Luciana mengerutkan dahinya bingung saat memikirkan ulang ucapan dokter. Dokter mengatakan dengan jelas bahwa ia baik-baik saja. Dan walaupun Luciana mengatakan bahwa dadanya sakit disertai mual, ia hanya memberikan obat yang bahkan Lucy yakini tak membantu apapun. Mungkin ia harus mencari pendapat lain? Menghembuskan nafas, Luciana merapatkan mantelnya saat tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Fredge ada disini, pikir Lucy saat ia menaikkan kerudung dan menutupi rambut sewaktu berjalan di kerumunan. Dengan cepat Luciana melangkahkan kakinya dan rasa jijik tersebut terus bertahan di tubunya. Ia tak tahu dimana lelaki itu, tapi ia yakin itu Fredge. Lucy menatap sebuah kereta kuda hitam berbelok di tikungan dan menggunakan momen tersebut untuk kabur. Ia melongokkan kepalanya dan dugaannya

