Pagi-pagi sekali Sella dikabarkan jika Agnes masuk rumah sakit membuatnya bergegas ke rumah sakit. Sama sepertinya Agnes pun seorang diri jadi saat ini izinkan dia mengurus Agnes sebagai balas budi atas kebaikan Agnes kepada Sella.
Tak lupa pula membawa bubur untuk teman yang sudah dianggapnya seperti saudara. Letak rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja.
Sesampainya di sana Sella langsung mengarahkan kakinya ke meja resepsionis menanyakan ruang rawat inap Agnes. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya Sella bergegas membawa langkahnya mencari kamar yang dituju.
Mawar 021
Sella memasuki kamar yang masih gelap, mungkin juga Agnes sengaja mematikan lampunya karena yang Sella tahu Agnes tidak bisa tidur jika ada cahaya lampu yang artinya belum bangun. Sella membuka jendela agar udara pagi masuk membuat pertukaran udara rumah sakit. Sekuat tenaga dia berusaha mengeratkan maskernya bukan agar tidak dikenal, melainkan agar bau rumah sakit tidak tercium oleh hidungnya yang membuat Sella mual.
Penciumannya sangat sensitif akhir-akhir ini karena efek kehamilan.
Sella menyalakan lampu hingga terlihatlah kondisi ruangannya dan juga seseorang yang meringkuk di balik selimut.
Sella tidak berniat membangunkan Agnes. Dia menata makanan untuk temannya di dalam wadah yang tersedia.
Membenarkan posisi selimut yang melorot alhasil membuat Agnes terbangun.
“Eh? Maaf, ya, lo jadi bangun,” ujar Sella merasa tidak enak.
Agnes menggeliat, menguap lebar di hadapan Sella tanpa tahu malu. “Lo kapan datang? Sepagi ini, Sell? Pihak rumah sakit saja belum bangun lo malah udah patroli aja, sih! Mana masih dingin juga.” Agnes berceloteh panjang lebar yang tidak dihiraukan oleh Sella.
Sella tahu betul itu cara Agnes karena merasa tidak enak dengan dirinya. Kendati demikian Sella memilih duduk tidak mengindahkan ocehan Agnes, baginya sudah biasa.
“Gue bosan saja tiap hari lihat bunga sekali-kali, dong, lihat rumah sakit,” kata Sella tanpa beban. Tersenyum di balik maskernya.
“Gue tahu lo nggak nyaman, ‘kan?” tuding Agnes tepat sasaran.
“Gue merasa lo pura-pura sakit, ya? Nggak ada kesan lemah sama sekali di diri lo, Nes!” Sella berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Agnes melotot tidak terima. “Enak aja! Gue pingsan masih juga lo ragukan?!” debat Agnes tidak terima.
Sella terkekeh. Lega karena Agnes tidak lagi berulah. “Makan, gih! Gue buatin bubur ayam.” Sella memberikan mangkuk bubur ayam.
Agnes menerimanya dengan senang hati. “Nggak usah repot-repot segala kali, Sell. Gue tahu lo juga harus jaga diri. Ingat! Lo lagi hamil jangan capek-capek, ya!”
“Yang tahu capek apa enggak ‘kan gue. Lo mana tahu, sih!” bantah Sella.
Keduanya diam. Setelah makan Agnes kembali tidur karena dokter menyuntikan obat ke cairan infus yang membuat Agnes kembali tertidur.
Sella memutuskan untuk keluar mencari sesuatu untuk menghilangkan rasa mualnya. Dia butuh sesuatu yang asam. Langkah kakinya membawanya ke kantin. Di sana dia mendatangi stand makanan memesan jus mangga yang mungkin bisa meredakan rasa mualnya, meski hanya sesaat.
Sella duduk sembari memainkan ponselnya guna membunuh rasa bosan.
Tanpa dia sadari seseorang di meja seberang tengah memperhatikannya. Tatapannya yang menelisik membuat pria itu terus saja menatapnya tanpa berpaling, hanya saja dia tidak berani mendekati, hanya melihat dari kejauhan.
“Sella?” gumamnya lirih. Hanya gumaman namun, dalam benak dia hilangkan jika sosok wanita itu adalah istrinya.
Dari penampilannya sangat berbeda jauh dengan sosok istrinya, hanya saja wajahnya sangat mirip meski dipoles dengan make-up.
Dia Rishan, laki-laki yang ditinggal oleh istrinya. Dia di sini atas permintaan rekan kerjanya yang tak lain ayahnya Bella wanita yang membuatnya hancur, akan tetapi Rishan tidak bisa menolak begitu tahu wanita yang sempat mengisi ruang hatinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Kecelakaan yang dialami oleh Bella telah menguar di ranah publik. Bisnis membuat hal biasa menjadi luar biasa.
Kecelakaan yang disebabkan karena mobil hilang kendali hingga menabrak pejalan kaki sampai pingsan. Bella melakukan tabrak lari bahkan dengan teganya membuat si korban pingsan di tengah jalan sepi.
Sampai saat ini tidak diketahui siapa korban itu dan Rishan ditugaskan oleh ayah mantan tunangannya untuk mencari tahu. Mau tidak mau dia harus mencarinya, padahal kondisi hatinya saja sedang tidak baik.
Dia menatap wanita itu yang meninggalkan mejanya. Dari gerak-gerik yang dilihat oleh Rishan wanita itu menyadarinya. Meskipun baru mengenal Sella dia sudah mengetahui siapa itu istrinya sebenarnya. Melihatnya pria itu tersenyum misterius.
"Kamu mencoba untuk menghindari saya, Sella," batin Rishan terkekeh-kekeh.
Rishan mengikuti sosok wanita itu yang memasuki ruang rawat mawar. Belum sempat dia melihat pasien di kamar itu pintu sudah tertutup rapat.
“Lo dari mana, sih?! Bikin panik aja, Sell.”
Sella mendudukan tubuhnya di sofa yang tersedia. Mengikat rambutnya yang tergerai indah.
“Jangan berisik, deh! Gue capek banget asli.”
“Gue cuman ke kantin cari asem-asem gitu, deh. Mual banget,” jelas Sella perihal kepergiannya kepada Agnes yang mencemaskannya.
“Ya ... lo nggak bilang, sih!” dumel Agnes tidak kalah melotot.
Sella bersedekap. “Heh! Lo tidur gimana caranya gue pamit, Neng?” Agnes menyengir lebar.
“Hehe ....”
***
Setelah dari rumah sakit Sella tidak langsung pulang, melainkan ke toko bunga terlebih dahulu.
Sella tahu dan sadar betul seseorang yang berusaha dia hindari ternyata mengetahui keberadaannya. Sella pun tahu diikuti sampai di depan kamar rawat Agnes itulah kenapa dia merasa tertekan ketika Agnes banyak tanya perihal kepergiannya.
Saat di kantin pun dia tahu sedang diperhatikan, maka dari itu masker yang tadinya dia lepas kembali Sella pakai. Sella yakin Rishan sadar betul itu dirinya, terbukti dengan tatapannya yang tidak lepas.
Yang Sella tidak mengerti sedang apa Rishan di rumah sakit dan siapa yang sakit. Jika Rishan itu tidak mungkin karena tadi meski sekilas Sella tahu Rishan baik-baik saja.
Dengan kejadian seperti ini membuat Sella was-was jika akan keluar dari rumah.
Karena Sella tidak mau keberadaannya diketahui oleh Diantoro. Dia ingin hidup tenang dengan calon anaknya.
Tidak! Sella tidak egois, hanya saja dia tidak mau kejadian masa kecilnya terulang pada kehidupan anaknya kelak, apalagi mengetahui suaminya yang sama persis seperti ayahnya, Romli. Meskipun tidak memutus kemungkinan mereka akan sama, akan tetapi Sella tidak mau hidup dalam lingkar bisnis.
“Tenang Sella lo jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh!”
***
Sudah satu minggu Agnes berada di rumah sakit tepat hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang dengan catatan harus terus mengontrol kesehatannya seminggu sekali. Bukan apa-apa, hanya saja ditakutkan ada masalah dengan persendian karena tangan kirinya yang cidera. Ringan, sih, tapi apa salahnya mencegah, ‘kan?
Begitu pula dengan Sella yang bersiap menjemput temannya itu jam enam pagi sudah sampai, padahal udara sangat dingin. Gravitasi selimut lebih erat.
Sella mengeratkan jaketnya juga maskernya yang melorot. Memakai tudung jaket untuk menutupi rambutnya yang tergerai indah. Kali ini Sella sangat berhati-hati, meski perubahan telah dilakukannya masih saja ada yang bisa mengenalinya. Itu yang membuatnya was-was terlebih dia ingin menghindari seseorang yang bisa saja menjadi malapetaka untuknya.
Taksi berhenti di pelataran rumah sakit membuat Sella bersiap turun namun, sosok yang sangat dihindarinya berdiri tepat di pintu masuk membuat Sella mengurungkan niatnya.
Sella risau. Dia bingung hendak lewat mana. Tidak mungkin dia menerobos saat dengan jelas tubuhnya terlihat.
Dia mondar-mandir, tangannya merogoh tas mencari benda persegi panjang yang terus bergetar. Nama Agnes tertera di layar. Langsung saja dia angkat mendengarkan ocehan temannya tiada henti.
“Gue nggak bisa masuk, Nes. Lo keluar aja, deh, gue tunggu di gerbang aja,” ujar Sella memberitahu.
“Gimana ceritanya, sih? Lo nggak papa, ‘kan? Kenapa nggak bisa masuk? Ada tilangan?” Agnes bertanya heboh.
“Keluar, deh, ya, jangan lama-lama! Gue pegel, nih, berdiri lama.”
Panggilan Sella matikan seusai itu dia mencari tempat duduk yang kosong. Dia duduk di toko depan rumah sakit. Memilih memijit kakinya yang terasa pegal karena lama berdiri.
“Lama banget,” dengus Sella saat Agnes sampai di depannya.
Agnes mencibir temannya. “Lo kira gue nggak ngumpet keluarnya? Laki lo udah bertransformasi jadi satpam pintu, ya?” sinis Agnes menatap tajam sosok laki-laki yang masih setia bertengger di depan pintu masuk.
Sella mendengus mendengarnya. Suami siapa, sih? Dia mendadak ingin lupa saja.
“Tahu sendirilah! Bukan urusan gue juga.” Sella nampaknya tidak mau terlalu jauh menyinggung Rishan. Agnes memilih diam, meski dia sendiri penasaran dengan sosok Rishan yang berada di rumah sakit.
Tak tahu saja jika Rishan memang penasaran dengan penglihatannya waktu itu, makanya dia rela menunggu di pintu masuk. Melihat siapa saja yang datang. Dia berani menjamin matanya sudah berpencar dengan teliti, tapi tidak menemukan sosok yang sangat dia harapkan kehadirannya. Tidak masalah meski hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Serindu itukah? Atau Sella pun menahan rindu? Mereka saling merindukan dengan ego yang membentengi.
Iya, memang benar! Rishan sangat merindukan sosok Sella, meski pernikahan mereka ada karena sebuah perjanjian. Akan tetapi, dari awal Rishan menganggap Sella adalah istrinya. Istri sesungguhnya, bukan istri di atas kertas.
“Mampir dulu, ‘kan?” tanya Agnes saat mereka turun dari taksi. Agnes menerima uluran tangan Sella sebagai pegangan untuk menyeberang.
“Mampir sebentar, deh, ya, gue ingin meluruskan kaki. Pegal banget!” kata Sella mengeluhkan kakinya yang sering kali terasa pegal. Akhir-akhir ini dia sering berdiri dalam waktu yang lama. Sudahlah mau bagaimana lagi emang? Sella bukan anak presiden yang setiap hari ungkang-ungkang kaki dan maunya hidup makmur.
Lupakan saja perihal hidup makmur, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya menghindari pria itu yang sialnya ayah dari janin yang dia kandung.
Lagipula sudah benar Rishan terlihat dekat dengan wanita itu, tapi kini rasa khawatir kembali Sella rasakan. Takut ancaman Rishan waktu itu akan terbukti. Lagipula dia tidak memiliki tameng yang bersedia melindungi dirinya dari hadapan suaminya sendiri.
Arah pandangannya menatap Agnes yang sedang bersandar pada badan sofa. Selama ini Agnes yang menjadi tamengnya, tapi tidak selamanya Sella melibatkan Agnes terlalu jauh.
“Nes!” Panggilan Sella dijawab gumaman oleh Agnes dengan mata yang terpejam. Dia menatap Agnes yang kelihatan lelah. Lelah bukan karena sakit, entahlah Sella tidak tahu. Sepertinya tidak ada kesan kesakitan pasca keluar dari rumah sakit.
“Lo tahu siapa orang yang udah bikin lo celaka?” tanya Sella sekali lagi.
Agnes mengendikkan bahunya dengan acuh. Masih dengan mata yang terpejam erat dia berkata, “Gue nggak peduli siapa orangnya. Dari marga mana. Masih hidup atau udah mati. Yang jelas gue nggak ada urusan sama sekali. Biarin aja orang itu hidup bebas di dunia, di akhirat nanti dia bakal dikejar-kejar rentenir alam,” jelas Agnes panjang lebar.
“Rentenir alam? Siapa?” Alisnya berkerut samar pertanda sedang berpikir keras.
“Malaikat, ‘kan?” Sekonyong-konyong Agnes tergelak dengan jawab yang keluar dari bibirnya.
Sudah Sella katakan mereka itu saling melengkapi. Bisa menjadi dewasa di waktu-waktu tertentu saja, selebihnya mereka gila parah!
“Harusnya gue yang interogasi lo!” tekan Agnes membuka matanya. Tatapannya mengarah kepada Sella.