu jawabannya.
“Sebenarnya mereka ingin kakek Jong sembuh atau tidak?” Kedua tangan Jaehwan mengepal kesal pada keluarga itu.
Dua orang dagang mendekati Jaehwan dan perawat. Kemudian mereka membungkukkan punggung, tanda menghormati orang di Korsel. “Maaf jika harus menunggu. Maaf, kami baru saja menemui dokter Yu di ruang perawatan tadi.”
“Baiklah, tidak masalah. Sekarang langsung saja ke inti permasalahannya. Aku sangat tidak menyukai pendahuluan atau apapun yang bertele-tele.” Jaehwan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kakek Hong kemarin sudah berhasil dioperasi dan kondisinya membaik. Tadi pagi pun keadaan kakek masih baik-baik saja. Tapi kenapa sore malah drop? Diagnosa sementara adalah penurunan fungsi jantung. Kami masih bisa membantu penyembuhan kakek Hong sehisa kami. Tapi kenapa pihak keluarga malah pasrah? Menyerah dengan keadaan?”
Dua orang anggota keluarga kakek Hong terdiam. Mereka menundukkan kepala. Tidak bisa berkata apapun untuk menjawab pertanyaan Jaehwan.
“Maaf jika ada kata-kataku yang kasar. Kalian harus memberikan alasan yang logis sebelum memutuskan sesuatu,” lanjut Jaehwan.
Salah seorang dari mereka menarik nafas panjang, bersiap menjawab pertanyaan dari dokter tampan itu. “Kami... Sudah tidak sanggup mengeluarkan biaya pengobatannya, Dokter Kim.”
Jaehwan mendesah kasar. “Jadi masalahnya adalah biaya? Kalian bisa mengajukan keringanan biaya atau bahkan gratis tanpa biaya. Itupun jika kalian berniat menyelamatkan kakek Hong. Lihatlah semangat beliau untuk hidup. Kalian malah membuatnya terpuruk.”
Dua orang yang duduk di hadapan Jaehwan tidak berani mengatakan apapun. Mereka tetap menundukkan kepala.
“Besok pagi kalian bisa mengajukan keringanan biaya. Aku yang akan bicara pada kantor administrasi. Siapkan saja berkas yang diperlukan!”
“Baik,” jawab dua orang, seorang laki-laki dan seorang perempuan yang duduk di depan Jaehwan dengan kepala terus tertunduk.
Jaehwan merasa heran. Kondisi kakek Hong pasti akibat pengaruh kedua orang ini. Pasti mereka telah mengatakan sesuatu pada laki-laki tua itu. “Sebenarnya apa yang telah kalian lakukan pada kakek Hong?” selidik Jaehwan yang merasa curiga bahwa kakek Hong mendapat tekanan atau ancaman dari keluarganya.
“Dokter Kim...” Perawat yang duduk di samping Jaehwan berusaha menghentikan pertanyaan pemuda itu. Ia merasa bahwa pertanyaan seperti itu tidak layak keluar dari mulut seorang dokter.
“Biarkan saja. Aku harus tahu apa yang terjadi.” Masih tetap menatap dua orang di depannya. “Jawab pertanyaanku! Apakah kalian tidak ingin kakek Hong sembuh?”
“Dokter Kim, tolong jangan seperti ini,” pinta perawat itu.
Jika petinggi rumah sakit mengetahui bahwa ada seorang dokter baru melakukan interogasi pada keluarga pasien seperti itu maka Jaehwan bisa dipecat secepatnya.
“Baiklah, kalian boleh pergi.” Jaehwan mengepalkan kedua tangannya. Jika tidak dicegah oleh perawat itu, pasti keluarga kakek Hong sudah mengakui perbuatannya.
....
Keesokan harinya, suasana di RS Diamond Group masih sama dengan suasana kemarin. Tidak banyak orang sakit yang berdatangan untuk berobat. Tetapi lalu lalang tenaga medis dan masyarakat yang mungkin sedang menunggu keluarganya dirawat di tempat itu,tidak pernah sepi.
Jaehwan baru datang dan berhasil menata mobilnya di halaman parkir rumah sakit. Ketika dia keluar dari mobil, seseorang mengagetkannya secara tiba-tiba. Lengan kanannya dipelintir ke belakang, hingga kunci mobil yang dipegangnya terjatuh. “Aaak! Apa-apaan ini?”
“Rupanya kau sudah bekerja di sini? Sejak kapan, hah?”
Deg!
Itu...suara Park Jiyeon, batin Jaehwan.
“Ji, Jiyeon?”
Jiyeon melepaskan tangan suaminya itu. Alhasil, pemuda itu merintih kesakitan.
“Hei, jangan mentang-mentang kau pandai bela diri, bisa seenaknya pada suamimu!” Jaehwan memeriksa lengannya dan memijit sebentar untuk menghilangkan rasa sakit. “Kau... Kenapa ada di sini?” tanya Jaehwan kaget melihat Jiyeon tiba-tiba sudah berada di rumah sakit itu.
“Hei, Tuan Kim... Ini adalah rumah sakit milik keluargaku. Memangnya harus ada izin untuk datang ke sini? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Jiyeon kesal.
Jaehwan melingkarkan lengan kirinya di bahu Jiyeon dan mengajak wanita cantik itu berjalan ke kantin. “Kau tahu? Betapa senangnya aku bertemu dengan moodbuster-ku lagi...”
Moodbuster? Baru kali ini Jaehwan mengatakan bahwa Jiyeon adalah moodbuster baginya. Jaehwan akan susah hidup tanpa Jiyeon. Sejak lama, keduanya saling menceritakan masalah dan pengalaman masing-masing. Jika dirangkum, Jiyeon lah yang lebih berjasa untuk Jaehwan. Jiyeon sering memberikan solusi atas masalah-masalah Jaehwan, masalah yang susah dihadapi sekalipun. Itu sebabnya sekarang dia mengalami kesulitan mengatasi masalah seorang diri, tanpa Jiyeon di sampingnya. Tapi sekarang, mulai detik ini, istrinya telah kembali bersamanya. Itulah yang membuat Jaehwan merasa bahagia.
Sesampainya di kantin, Jiyeon menolak ketika disuruh memesan makanan. Dia lebih memilih memesan segelas coklat panas. Sedangkan Jaehwan memesan nasi goreng, sosis bakar kesukaannya dan segelas s**u.
Jiyeon menggelengkan kepala melihat pria bertubuh jangkung itu makan begitu banyak. “Kau bisa menghabiskan semuanya?” tanya Jiyeon yang merasa tidak yakin Jaehwan sanggup menghabiskan semua makanan yang sudah siap makan di depan matanya.
“Tentu saja. Moodbuster-ku ada di sini. Jadi jangan khawatir. Aku pasti menghabiskan semuanya.” Dengan semangat, Kim Jaehwan melahap makanan yang dipesannya. Sedangkan Jiyeon hanya menonton suaminya sembari menikmati coklat panasnya.
.....
Lima belas menit kemudian.
Sepiring nasi goreng, sepiring sosis bakar dan segelas s**u telah habis tanpa sisa sedikit pun. Jaehwan merasa puas sekali bisa makan sekenyang itu. Padahal dari kemarin, dirinya sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Ya, karena adanya masalah dengan pasien yang bernama kake Hong.
“Jika sudah selesai, berdirilah. Aku harus bertemu dengan direktur.” Jiyeon menegakkan badannya, berdiri, kemudian menata blazer putih yang ia kenakan.
Jaehwan terbelalak. “Wah, bagaimana kau tahu kalau aku mau ke sana? Inilah yang namanya jodoh, kau adalah takdirku, Jiyeon.”
Mulut Jiyeon terbuka membentuk huruf O. Ia menempelkan telapak tangannya di atas kening Jaehwan. Jangan-jangan suaminya itu sedang demam atau sakit sehingga kata-katanya sedari tadi sangat berbeda dari biasanya. “Kau... Ada apa denganmu?”
“Lepaskan tanganmu, ish! Aku bukan bocah yang perlu kau perlakukan seperti itu.” Jaehwan menata bajunya. “Sejak kemarin aku berencana bahwa pagi ini , aku akan mencoba menemui direktur. Ada masalah dengan keluarga pasien.”
“Oh ya?”
Jaehwan tak menjawab. “Ayo!” Dia memegang tangan Jiyeon dan mengajaknya meluncur ke ruang kerja direktur secepat mungkin.
“Aku ada urusan lain, kenapa kau ikut-ikutan mencri direktur?” Jiyeon merasa kalau urusannya dengan direktur berbeda dari Jaehwan. Untuk itu, dia tidak ingin menemui direktur rumah sakit berbarengan dengannya. “Aku pergi lebih dulu. Setelah urusanku selesai, kau bisa menemui direktur.” Dengan cepat, Jiyeon melepaskan tangan Jaehwan yang asyik melingkar di bahunya
“Ckckck! Kau tidak ingin aku mengetahui urusanmu dengan direktur?” Raut wajah Jaehwan nampak heran. “Aku suamimu. Aku berhak tahu.” Laki-laki berusia dua tahun lebih tua dari Jiyeon itu merangkul bahu istrinya lagi. “Ayo! Sebagai suami yang baik, aku akan mengantarmu ke sana.”
Tanpa diminta Jiyeon, Jaehwan mengajaknya melanjutkan langkah menuju kantor kerja direktur Yoon.
“Lepaskan aku!” Jiyeon mencubit pinggang Jaehwan yang seketika membuat suaminya mengaduh kesakitan. Namun hal itu tak membuat Jaehaan melepaskan tangannya. “Kim Jaehwan! Awas kau!” gerutu Jiyeon.
Saat mereka berdua sampai di lorong dekat pintu masuk ruangan direktur, tiba-tiba satu rombongan orang-orang penting sedang berkumpul di tempat itu. Nampaknya mereka baru saja menemui direktur Yoon. Jiyeon menegang melihat rombongan itu. Diantara enam orang yang berdiri di depannya ada seseorang yang sangat ia kenal.
“Jiyeon? Kau sudah sampai?” tanya Mina, senang melihat adiknya sudah tiba di rumah sakit untuk mengonfirmasi tentang kesediaannya menjadi salah satu dokter jantung di sana.
“Ah, i, iya. Aku baru tiba, belum lama...” jawab Jiyeon terbata-bata. Kenapa dia harus bertemu kakaknya di sana? Jiyeon tidak ingin orang-orang di rumah sakit itu mengetahui bahwa dirinya adalah putri dari pemegang saham terbesar di RS Diamond Group.
“Jiyeon?” tanya seseorang yang sama sekali tidak dikenal oleh Jiyeon. Laki-laki itu berusia sekitar lima tahun lebih muda dari usia ayahnya. “Park Jiyeon putri kedua Presdir Park?” lanjutnya.
Jiyeon mendesah pelan. Rencananya gagal. Ia tidak mungkin bisa merahasiakan identitasnya kelak.
“Iya, benar sekali, Direktur Lee. Dia adalah adik kandungku, Park Jiyeon. Baru beberapa hari dia tiba di Korsel.” Park Mina malah memberikan penjelasan mengenai Jiyeon pada ketua Lee yang notabennya adalah ayah dari mantan kekasihnya.
Direktur Kang mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan dengan dokter secantik Jiyeon. “Senang bertemu denganmu, Park Jiyeon.”
“Ah, iya. Senang bertemu Anda juga, Direktur Lee,” balas Jiyeon yang mengulurkan tangannya juga.
“Datanglah ke rumahku. Namju pasti senang melihatmu.” Direktur Lee baru saja menyebut nama putra tunggalnya, Lee Namju.
Deg!
Jiyeon dan Mina kaget mendengar nama Namju. Mereka saling pandang.
“Mungkin Kak Namju sudah lupa padaku, Direktur.” Jiyeon berusaha mencari alasan supaya dia tidak wajib datang ke kediaman keluarga Lee.
“Oh iya, kau ingin bertemu dengan direktur Yoon? Masuklah! Beliau mungkin sudah menunggumu.”
Jiyeon mengangguk pelan dan merasa ragu menemui direktur Yoon. Tidak seperti yang dia rencanakan. Tapi setelah dipikir-pikir, ia tidak bisa menunda pertemuannya dengan direktur itu.
Sementara itu, Kim Jaehwan tetap berada di luar dan tidak menemani Jiyeon masuk ke dalam ruangan di depannya. Ia merasa sungkan jika mengikuti Jiyeon ke ruangan itu, demi menghormati privasi seorang Park Jiyeon. Hal ini karena tidak ada yang tahu bahwa Jiyeon adalah istrinya. Jika Jaehwan ikut masuk maka orang-orang dalam rombongan itu pasti curiga padanya.
Setelah Jiyeon masuk ruangan direktur Yoon dan menutup pintunya dari dalam, Mina menatap Jaehwan dan menyapanya.
“Lama tidak bertemu, Kim Jaehwan.”
Jaehwan sedikit kaget. “Ah, iya. Senang bertemu denganmu juga, Park Mina. Mm, maaf saya harus melihat pasien yang baru saja dioperasi kemarin.” Ia tak ingin berlama-lama di tempat yang notabennya dipadatiboleh orang-orang berjas. Sejak kecil, Jaehwan memang tidak menyukai penampilan laki-laki dengan setelan jas. Menurutnya, itu terlalu memuakkan. Padahal di dalam keluarganya, ayah dan kakak laki-lakinya adalah pengusaha yang selalu memakai setelan jas saat mereka bekerja di kantor. Beda halnya dengan Jaehwan. Ia memilih profesi dokter karena tidak ingin menggunakan setelan jas yang menurutnya memuakkan untuk dilihat.
Tak berselang lama, Jaehwan akhirnya pamit untuk melihat kondisi kakek Hong. Rencananya yang semula ingin bertemu dengan direktur, bersamaan dengan Park Jiyeon, malah gagal karena bertemu rombongan Park Mina dan rekan-rekan kerjanya di depan ruangan direktur. Sekarang dia harus menunggu Jiyeon keluar dari ruangan tersebut.
Jaehwan telah tiba di depan kamar 307. Ruangan itu terlihat sepi. Hanya ada kakek Hong yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Jaehwan enggan masuk ke dalam kamar itu, ia tidak ingin jika kedatangannya malah mengganggu istirahat kakek itu. Pemuda tampan yang baru saja mendapatkan gelar Dokter Tertampan di rumah sakit Diamond Group oleh para tenaga medis wanita itu, memilih berdiri di depan pintu kamar dan melihat kakek Hong dari balik kaca yang terdapat di pintu kayu berwarna putih.
.....
Tok! Tok!
Ruang tenaga medis Spesialis Jantung tampak sepi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Sontak suara itu membuat tiga orang yang berada di dalam ruangan terlonjak kaget.
“Siapa yang mengetuk pintu di siang bolong seperti ini? Mengagetkan saja.”
Ceklek!
Seorang perawat membuka pintu itu dengan malas. Ketika pintu terbuka, kedua bola matanya membulat, melihat seorang wanita yang begitu cantik sedang tersenyum padanya.
“Halo,” sapa Jiyeon dengan ramah.
“Wah, cantik sekali,” lirih perawat perempuan itu. Ia merasa kalah saing dari Jiyeon.
“Ini... Maaf. Benarkah ini ruang tenaga medis khusus penyakit jantung?”
Perawat itu mengangguk. “I, iya. Silahkan masuk,” ucapnya dengan mata tak berkedip, menatap Jiyeon yang melewati dirinya.
Jiyeon menginjakkan kakinya di dalam ruangan yang berukuran sedang itu. Ada dua orang yang sibuk dengan berkas laporan rekam medis pasien masing-masing. Sebagai penghuni baru dan tanpa pengantar, Jiyeon memberanikan diri untuk menyapa mereka. Toh, dilihat dari wajah-wajah tiga orang itu kira-kira umurnya sebaya dengan dirinya.
“Halo, selamat siang,” ucap Jiyeon pelan sambil menyunggingkan senyumnya.
Enam pasang mata tertuju padanya.
“Aku Park Jiyeon, dokter spesialis jantung junior di sini. Salam kenal, semuanya.” Jiyeon menundukkan kepalanya. Begitulah yang harus dilakukan oleh pendatang yang tiba di tempat baru, sebagai cara menghormati orang lain.
“Welcome, Dokter Jiyeon.”
Terdengar suara yang tidak asing bagi Jiyeon. Lagi-lagi Kim Jaehwan muncul di depannya.
“Selamat bekerja di rumah sakit ini,” tambahnya. Jaehwan berdiri bersandar pada gawang pintu seraya menyambut kedatangan dokter baru. “Wah, ruangan ini akan lebih menyenangkan. Setidaknya lebih ramai.”
Jiyeon menghembuskan nafas kasar, kesal dengan Jaehwan yang selalu muncul tidak diundang.
“Apakah kau juga ada di ruangan ini?” tanya Jiyeon dengan nada datar.
“Benar sekali. Aku dokter spesialis jantung. Kau pun sama. Lihatlah, mereka bertiga adalah perawat yang berjaga siang ini.”
“Oh, kalian sudah saling mengenal?” tanya perawat Lee yang membukakan pintu untuk Jiyeon tadi.
“Benar sekali. Kami kuliah satu perguruan tinggi. Dia adalah adik kelasku.”
Jiyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
“Kami kuliah di Jerman dulu.” Jaehwan tersenyum nakal pada Jiyeon. Dia merasa menang dari istrinya kali ini.
“Uwah... Apakah orang-orang yang kuliah di sana punya wajah tampan dan cantik seperti kalian?” tanya perawat Lee lagi.
Ya Tuhan, kapan ini akan berakhir? kata Jiyeon dalam hati.
“Tentu saja,” jawab Jaehwan dengan yakin.
Orang-orang ini kenapa bisa dibodohi Jaehwan begitu saja, pikir Jiyeon yang heran melihat respon mereka saat Jaehwan mengatakan apa saja yang membuatnya geli. Sedangkan suaminya, senang sekali berkata berlebihan seperti itu.
"Maaf, sepertinya apa yang dikatakan oleh Dokter Kim tidak perlu dipikirkan. Mohon kerjasamanya karena saya masih baru bekerja di sini." Jiyeon berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Jaehwan juga berhenti mengatakan hal yang berlebihan seperti tadi.
"Tidak masalah, Dokter Park. Kami akan membantu Anda dengan senang hati," sahut perawat Kang yang sedari tadi memeriksa rekam medis pasien di atas meja kerjanya.
"Terimakasih," ucap Jiyeon senang.
Bersambung