Part 6

2069 Kata
Sebastian sedang bermain billiard dengan temannya saat gangguan tersebut datang. Lelaki itu sedang menatap bola yang berada di atas meja, menimbang-nimbang arah dan kuatnya sodokan saat terdengar ketukan di pintu. Mereka sedang mengadakan kompetisi saat pelayan tersebut mengetuk pintu dan membungkuk hormat. "Maafkan saya Your Highness. Tapi anda memiliki tamu." Sebastian menarik alis bingung dan menaruh tongkatnya di pinggir meja. Sikap lelaki itu santai tapi nada suaranya menyiratkan ketidaksukaan karna diganggu. "Aku yakin aku tak memiliki janji dengan tamu manapun Goose." Goose mengambil nafas dan menatapnya was-was, "Mereka berdua tamu yang tak diundang Sir." "Siapa?" "Miss Bella White dan Miss Luciana Edinburgh. Saya meminta mereka menunggu di perpustakaan sementara pelayan sedang menyiapkan kue." Tunner bersiul dari belakang saat memegang pinggangnya. Lelaki itu menaruh tongkat panjang tersebut di samping saat melirik ke arah Sebastian yang muram. "Calon istrimu kemari rupanya." "Aku tak paham kenapa Miss Edinburgh juga ikut." "Sepanjang ingatanku," mulai Tunner sewaktu mengetuk-ngetukkan bagian samping kepalanya dengan telunjuk. "Miss White sangat akrab dengan Miss Edinburgh." "Miss Edinburgh wanita pengeruk harta itu kan?" tanya Sebastian memastikan saat temannya mengangguk lagi. "Itu benar. Dia bahkan menjadi simpanan seorang pria, yang usianya beberapa kali lebih tua. Seseorang melihat saat pria tersebut masuk dan keluar dari rumahnya." Weels, yang selalu tak suka mendengarkan gosip menarik alis tinggi dengan tatapan datar ke arah Tunner. "Jangan menjadi penyebar rumor Tunner." Tunner menatapnya geli. "Sayangnya aku tidak melakukan itu. Sudah ada orang yang lebih dulu melakukannya." Collin memilih memotong ucapannya. "Tak baik membuat seorang wanita menunggu lama. Kau harus menyambutnya Sebastian." "Aku akan menemui mereka. Sebaiknya kalian disini," ujar Sebastian membenarkan saat Tunner menyengir lebar. "Dan melewatkan kesempatan bertemu Miss White? Tak mungkin." "Apakah kalian tidak bersikap keterlaluan dengan mengejutkan kedua wanita muda tersebut?" tanya Collin dengan sangat sopan saat Tunner menjawab geli. Lelaki itu dengan bijak menyeringai tak tahu malu. "Aku yakin Sebastian sudah melakukannya saat melamar Miss White." Sebastian sendiri tak mengerti kenapa Miss White sengaja datang kemari. Apa ini karna lamaran tersebut? Apa wanita itu ingin menundanya? Atau bertanya alasan mengapa Sebastian memilihnya? Apapun itu ia akan tahu setelah menemui Miss White. Sebastian dan ketiga temannya menuju ke ruang perpustakaan. Tunner berbisik sambil tersenyum geli. "Pastikan kau tidak meneteskan air liurmu." "Aku pernah bertemu dengannya dan aku tidak meneteskan air liurku." "Belum," ralatnya mantap sebelum mereka tiba di depan pintu besar. Sebastian mengangguk dan pelayan membukakan pintu sewaktu ia menatap seorang wanita berambut hitam legam dengan kulit seputih s**u dan bibir secerah warna strawberry, yang sedang duduk di sofa. Tak salah kalau Miss White memang wanita tercantik. Alisnya melengkung indah seperti gerhana bulan, bola matanya gelap dengan bulu mata lentik. Hidungnya mancung sempurna dan ia memiliki rahang yang indah. Sikap wanita itu anggun dan tak tercela saat ia bangkit berdiri dan tersenyum ke arahnya melalui kipas berbulu. Sebastian mendekat dan membungkuk sopan, "Mr. Benedict, siap melayani anda." Ketiga temannya juga melakukan hal yang sama saat saling memperkenalkan dirinya. Seandainya Bella terkejut atas sambutan yang diberikan, wanita itu sama sekali tak menunjukkannya. Ia malah menatap ketiganya dengan tatapan biasa sebelum menatap Sebastian dengan mendesak. "Maaf atas gangguan yang mendadak ini, tapi tujuanku kemari untuk menjernihkan beberapa pertanyaan." "Tentu saja. Anda dipersilahkan bertanya." Miss White tersenyum dan mencoba menengok ke belakang, ke arah deretan rak buku yang tersusun rapi hingga ke bagian ujung. Sebastian memperhatikan gerak-gerik tersebut saat dahinya berkerut halus. "Apa yang anda cari Miss?" "Temanku. Dia sedang membaca buku dan sepertinya lupa akan keberadaan tempat ini." Sebastian mengangguk kaku, "Aku akan mencarinya untuk anda." "Aku saja," ujar Weels sebagai sukarelawan. "Lagipula ada buku yang harus kucari." Sebastian tahu itu hanya alasan Gilbert untuk menghilang dari sini. Lelaki itu jelas tak bisa bersikap layaknya bangsawan. Ia tak bisa berbasa-basi atau mencoba melakukannya. Bella menatap dua teman Sebastian ragu dan lelaki itu mengerti. "Kalau tidak keberatan, saya menginginkan privasi." Keduanya pergi, setelah selesai menyapa Bella dan meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka. Demi menjaga kehormatan wanita itu. Sebastian duduk di kursi terjauh sewaktu Bella membuka mulutnya. "Mr. Benedict, ada yang harus kukatakan padamu." "Apa?" "Bisakah kau menarik minatmu terhadapku?" tanya wanita itu terus terang yang mengejutkannya. Sebastian menatapnya lambat sementara pikirannya berputar. Ia belum memprediksi hal ini jadi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki itu mengambil nafas dalam dan tersenyum kepadanya. "Miss White, bisa jelaskan padaku mengapa kau tak menyetujui pernikahan ini?" "Aku sama sekali tak tahu apapun tentang anda," jawabnya cepat. "Kita bisa saling mengenal setelahnya," bantah lelaki itu. "Kau baru saja berpisah dengan Miss Burburry." "Tepatnya dicampakkan," ralat pria itu halus. "Aku ingin menikah dengan cinta," balas Bella berbohong sementara ia bisa melihat keterkejutan diwajah Sebastian. Tapi lelaki itu menguasai emosinya sepersekian detik dan ia kembali memasang wajah ramah. "Aku bisa membuatmu mencintaiku Miss White." Bella mengumpat dalam hati saat mati-matian mempertahankan sikapnya. Ia menggeleng dan memilih untuk bersikap jujur, "Aku tak mau menikah denganmu." Itu, adalah kalimat penolakan dan paling jelas sejauh ini. Bella menelan ludah gugup sementara Sebastian terpaku disana dan mengerjapkan bulu matanya. Lama setelahnya, Sebastian membuka mulut dengan berat. "Sayangnya kau mungkin tak memiliki pilihan Miss. Ayahmu, terdengar sangat senang sewaktu pelayanku datang dan menyampaikan niatku." "Aku tak mau," ulang Bella dengan penuh ketegasan dan kekerasan hati. Sebastian juga tak memiliki pilihan lain. Ini bukan seperti ia bisa bernegosiasi dengan ayahnya. "Miss White, maaf kalau aku bersikap tak sopan. Tapi, kekayaan ayahmu lambat laun berkurang akibat hobinya. Aku bisa membantumu mengatasi jalan keluar dari masalah ini asalkan kau... Auw!" Bertepatan dengan rintihan Sebastian, sebuah buku puisi Perancis mendarat tepat di sisi samping kepalanya, membuat kepala pria itu berdengung saat ia mengerjapkan bulu matanya. "Siapa itu?!" "Aku! Aku yang memukulmu!" Sebastian berbalik dan menatap wanita dengan rambut pirang dan mata hijau miliknya tengah membalas tatapannya. Wanita itu memiliki bintik di wajah, dan mengenakan kacamata dengan bingkai polos. "Lucy!" pekik Miss White kaget saat melihat temannya. Luciana berdiri di belakangnya, dengan mata berkobar penuh amarah dan sebelah tangan yang memegang tepian buku. Weels terlalu terpana atas tindakan tersebut dan hanya bisa berdiam di tempatnya. Lucy menatap Sebastian nyalang sambil memutari sofa dan melempar buku ke sana saat berdiri membelakangi Bella. Alangkah terkejutnya dia saat tahu bahwa ayah Bella sedang mengalami kebangkrutan. Jadi itu menjelaskan mengapa sikap Bella yang seperti ini. Sementara nada Sebastian menyiratkan bahwa wanita itu harus menerima tawarannya, suka atau tidak, dengan cara yang paling rendah. Tersulut emosi,ia mengambil sebuah buku dan memegangnya erat saat memukul Sebastian. "Dan siapa kau?" "Luciana Edinburgh." "Miss Edinburgh, aku akan memberikanmi waktu 30 detik kedepan untuk memberitahuku alasan paling masuk akal mengapa kau memukulku, dirumahku sendiri." Lucy tersenyum dingin. "Aku tak butuh 30 detik. Kenyataan kau merendahkan temanku saja sudah membuatmu pantas mendapatkan pukulan tersebut." Sebastian menatap wanita berambut pirang tersebut dengan bintik diwajah dan kacamata tergantung di puncak hidungnya. Ia tak tahu wanita ini adalah Luciana Edinburgh. Sebastian tak pernah berbicara atau bahkan mengajaknya berdansa di dalam pesta.  Ia hanya tahu wanita itu selalu duduk di sudut dan hanya memperhatikan orang-orang. Wanita pengeruk harta, itulah cap yang tertempel padanya. Sebastian memegang kepalanya dan menghembuskan nafas penuh kesabaran. "Di bagian mana aku merendahkan Miss White?" "Disaat kau mengatakan bahwa ia akan jatuh miskin. Dan tawaranmu untuk mengatasi hal ini adalah pernikahan. Kau berkata seolah-olah bahwa hanya kau yang biaa membantunya." "Tapi itu benar," balas lelaki itu balik saat Lucy menatap kesal ke arah Weels. "Maafkan aku, tapi apakah dia memang selalu seperti ini?" "Kadang-kadang." Sebastian melongo tak percaya saat melihat cepatnya Gilbert dan Lucy yang tiba-tiba menjadi akrab. "Kau tak bisa setia dengan satu sisi ya?" Gilbert mengendikkan bahunya, "Aku hanya menjawab pertanyaan seorang wanita." "Yang baru saja memukul kepalaku," timpalnya. Ia menatap Gilbert kesal sebelum kembali ke arah Luciana yang sukses menutupi sosok Bella. "Miss Edinburgh, aku percaya bahwa Miss White lebih berhak menolakku. Atau bahkan memukulku." "Bella terlalu bangsawan untuk melakukan itu," balasnya datar. "Lagipula, itu hanya sebuah pukulan dari tangan seorang wanita yang lemah." Sebastian melontarkan tatapan tak percaya. "Baiklah. Jadi alasanmu memukulku karna aku menghina Miss White? Kalau begitu aku minta maaf." "Dimaafkan. Ayo Bella." "Tapi anda masih belum meminta maaf," lanjut Sebastian saat menatapnya dengan tatapan berbahaya. Lucy menghentikan langkahnya dan mengerjapkan bulu mata gugup. "Anda pantas mendapatkan itu." Sebastian tersenyum malas dan mendekatinya, membuat Lucy menelan ludah dan menatap cemas. Bagus, memang itu yang Sebastian inginkan. Lelaki itu sengaja berdiri di depannya dan menundukkan kepala sewaktu Lucy membuang wajah ke samping. "Aku yakin aku perlu mendapatkan permintaan maaf dari anda kan, Miss Edinburgh?" Jemari kaki Lucy berkerut di dalam sepatunya. Mata hitam lelaki itu seakan menyiksanya. Membuat perasaan aneh yang menggelenyar di dalam tubuh Lucy. Sebastian sendiri menatap sisi samping wajah Lucy dan melihat beberapa ikal rambut yang terlepas dari pita. Wanita itu memiliki cekungan leher yang cukup dalam sewaktu ia menarik nafas. Sebastian penasaran apakah cekungan tersebut akan terasa manis bila ia menyesapnya. Terkejut oleh pemikiran itu, Sebastian menarik diri dan meluruskan punggungnya sewaktu berdehem. "Saya menunggu Miss." Lucy menundukkan kepalanya. "Saya akan meminta maaf pada Anda, tapi nanti." "Tepatnya nanti itu kapan?" tanya Sebastian balik. "Kau bilang kau bisa membuat Bella mencintaimu kan? Maka buktikanlah." "Lucy!" pekik Bella kaget saat temannya terus melanjutkan. "Kau dan Bella, setidaknya kalian harus saling mengenal sebelum benar-benar memutuskan pernikahan tersebut." Sebastian menatap ke arah Bella, "Kau menginginkan itu Misa White?" Bella melongo dan menatap Lucy, tapi temannya mengangguk dan saat ia hendak membantah, sebuah ide brilian muncul di pikirannya. "Ya. Saya ingin melakukannya. Seperti yang ku katakan, aku ingin menikah karna cinta dan kalau kau bisa membuatku mencintaimu, aku akan menikah denganmu." "Maka terjadilah." "Apa?" seru kedua wanita tersebut kaget. Tak menyangka Sebastian akan menyetujuinya semudah ini. Lelaki itu mengangguk seakan itu bukan masalah besar. "Kapan kau ingin pesta itu dilakukan?" "Lebih cepat lebih baik," jawab Bella sementara Lucy melongo menatap temannnya. Bukankah mereka sudah setuju dua bulan dari sekarang? Lalu ada apa dengan lebih-cepat-lebih-baik itu? "Baiklah. Ada lagi?" tanyanya seakan-akan mereka sedang minum teh dan bukannya membahas pernikahan. "Aku ingin mengundang beberapa temanku." "Aku setuju." Bella meremas jarinya sendiri sebelum memaksakan diri untuk tersenyum. Ia menyengol lengan Lucy dan teringat bahwa Lucy belum meminta maaf. Wanita itu terlihat sedikit bersalah walaupun sepertinya tidak menyesal saat memukul kepala Sebastian. "Maafkan aku. Aku melewati batas." "Dimengerti." Ia mendekati Bella, meraih tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya dibalik sarung tangan berenda saat mengintip reaksi Bella yang datar. "Saya akan menyiapkan pestanya dan mengirimkan undangan pada anda." "Semoga anda tak akan kecewa nantinya," balas Bella saat lelaki itu tersenyum dan membungkuk sopan. "Aku akan mengantar anda keluar Miss Edinburgh," ujar Weels mengejutkan saat Lucy menengok ke belakang. "Anda sungguh sangat baik Mr. Weels, tapi itu tak perlu. Saya akan bersama teman saya." "Kalau begitu ijinkan saya mengantar anda hingga ke depan." Lelaki itu berjalan melewati Sebastian dan tiba di samping Lucy saat wanita itu mengangguk. Sebastian menatap temannya muram dengan pandangan bingung. Gilbert benar-benar mengantar Lucy ke depan dan menunduk saat menatapnya. "Semoga anda selamat sampai di tujuan Miss Edinburgh." "Terima kasih." Lelaki itu menunggu hingga kereta keluar dari estat dan masuk ke dalam saat Sebastian melipat lengan di d**a. "Apa itu tadi?" "Apa itu tadi apa?" tanya Gilbert balik. "Kau bersikap baik pada seotang wanita Gill," jawabnya dengan nada aku-melihat-seorang-wanita-lari-dengan-pakaian-dalam. James yang juga melihat hal itu, bahkan tak bisa untuk tidak berkomentar sewaktu bergabung bersama mereka. "Kau hanya bersikap baik pada ibu dan juga adik perempuanmu." "Kau menatap dingin setiap wanita yang mendekatimu," imbuh Kevin. "Jadi bagaimana bisa kau dekat dengan wanita tersebut?" Gilbert menatap ketiga temannya dengan tatapan datar saat ia mencoba menjelaskan. "Ini mungkin terdengar luar biasa konyol dan dibuat-buat. Tapi ternyata ayah Miss Edinburgh salah satu penyuplai toko permenku sewaktu aku merintis usaha ini." "Jadi kau dekat dengannya karna itu?" tebak Sebastian sewaktu temannya mengangguk. "Dan dia pintar. Tidak penuh kepura-puraan seperti gadis muda pada umumnya. Kami juga kebetulan menyukai buku." "Dan kau bisa tahu itu semua hanya dari sekali pertemuan?" "Aku pebisnis. Aku belajar menilai karakteristik seseorang. Dan dari pandanganku, Miss Edinburgh tidak terlihat seperti wanita pengeruk harta atau bahkan simpanan."  James menatapnya menyelidik, "Kau baru melihatnya hari ini. Terlalu cepat menyimpulkan." "Aku tahu apa itu bahaya saat aku melihatnya Collin, dan Miss Edinburgh sama sekali jauh dari kata bahaya. Sebaliknya Miss White lah yang demikian." Sebastian mengangkat bahu dan mengabaikan hal tersebut sebelum ia mulai berpikir untuk membuat pesta. Semakin cepat ia menikahi Miss White akan semakin baik. _____________________________________________ Suka cerita ini?  Kalau suka dukung penulisnya dengan cara ini ⬇️⬇️⬇️ Pencet bintang ⭐ Pencet ikuti FoxyRibbit Ketik komentar Follow IGku Livia_92 buat spoiler Ditunggu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN