Part 1

2093 Kata
London, 1810 Luciana Edinburgh belum pernah mengalami, merasakan atau bahkan melihat secara langsung bagaimana sebuah situasi rumit terjadi. Ia berpikir bahwa skandal dalam pesta hanyalah sebuah cerita yang dibuat oleh seseorang. Nyatanya, ia justru menjadi saksi bagaimana skandal tersebut terjadi. Niatan awal yang semula ingin bergegas ke kamar mandi malah berubah menjadi bencana sewaktu ia tersesat di rumah Sir Artemis. Kepintarannya dalam kehilangan arah patut diacungi jempol, bahkan setelah ia hidup di London seumur hidupnya. Dan kini ia malah melihat bagaimana skandal tersebut dimulai. Persis seperti tokoh utama wanita dalam novel sebelum akhirnya ia sendiri yang justru menjadi santapan skandal para bangsawan. Harapannya untuk menikah semakin hancur seiring kemungkinan tinggi seseorang menemukannya disini dan bukan di pesta. Semuanya terjadi sewaktu Lucy ingin membetulkan korsetnya, dan ia pergi ke toilet. Malangnya saat ia bertanya pada pelayan, wanita tersebut mengatakan bahwa kamar mandi berada di lorong. Lima pintu dari arah kanan. Lucy bersumpah ia sudah menghitung dengan tepat tiap pintu yang ia lewati, tapi entah bagaimana ia masih bisa tersesat. Bukannya sebuah kamar mandi, ia jutsru mendapati sebuah ranjang berukuran besar dengan rak panjang berwarna cherry di bagian samping. Lemari baju berkabinet besar dengan dua pintu bergagang perak, tembok bernuansa cream yang menyejukkan dengan tirai jendela tebal berwarna merah pucat yang dilengkapi dengan satu set meja dan sofa yang berada di dekat perapian. Menyadari bahwa ia salah masuk ruangan, Lucy mengumpat dan bergegas keluar saat mendengar suara lirih seseorang dari kejauhan disertai bunyi langkah kaki pelan namun mendesak. "Sial! Sial!" Ia menengok ke belakang dengan kalap dan mencari tempat persembunyian, takut dicurigai macam-macam oleh orang lain. Tak akan ada yang percaya pada Lucy kalau ia bilang ia tersesat. Dan terlalu sulit untuk menjelaskan pada mereka bahwa ia mudah tersesat. Wanita itu menjilat bibirnya yang kering saat ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar hebat. Tak memiliki pilihan lain, Lucy membuka pintu lemari baju, dengan cepat menggeser baju yang digantung ke tepian sudut dan memasukkan dirinya ke sana saat menutup pintu. Dan sedetik kemudian, ia melihat saat seorang wanita masuk ke dalam kamar tersebut. Lucy mengintip dari balik bagian bawah pintu lemari yang berongga dengan seksama saat wanita tersebut mulai melepaskan sarung tangannya. Dari sudutnya, ia hampir tak melihat apapun kecuali poster tubuh wanita itu yang kurus dengan belahan d**a rendah yang menampilkan kalung permata super besar miliknya. Mencoba menyipitkan mata, Lucy berniat melihat siapa wanita tersebut saat mendengar bunyi pintu terbuka. Ia menolehkan kepala dengan cepat dan menajamkan penglihatannya saat melihat sesosok pria lain datang. Seperti mimpi buruk yang benar-benar terjadi, wajah pria tersebut sepenuhnya tertutup oleh tangan si wanita. Wanita itu mencium pasangannya dengan serakah, seakan-akan menemukan air di Gurun Sahara. Tangan lelaki tersebut menangkup rambut wanita itu dan menarik beberapa jepit lalu menjatuhkannya ke lantai tanpa alas karpet. Pria itu mengubur wajahnya di d**a wanita itu saat ia menengok ke samping dan mengeluh nikmat sambil memejamkan mata. Lucy mengenali sosok itu sebagai Miss Seronia Burburry, wanita bermata hijau dengan bulu mata tebal yang menutupi tawa dengan tangannya. Lucy tak melihat apa manfaat dari melakukan hal tersebut kalau semua orang masih bisa melihat gigi wanita itu. Lucy sedang bersembunyi dibalik lemari baju, duduk di pojokan bawah dan menekuk kedua kakinya saat telinganya mendengar desahan nafas Miss Burburry dan seorang pria yang wajahnya terkubur di dalam rok wanita itu. Apakah mungkin itu adalah tunangannya? Sebastian Benedict, pengusaha Amerika yang misterius tersebut? Lucy melihat pria ini memiliki rambut pirang ikal, namun pundaknya tampak menurun dan ia memiliki potongan jas sempit yang menunjukkan lelaki itu memiliki bahu yang biasa saja. Ia mengintip melalui celah sempit kayu yang terbuka saat wanita muda tersebut mencium pria itu sewaktu keduanya merapat ke tembok. Lucy menghembuskan nafas sepelan mungkin, dan menelan ludah gugup. Ia lebih suka berada di luar, memanjat pohon dengan gaun tidur miliknya sendiri daripada berada dalam situasi memalukan ini. Ya Tuhan, kakinya terasa mati rasa. Dan ia memejamkan mata saat desahan itu semakin terdengar. Demi segala roti Perancis, apakah Sir Artemis atau orang lain tak ada yang mencari wanita malang tersebut? Bukankah dalam setiap cerita ada saja satu atau dua orang yang mendengar desahan ini? Miss Burburry seharusnya memiliki pendamping, tapi dimana wanita itu berada ia tak tahu. Dan bagaimana bisa mereka saling berciuman di bawah atap rumah orang lain? Apakah mereka benar-benar tak mampu mengendalikan gairahnya sendiri? Lucy memilih memejamkan mata dan menutup rapat telinganya. Tapi ia malah mendengar serentetan bunyi korset dibuka dan nafasnya kembali tersendat saat melihat Miss Burburry sudah melepaskan korsetnya. Bella! Cepat cari aku! pikirnya histeris sambil membayangkan temannya akan datang mencari. Lucy menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tidak bergerak seinci pun sementara kedua pasangan tersebut semakin dimabuk gairah. Ia ingin keluar, tapi tak ingin menjadi saksi sebuah skandal. Tapi kalau ia tak keluar, kemungkinan ia akan kehilangan kedua kakinya. Apapun pilihannya, semua sama saja. Seharusnya Lucy tetap disana, bersama Bella menikmati puding. Menatap temannya yang selalu diajak berdansa sementara tak ada pria yang mau mengajaknya. Kartu dansa Bella selalu penuh, sementara Lucy kosong. Hal yang bisa dimengerti mengingat Bella White adalah wanita tercantik sementara Lucy hanya wanita biasa. Belum lagi ia mengenakan kacamata dan memiliki bintik di wajah. Hal yang dianggap cacat bagi para bangsawan. "Apa yang sedang kalian lakukan?!" sebuah suara mengejutkan mereka semua dan membuyarkan lamunan Lucy hingga kepala wanita itu terantuk dan membuat bunyi kayu berdebam. Lucy kira ia sudah tertangkap basah karna mengintip tapi tampaknya Miss Burburry dan pasangannya terlihat luar biasa kaget saat mencoba menutupi kulitnya sehingga tak bisa mendengar bunyi tersebut. Lucy mengintip dan melihat seorang pria mendekat. Ia mengenakan rompi gelap dan kemeja berwarna ungu pucat. Lelaki itu mengenakan manset abu-abu dengan hiasan kancing rantai tiga susun. Jas hitam dan celana biru tua melengkapi penampilannya yang hampir tak tercela. Hampir. Pria itu memiliki rambut yang berwarna gelap tebal, yang disisir ke belakang dengan sangat bergaya. Sementara kulitnya berwarna tembaga emas kecoklatan, berkilau dibawah sorot lampu dan pendar cahaya. Ia memiliki rahang kuat, mulut yang lebar dan hidung yang kokoh tapi sedikit bengkok ke samping. Pastinya karna perkelahian. Lucy sudah sering melihat hampir semua jenis perkelahian dan ia tahu bengkok di hidung lelaki itu disebabkan tinju. Mungkin hidungnya pernah patah. Dari balik bajunya, Luciana bisa melihat bahu bidang lelaki itu yang selebar pintu. Pundak dan dadanya tercetak jelas di balik kemewahan baju tersebut. Tapi tak memyembunyikan kepadatan otot yang menyembul. Kemarahan tercetak jelas di wajahnya saat tangan pria itu terkepal. Mata lelaki itu hitam, seperti burung gagak saat menatap pasangan tersebut. Tak ada unsur apapun kecuali niatan membunuh di dalamnya. Alis tebal rapi miliknya berkerut sempurna. Pria itu tampan, jenis pria yang memiliki aura mendominasi dengan gaya aristokrat miliknya. Bahkan dengan hidungnya yang patah ia masih tetap tampan. "Se... Sebastian..." bisik Miss Burburry pucat seakan seseorang menyuruhnya berjalan ke tiang gantungan. "Ak...aku bisa menjelaskan." Ah jadi lelaki itu bernama Sebastian, pikir Lucy saat mengangguk-anggukan kepalanya. Tapi tunggu! Kalau tamu yang memergoki mereka adalah Sebastian, lalu siapa pria yang mendesah-desah bersama Miss Burburry?! Ya Tuhan ini bukan hanya skandal! Luciana Edinburgh baru saja mencatat prestasi saat melihat affair! Sebastian mendekati keduanya dan menatap mereka dingin. "Sebaiknya kalian memberi penjelasan kenapa kalian melakukan tindakan tak terhormat ini." "Sebastian, aku bisa menjelaskan," ulangnya saat suara wanita itu gemetar hebat dan kedua bola matanya membulat sempurna. "Tentu. Mereka akan melakukannya, di ruang kerjaku," sambung Sir Artemis yang ternyata ikut berada di belakang Sebastian. Skakmat, pikir Lucy kasihan kepada wanita itu. Apapun hasilnya pasti akan buruk. Wanita yang terlibat skandal diharuskan untuk menikah sesegera mungkin untuk memperbaiki apa yang tersisa dari secuil kehormatan mereka. Tapi dipergoki oleh tuan rumah dan tunangannya sendiri jauh lebih memalukan. Kedua pasangan tersebut tampak muram dan wajahnya menjadi gelap sewaktu mengikuti mereka ke luar. Terima kasih Tuhan, aku aman. Lucy menunggu dengan sabar saat semuanya keluar dari kamar tersebut. Setelah yakin situasi aman, ia membuka pintu lemari dengan perlahan dan berdiri sebelum membuka pintu. Wanita itu bernafas dengan lega, membuat dadanya terangkat naik. Memutuskan bahwa sekarang waktu yang tepat untuk bergabung ke pesta, Lucy menjaga ekspresinya tetap datar saat bergabung ke pesta dan duduk di kursinya saat Bella menatapnya panik. "Kenapa kau lama sekali?" "Banyak yang menggunakannya," kilah wanita itu berbohong sebelum menyesap tehnya dengan anggun. Ia mengambil balok gula dan mengaduk teh tersebut agar terasa manis. "Kau tahu apa yang baru saja terjadi?" "Tidak." "Miss Burburry tertangkap basah sedang melakukan tindakan tak senonoh dengan salah satu tamu," ucapnya saat Lucy tersedak teh dan terbatuk kecil beberapa kali. Bella menyerahkan saputangan beraroma saat Lucy membersihkan sisa nodanya dan mengusap teh di bibir.  "Bagaimana kau tahu?" "Aku mencium aroma skandal saat melihat mereka turun. Dan kau tahu siapa pria yang terlibat skandal tersebut?" tanyanya lagi dengan gaya mendramatisir. "Tidak," nah ini baru jawaban jujur. "Sir Fredge, salah satu bangsawan yang ingin menjadikanmu simpanannya." Kali ini Lucy mengerutkan alisnya bingung dan memelankan suaranya hingga hanya mereka yang mendengarnya. "Pria kurang ajar tersebut? Kau yakin?" Fredge dan Miss Burburry? Apakah Bella tak salah melihatnya? Fredge pria kurus yang bahkan tak bisa mengangkat pedang dan Miss Burburry yah... jelas kalau dikatakan wanita itu memiliki suara desahan yang menjelaskan sebesar apa gairahnya. "Iya. Oh aku sudah ingin menamparnya saat dia berkata ingin menjadikanmu simpanannya. Sekarang lihat apa yang ia dapatkan." Lucy tersenyum lebar dan setuju atas hal tersebut. Pria itu memang tak tahu malu dan sangat congkak. Ia mendatangi Lucy suatu kali di sebuah pesta dan mengajaknya berdansa, untuk pertama kali setelah akhirnya ia tampil selama 4 season di London. Tapi bukannya bersikap seperti gentleman, ia terang-terangan bertanya berapa harga Lucy. Lelaki itu ingin memilikinya, tapi hanya di atas ranjang bukan sebagai suami istri katanya. Lucy menampar pria tersebut dan berlalu pergi. Terhina atas komentar merendahkan tersebut. Ia tahu ia memang sudah jatuh miskin dan bahkan mereka menjual rumahnya lalu tinggal bersama dengan neneknya. Tapi ia masih ingin menjadi istri seseorang, ditambah ia memiliki darah bangsawan di tubuhnya. Semua dimulai saat ayahnya seorang pedagang yang cukup sukses sementara ibunya seorang putri bangsawan. Hidup mereka dulu cukup stabil sebelum ayahnya meninggal dalam perjalanan kembali. Ibunya larut dalam kesedihan dan menjadi sakit-sakitan. Lucy tak bisa lagi membayar pegawai, dan ia memecat mereka semua. Ia menjual beberapa aset mereka untuk biaya pengobatan ibunya. Tapi tak berarti kemiskinan membuatnya ingin meraih jalan sukses dengan cepat. Walaupun ia miskin, ia masih seorang bangsawan. Dan ia tak ingin menjadi simpanan disaat ia bisa menjadi seorang istri. "Aku senang dia mendapat hukumannya," ungkap Lucy jujur saat Bella mengangguk setuju. "Aku juga. Aku yakin mereka berdua akan menikah dalam minggu ini sebelum rumor semakin menyebar." "Masyarakat kita haus akan gosip. Tak perlu waktu lama untuk membuktikannya." Dan tepat seperti yang Lucy katakan, rumor tersebut menyebar dengan cepat seperti api yang membakar sebuah rumah. Kabar Miss Burburry dan Sir Fredge menjadi gosip hangat keesokan paginya. Terutama untuk para kalangan dowager. "Apa kau mendengar yang terjadi di pesta Sir Artemis semalam?" "Ya aku mendengarnya," timpal yang lain saat mengusap kucing putih miliknya yang duduk diatas rok muslin wanita itu. "Gaun Miss Burburry sudah merosot ya kan?" tanya salah satu yang lain sambil berdecak tak sabar dengan tatapan menegur. "Bagaimana bisa mereka melakukannya di kamar putri sir Artemis?" "Sir Artemis langsung menyuruh arsitek mengubah desain kamar tersebut. Bagaimana bisa putrinya tetap tinggal disana saat terjadi skandal?" "Aku juga akan melakukan hal yang sama," timpal yang lain. "Mereka akan menikah ya kan?" "Tentu saja. Apalagi pilihan yang mereka punya," ia menyesap tehnya dengan anggun. "Kudengar Miss Burburry sudah bertunangan." "Dengan siapa?" "Sebastian Benedict." "Siapa pria tersebut?" tanyanya saat nama pria tersebut terdengar asing di telinganya. "Aku tak terlalu mengenalnya tapi dia seorang pengusaha." "Malangnya. Pria itu pasti merasa kecewa karna tunangannya berselingkuh dengan pria lain," ujarnya bersimpati saat yang lain mengangguk setuju. "Tentu saja. Tak ada yang lebih menyedihkan daripada dikhianati." "Aku setuju. Tapi aku tak mengenal Sebastian Benedict, apa ada dari kalian tahu?" "Aku tak tahu. Bagaimana kalau kita ke Madam Shirley untuk bertanya?" Salah sati dari mereka mengusulkan dengan cepat. "Aku tahu. Tak ada informasi yang tak wanita itu ketahui." "Aku harap Sebastian kaya, aku ingin menikahkan putriku dengannya." "Bagaimana kalau wajahnya dibawah standart?" tanya dowager tersebut geli. "Aku tak masalah dengan itu selama ia kaya." "Putrimu yang akan menikah, bukan kau." "Ia akan menjawab hal yang sama." Sayangnya bahkan madam Shirley, yang dikenal sebagai informan tersohor di Eropa pun tak tahu secara mendetail siapa Sebastian Benedict. "Pria itu datang begitu saja saat pesta akhir musim tahun lalu. Aku secara pribadi bertanya pada Earl Collins, dan dia hanya mengatakan bahwa Mr. Benedict seorang pengusaha Amerika." "Mungkinkah Mr. Benedict adalah salah satu teman Collins selama mereka berada di Paris?" "Aku menduga seperti itu," jelas Madam Shirley sambil menyesap tehnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN