05 Hati

2555 Kata
Halaman rumah sakit Diamond Group terlihat sedikit ramai dibanding hari-hari sebelumnya. Cuaca hangat saat ini membuat banyak pasien ingin menikmati sinar matahari yang dapat menyehatkan tubuh dengan kandungan vitamin D. Beberapa pasien berjemur di bawah sinar matahari pagi ini didampingi keluarga ataupun tenaga kesehatan. Di pagi yang hangat itu, seorang laki-laki dengan setelan jas abu terang dan dasi berwarna hitamnya sedang berjalan keluar dari rumah sakit dengan kekesalan dan kekecewaan memuncak di hatinya. Lee Namju tak bisa melupakan setiap kata yang keluar dari mulut Mina beberapa menit yang lalu. “Baiklah, kita tunjukkan siapa yang akan menang,” katanya lirih sembari mengenakan kacamata hitamnya sebelum berjalan menyusuri halaman rumah sakit. Enam langkah dari teras rumah sakit, Namju melihat sosok gadis yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya. Park Jiyeon terlihat tengah asyik mengobrol dengan dua orang pasien di halaman samping rumah sakit. Ia masih membawa tas di bahunya. Mungkin baru datang, pikir Namju. Seketika, Namju memutuskan memghampiri Jiyeon yang masih sibuk menemani pasiennya. Seorang kakek yang duduk di atas kursi roda dan seorang anak yang kelihatannya sudah kembali sehat pasca perawatan di rumah sakit. “Park Jiyeon!” Seseorang memanggil nama Jiyeon dengan lantang dan melambaikan tangan kanannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Jaehwan. Keberadaan Jaehwan di sana membuat Namju menghentikan langkahnya. Ia memilih untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Jiyeon dan Jaehwan. Namju mengamati gerak gerik keduanya. Ia sangat mengenal sosok Jaehwan. Bagaimana tidak? Mereka berdua berada di kelas yang sama saat duduk di bangku SMA. Jaehwan berlari ke arah Jiyeon dengan wajah sumringah. Ia merasa senang sekali seakan baru bertemu dengan istrinya setelah berpuluh tahun berpisah. Hasrat dalam dirinya ketika bertemu Jiyeon harus dipendam. Ia ingin memeluk, mencium bahkan menceritakan hal-hal penting pada Jiyeon. Namun Jaehwan sadar bahwa mereka berada di halaman rumah sakit, terlebih di depan dua orang pasien. Jadi, tidak mungkin ia dapat memeluk Jiyeon di depan umum. Sesampainya di depan sang istri, ia kaget melihat kakek Hong yang sudah dapat berjalan-jalan meskipun memakai kursi roda. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, setelah operasi jantung, kakek itu mengalami penurunan fungsi jantung dan beberapa keluhan lainnya. Jaehwan menatap kakek Hong dengan mata yang berbinar-binar seakan sedang melihat suatu pemandangan yang indah. “Aku senang sekali melihat Anda sudah bisa keluar kamar dan berjalan-jalan. Semoga Anda selalu sehat dan dapat meninggalkan rumah sakit secepatnya.” Jaehwan duduk posisi bersimpuh di depan kakek Hong. Ia merasa sangat bahagia karena perjuangannya menolong kakek itu berbuah manis. Kakek Hong dan Jiyeon tersenyum. “Saya sangat berterima kasih pada dokter Kim yang telah banyak sekali membantu kesembuhan saya. Sungguh, Tuhan benar-benar mengirimkan malaikatNya untuk menolong saya.” Kakek Hong memegang kedua tangan Jaehwan dan mengatakan kata-kata itu dengan perasaan bahagia dan beruntung. Ya, beruntung ia bertemu dengan dokter sebaik Jaehwan. “Kakek Hong, tugas seorang dokter tidak hanya membantu kesembuhan pasien dengan obat-obatan. Tapi dengans segala cara agar pasiennya sembuh. Setelah keluar dari rumah sakit, kakek bisa tinggal di rumah perawatan untuk orangtua. Hmm... Karena... Ya, kakek pasti tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarga, kan?” Kakek Hong tertunduk sedih. Keluarganya tak menginginkan keberadaannya di rumah. Ia merasa sudah menjadi beban bagi keluarganya. Anak-anaknya hidup susah. Jika kakek Hong ikut tinggal bersama anak-anaknya, mereka mengaku tidak sanggup. Karena itulah, keluarga kakek Hong meminta pengobatan kakek itu dihentikan pasca operasi. Jaehwan lah yang mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dan perawatan kakek Hong di rumah sakit. “Tapi... Bolehkah saya bertemu dengan keluarga sebelum pergi ke panti itu?” Kali ini Jiyeon angkat bicara. “Tentu saja boleh. Kakek bisa berbicara pada mereka dan meminta mereka untuk menjenguk kakek di waktu senggang. Mereka pasti bersedia.” Dari kejauhan, Lee Namju mendengar percakapan tiga orang itu meskipun sangat lirih. “Cih!” umpatnya, sama sekali tidak menyukai pemandangan yang memuakkan itu. .... Jaehwan dan Jiyeon berjalan berdua melewati beberapa kamar pasien yang ada di lorong lantai satu. Jaehwan mengatakan bahwa dirinya terpaksa mengikuti perintah sang ayah untuk menyelesaikan masalah perusahaan keluarga mereka. Masalah itu tidak dapat diselesaikan secara instan. Makanya keberadaan Jaehwan sangat diperlukan. Dua malam Jaehwan harus tidur selama enam jam saja. Sehingga wajah tampannya kini dihiasi garis hitam di bawah kedua matanya. Sudah seperti bapaknya panda. Setelah mendengar cerita dari suaminya, Jiyeon pun penasaran dengan masalah perusahaan keluarga Kim. Kenapa hampir sama dengan masalah perusahaan keluarganya sendiri? Sampai ia harus ikut turun tangan menyelesaikan masalah itu. “Apakah itu masalah yang berat?” Jaehwan mengangguk. “Aku bukan seorang pebisnis. Tapi seorang dokter spesialis jantung. Tentu saja aku menganggap semua masalah perusahaan begitu berat. Ini bukan keahlianku.” Nafasnya terdengar berat saat mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya. Jiyeon mengiyakan. “Ya, kamu benar.” .... Tak terasa pagi telah berganti gelap menjadi malam yang melelahkan. Malam merupakan waktu yang sangat dinanti-nanti. Bagaimana tidak? Pada malam hari, manusia mengistirahatkan seluruh organnya agar dapat digunakan kembali keesokan harinya. Malam ini Jiyeon harus menumpang mobil Jaehwan agar sampai di rumah dengan selamat. Ia bisa saja naik taksi online atau bus malam itu. Tapi Jaehwan tidak akan membiarkan wanita yang ia cintai terlantar sedangkan dia sendiri mengendarai mobil pribadi. “Ikutlah denganku! Kita akan pulang ke apartemenku.” Jaehwan tancap gas membawa Jiyeon ke apartemennya yang berjarak cukup jauh dari rumah sakit. Ia ingin menghabiskan malam berdua dengan Jiyeon, istri rahasia yang telah dinikahinya ketika masih berada di Jerman. Jiyeon tak perlu menjawab ajakan Jaehwan. Laki-laki tampan itu pasti mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh istrinya. Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan menuju apartemen Jaehwan. .... Hampir sejam lamanya perjalanan yang ditempuh oleh sepasang suami istri tampan dan cantik, Jaehwan dan Jiyeon. Keduanya berjalan bergandengan tangan memasuki lorong bangunan yang tergolong masih baru dan mewah. Mereka menggunakan lift agar segera sampai di lantai tujuh, lokasi apartemen Jaehwan. Setelah sampai di depan pintu apartemen mahal milik Jaehwan dan ia membuka password pintunya, Jiyeon segera merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang besar dengan warna sprei abu muda, warna kesukaan Jaehwan. Sedangkan Jaehwan, melepas pakaiannya satu demi satu hingga ia memutuskan melilitkan handuk di bagian bawah. Jaehwan yang tampak sangat lelah setelah bekerja seharian di rumah sakit sebagai dokter spesialis jantung, kini tak merasakan lelah itu setelah melihat istrinya terbaring di atas ranjang pribadinya. Ia mendekati Jiyeon yang tengah menikmati pijatan kasur itu di punggungnya. Serasa seperti ada tangan yang memijat punggung Jiyeon saat tubuhnya direbahkan. “Kenapa tak melepas pakaianmu?” Jiyeon terkejut mendengar pertanyaan itu. Jari jemari Jaehwan telah bergerilya menelusuri paha mulusnya hingga ke atas. Dengan santai, Jiyeon menjawab,” Kau bisa membantuku melepasnya, kan? Bantu aku, ya?” Mendapat kode seperti itu, Jaehwan langsung melancarkan aksinya melepas semua pakaian Jiyeon hingga wanita cantik itu terbaring tanpa sehelai pakaian pun. Baru kali ini sebagai suami, Jaehwan melihat pemandangan yang sangat indah di depan matanya. Ia tak membutuhkan harta sebanyak apapun atau mobil semewah apapun. Asalkan ada Jiyeon yang selalu di sampingnya, ia tak kan pernah merasa ada yang kurang dari hidupnya. Dengan perlahan, Jaehwan menyentuh setiap bagian tubuh istrinya. Mencium lembut bibir tipis Jiyeon dan melanjutkannya hingga ke bawah, ke sumber kenikmatan seorang perempuan. Jiyeon sangat menikmati permainan suaminya di atas ranjang. Dia merasa seperti terbang ke angkasa ketika Jaehwan memasukkan senjata ke lubang kenikmatannya. “Aaakh...” Jiyeon tak kuasa menahan mulutnya untuk tidak mendesah. Yang dilakukan Jaehwan di bagian bawah tubuhnya membuat Jiyeon tak sempat membuka matanya. Terlalu nikmat. Malam itu Jaehwan dan Jiyeon menghabiskan waktu mereka untuk melakukan hubungan suami-istri layaknya pasangan lain. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk menikmati kenikmatan yang luar biasa itu. ..... Keesokan harinya, ponsel Jiyeon tak henti-hentinya berdering hingga memekakkan telinga. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat nama Mina di layar ponselnya. Pagi sekali kakaknya menelepon. Ini pasti karena ia tidak pulang ke rumah kemarin malam. Ya ampun, dirinya sudah dewasa tapi masih diperlakukan seperti anak kecil. Jiyeon yang masih dalam keadaan b***l dan dibalut dengan selimut tebal milik Jaehwan akhirnya menjawab telepon dari kakaknya. “Ada apa?” tanyanya dengan suara parau karena baru saja membuka mata dari lelapnya tidur. “Kau di mana?” tanya Mina. Bukannya menjawab pertanyaan Jiyeon, dia malah balik bertanya. “Aku tidur di rumah teman. Kemarin malam ada pesta kecil-kecilan untuk merayakan pasien kami yang berhasil sembuh dan sekarang sudah bisa meninggalkan rumah sakit. Aku hendak pulang tapi malam sudah larut. Jadi, aku putuskan tidur di rumah teman. Tenanglah, Kak. Aku baik-baik saja. Hari ini aku masuk siang. Jadwalku dimulai siang hari.” Penjelasan Jiyeon terdengar sangat meyakinkan. Tentu saja. Jiyeon tak pernah berani berkata bohong pada Park Mina. Jadi kakaknya pasti percaya begitu saja. Ini baru pertama kalinya ia berbohong pada Mina. “Maafkan aku, Kak. Aku juga berhak mendapat kebahagiaan dengan caraku sendiri,” lirih Jiyeon. “Siapa yang menelepon? Kakakmu?” “Ya Tuhan! Kau mengagetkanku!” Jiyeon memukul Jaehwan dengan bantalnya. Ia hampir saja loncat dari ranjang karena kaget mendengar suara parau dari suaminya. Jaehwan terkikik geli. Ia tak sengaja telah membuat istrinya kesal pagi itu. “Ayo bangun! Kau harus buatkan sarapan lezat untuk suamimu yang tampan ini.” .... Lee Namju duduk d kursi,i dalam ruang kerjanya dengan pikiran yang sangat kacau. Ia harus menyelesaikan masalah keuangan perusahaan. Namun bayang-bayang wajah Jiyeon terus saja menghantui isi kepalanya. Ada apa dengannya? Kenapa dia memikirkan Jiyeon terus? Sebuah pulpen berwarna metalik telah berada dalam genggamannya selama hampir satu jam. Ia ingin bekerja dengan tenang tapi kali ini pikirannya tidak bisa difokuskan pada satu hal. Yang harus dia lakukan adalah fokus pada pekerjaannya di perusahaan ayahnya itu. Dia harus bisa menjadi seorang direktur yang bisa diandalkan. Akan tetapi, pikirannya tentang Jiyeon tetap tak berubah. Bagaimana dia bisa mengerjakan tugas-tugasnya pada hari itu jika memfokuskan pikiran saja tidak bisa ia lakukan? Kriiiing! Dering ponselnya tentu mengagetkan Namju yang sedang melamun. “Kenapa harus menelepon di saat seperti ini?” gumamnya setelah melihat nama seseorang yang tertulis dengan sangat jelas di layar ponselnya. Namju tidak ingin menjawab telepon itu. Tapi jika dia tidak menjawabnya maka gadis yang namanya ada di layar ponselnya itu akan datang dalam waktu sepuluh menit. Klik! “Katakan ada apa kau meneleponku?” tanya Namju pada Yu Nara, gadis yang selalu merindukannya. Nara terkikik geli karena berhasil mengganggu Namju yang dipikirnya sedang sibuk bekerja. “Apakah aku sangat mengganggumu?” tanya Yu Nara datar. “Kenapa kau selalu seperti ini? Bertingkahlah layaknya gadis seusiamu. Jangan seperti anak kecil. Aku tidak suka!” ketus Namju yang langsung membuat Nara kecewa. Sebenarnya Yu Nara, teman Park Jiyeon itu tidak bermaksud membuat Namju kecewa padanya. Ia hanya bersikap manja supaya diperhatikan oleh laki-laki yanh dicintainya. Tetapi kenyataannya, sikap manja itulah yang justru membuat Namju merasa muak pada Nara. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi.” Nara kecewa, nada bicaranya lirih dan datar. Klik! Sambungan telepon ditutup sepihak oleh Nara. Gadis sebaya dengan Jiyeon itu merasakan sesuatu yang menusuk hatinya. Sakit namun tidak berdarah. Bertahun-tahun Nara mencintai Namju, pasca laki-laki itu putus dengan Mina. Hingga sekarang, Namju masih bersikap dingin padanya. Bukan karena tidak suka pada Nara, tetapi Namju tidak ingin memiliki hubungan dengan anak dari dokter spesialis jantung tersohor di Korsel itu. Ya, jarang ada orang yang tahu latar belakang Yu Nara. Ia adalah seorang anak dari dokter spesialis jantung terkenal di Korsel. Ayahnya bekerja di RS Diamond Group dan merupakan sahabat mendiang ibunda Jiyeon sejak kecil. Dokter Yu dan mendiang sangat akrab bahkan sudah seperti saudara kandung. Namju merasa sangat bersyukur karena akhirnya Nara memutus sambungan telepon itu. Saat ini dia ingin memfokuskan pikiran pada satu hal yaitu pekerjaannya. Namun bayang wajah Jiyeon malah semakin jelas terlihat di dalam otaknya. “Sial! Kenapa Jiyeon lagi yang muncul di pikiranku?” gerutu Namju yang sangat kesal pada dirinya sendiri. Ia membuang pena metalik yanh dipegangnya sedari tadi. ..... Beberapa jam setelah sampai di rumah sakit, Jiyeon terlihat sibuk mencatat rekam medis pasien, menggantikan tugas perawat yang seharusnya berjaga sore itu. Entah kemana perginya perawat jaga hingga dirinya yang harus mencatat rekam medis pasien dan memasukkan datanya di database rumah sakit. Pekerjaan itu sungguh membuat lelah. Ia harus mengerjakan pekerjaan perawat yang tidak seharusnya ia kerjakan. Tapi terpaksa ia kerjakan jika ingin menyelesaikan tugas hari itu. Jam shift sebentar lagi ganti. Shift malam dimulai pukul tujuh sore. Sedangkan saat itu jam dinding menunjukkan waktu pukul enam sore. Tok! Tok! Suara pintu ruangan tempat Jiyeon mengerjakan tugasnya terdengar diketuk dari luar. “Silahkan masuk!” seru Jiyeon dengan kedua netra masih fokus membaca rekam medis pasien terakhir di jam shift sore. Ceklek! Pintu terbuka. Jiyeon pun otomatis menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang ke ruangan itu. “Dokter Park! Dokter Yu ingin bertemu dengan anda jika anda sudah tidak ada pekerjaan yang penting.” Seorang perawat yang tidak dikenal Jiyeon mengatakan bahwa dirinya dipanggil oleh dokter spesialis jantung senior di rumah sakit milik ayahnya itu. Dokter Yu? Tanya Jiyeon dalam hati. “Baiklah. Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini sebentar. Jika sudah selesai, aku akan pergi ke ruangan dokter Yu.” Perawat itu tersenyum lallu undur diri kembali ke tempatnya. Entah di mana ruangannya, Jiyeon pun tidak penasaran. Satu jam kemudian. Tepat satu jam, shift kerja Jiyeon selesai. Ya, dia harus bekerja sesuai jam shift jaga seperti dokter pemula lainnya. Hal itu diberlakukan oleh pihak rumah sakit untuk melatih kedisiplinan calon dokter spesialis yang benar-benar profesional. “Ayo pulang,” ajak Jaehwan yang bersedia mengantarkan Jiyeon sampai di rumahnya. Jiyeon memasang raut wajah murung. “Aku harus menemui dokter Yu terlebih dahuku sebelum pulang. Kau mau menungguku?” Jaehwan memandang iba pada istrinya. “Baiklah. Aku akan menunggumu di ruang rawat kakek Hong. Malam ini adalah malam terakhirnya di rumah sakit.” “Aku pergi dulu, ya. Akan ku kabari lagi nanti.” Jiyeon berjalan menuju lift ke lantai satu. Sedangkan Jaehwan hanya menatap punggung istrinya yang mengenakan blouse warna pink muda. Tap! Tap! Tap! Suara pijakan sepatu Jiyeon pada lantai rumah sakit yang dingin terdengar semakin cepat. Ia sengaja mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di ruang kerja dokter Yu. Tok! Tok! Tok! Tanpa ragu, Jiyeon mengetuk pintu yang warna catnya berbeda dengan warna pintu kamar perawatan. Beberapa detik kemudian, seorang pria berusia sekitar 50 tahun membuka pintu dari dalam. Pria itu adalah dokter Yu, pastinya. “Park Jiyeon?” tanya dokter Yu memastikan bahwa wanita cantik yang berdiri di depannya adalah putri dari sahabatnya. Jiyeon menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk. “Wah, ternyata kau benar-benar mirip mendiang ibumu, ya.” Jiyeon merasa tersanjung. “Terimakasih, Dokter Yu.” “Oh iya, sebenarnya ada yang ingin bertemu denganmu. Mereka memaksaku memanggilmu kemari.” Dokter Yu mempersilahkan Jiyeon masuk ke dalam ruang kerjanya dan menunjukkan dua orang yang sedang ingin bertemu dengannya. Kedua bola mata Jiyeon terbelalak melihat siapa yang ingin bertemu dengannya. Yang satu adalah teman baiknya sedangkan yang satunya lagi adalah orang yang tidak ingin ditemui Jiyeon. Yu Nara dan Lee Namju. Kenapa ada Lee Namju di tempat itu? Pikir Jiyeon. Nara terlihat begitu antusias dan bahagia bertemu dengan Jiyeon setelah beberapa hari mereka bertemu secara tidak sengaja di bandara. “Senang bertemu denganmu lagi, Park Jiyeon. Ternyata kau bekerja di sini.” Jiyeon tak bisa menjawab dengan penjelasan atau apapun. Lidahnya terasa kelu tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya kecewa karena bertemu dengan Lee Namju di tempat itu. Sedangkan Namju, beberapa kali mencuri pandang agar dapat melihat sosok Jiyeon yang selalu mengganggu pikirannya. Sebenarnya apa maksud mereka memanggilnya ke tempat itu? Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN